
Ilustrasi Dissociative Identity Disorder (DID)/kepribadian ganda (Northeastern University College of Science)
JawaPos.com - Dissociative Identity Disorder (DID) atau yang kerap dikenal sebagai kepribadian ganda masih menjadi salah satu gangguan kesehatan mental yang paling kompleks dan sering disalahpahami masyarakat. Gangguan ini ditandai dengan munculnya dua atau lebih identitas berbeda dalam satu individu, di mana masing-masing identitas dapat memiliki pola pikir, emosi, hingga perilaku yang tidak sama.
Kondisi ini bukan sekadar perubahan suasana hati, melainkan gangguan serius yang memengaruhi kesadaran dan kontinuitas identitas seseorang. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam sumber dari RS Pondok Indah, yang menekankan bahwa DID berkaitan erat dengan gangguan integrasi identitas dan memori.
Individu dengan DID sering kali tidak menyadari perpindahan identitas yang terjadi dalam dirinya. Pergantian identitas ini dapat berlangsung tiba-tiba dan disertai dengan hilangnya ingatan terhadap kejadian tertentu. Halodoc menjelaskan bahwa DID merupakan bentuk gangguan disosiatif yang muncul sebagai respons psikologis terhadap tekanan dan trauma berat, terutama yang dialami sejak usia dini.
Lebih jauh, gangguan ini kerap luput terdeteksi karena gejalanya menyerupai gangguan mental lain seperti depresi atau gangguan kecemasan. Padahal, DID memiliki karakteristik khusus yang membutuhkan penanganan profesional jangka panjang. Tanpa pemahaman yang tepat, penderita berisiko mengalami stigma, salah diagnosis, serta keterlambatan penanganan yang berdampak pada kualitas hidup mereka.
Penyebab Dissociative Identity Disorder (DID)
1. Trauma Masa Kecil yang Berat
DID sangat erat kaitannya dengan pengalaman traumatis di masa kecil, seperti kekerasan fisik, emosional, atau pelecehan seksual. Trauma ekstrem ini mendorong individu membentuk identitas alternatif sebagai cara melindungi diri dari rasa sakit psikologis yang terlalu berat untuk ditanggung satu identitas saja.
2. Mekanisme Pertahanan Psikologis (Coping Mechanism)
Ketika individu tidak mampu memproses pengalaman traumatis secara utuh, pikiran akan memisahkan memori dan emosi ke dalam identitas lain. Mekanisme ini memungkinkan seseorang tetap berfungsi dalam kehidupan sehari-hari meskipun membawa luka psikologis mendalam.
3. Lingkungan Kehidupan yang Tidak Aman dan Penuh Tekanan
Kondisi lingkungan yang penuh ketidakpastian, kekerasan berkepanjangan, atau pengabaian emosional turut berperan dalam memicu disosiasi. Tekanan kronis ini memperkuat kecenderungan individu untuk “memecah” identitas sebagai bentuk adaptasi psikologis.
Gejala Dissociative Identity Disorder (DID)
1. Munculnya Dua atau Lebih Identitas yang Berbeda
Setiap identitas dapat memiliki nama, karakter, cara bicara, hingga respons emosional yang berbeda, dan dapat bergantian mengambil alih kesadaran individu.
2. Hilangnya Ingatan atau Amnesia Disosiatif

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
2 Alasan Vicky Prasetyo Belum Menjenguk Fangfang yang Sudah Melahirkan Buah Hatinya
Komentar Pedas Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia 2026 Bikin Heboh, Ini Deretan Frasa Ikoniknya
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Mediasi Ruben Onsu dan Sarwendah Digelar Tertutup, Ini yang Terjadi di Dalam Ruangan
