
Seorang pria yang merasakan perih pada mata (dok. freepik)
JawaPos.com - Pernahkah kamu melihat kilatan cahaya seperti kilap kecil di sudut mata, padahal tidak ada sumber cahaya di sekitar? Fenomena ini sering membuat khawatir karena tampak aneh dan tiba-tiba. Kondisi tersebut bisa terjadi pada satu atau kedua mata dan biasanya menandakan adanya perubahan di dalam struktur mata. Meski bisa terjadi karena faktor ringan seperti penuaan, terkadang hal ini juga menandakan masalah mata yang lebih serius.
Dilansir dari Medical News Today, kedipan cahaya di sudut mata dalam dunia medis dikenal dengan istilah photopsia. Gejala ini muncul akibat adanya perubahan atau tekanan di bagian dalam mata, terutama di retina. Retina merupakan lapisan tipis di belakang mata yang berfungsi menangkap cahaya dan meneruskannya ke otak melalui saraf optik. Di bagian depan retina terdapat cairan seperti gel bernama badan vitreus yang menjaga bentuk bola mata.
Menurut American Academy of Ophthalmology, sebagian besar kasus kilatan cahaya terjadi karena badan vitreus berubah bentuk dan menarik retina. Perubahan ini biasanya tidak berbahaya dan sering dialami seiring bertambahnya usia. Namun, jika terjadi secara terus-menerus, disertai gangguan penglihatan lainnya, atau muncul tiba-tiba setelah trauma mata, kondisi ini perlu diwaspadai.
Cahaya berkedip kadang juga bisa muncul setelah mata mengalami benturan, tekanan kuat, atau bahkan kebiasaan mengucek mata terlalu keras. Semua hal tersebut dapat memberikan tarikan atau tekanan pada retina dan memicu munculnya kilatan cahaya sesaat.
Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter
Melihat cahaya berkedip di sudut mata sesekali biasanya tidak berbahaya. Namun, jika hal ini terjadi secara berulang atau disertai gejala lain seperti munculnya bayangan titik atau garis kecil di penglihatan (floaters), sebaiknya segera periksa ke dokter mata. Kombinasi antara kilatan cahaya yang sering dan munculnya floaters bisa menjadi tanda adanya pelepasan badan vitreus atau bahkan robekan retina.
Retina yang robek dapat menyebabkan komplikasi serius seperti lepasnya retina dari lapisan mata bagian dalam. Kondisi ini bisa menimbulkan gangguan penglihatan permanen bila tidak segera ditangani. Dokter biasanya akan memeriksa retina dengan teknik seperti pemeriksaan fundus atau tekanan lembut di bola mata untuk mendeteksi kerusakan.
Dalam beberapa kasus, penanganan bisa melibatkan terapi laser atau krioterapi untuk menutup robekan retina dan mencegah pelepasan yang lebih parah. Jika tidak ada kerusakan berarti, pasien biasanya hanya disarankan untuk melakukan pemantauan rutin dan menghindari aktivitas yang memberi tekanan pada mata.
Beragam Penyebab Medis Lain
Selain perubahan struktur mata karena usia, ada sejumlah kondisi medis lain yang juga dapat memicu munculnya kilatan cahaya. Salah satunya adalah migrain dengan aura. Pada kondisi ini, penderita sering mengalami gangguan penglihatan seperti melihat garis zigzag, titik bercahaya, atau kehilangan sebagian penglihatan sesaat sebelum sakit kepala muncul. Migrain dengan aura biasanya diatasi dengan kombinasi obat pereda nyeri dan pencegah kekambuhan.
Penyebab lain yang lebih jarang adalah epilepsi oksipital, yaitu gangguan kejang yang memengaruhi area otak bagian belakang yang berperan dalam penglihatan. Anak-anak dan remaja yang mengalami kondisi ini bisa melihat kilatan atau bercak warna-warni sebelum mengalami kejang. Biasanya dokter akan memberikan obat antiepileptik untuk mengendalikan gejala.
Ada pula sindrom Stickler, kelainan genetik langka yang memengaruhi mata, pendengaran, dan sendi. Penderita sindrom ini sering memiliki bentuk wajah khas seperti dagu kecil atau langit-langit mulut terbelah, serta berisiko tinggi mengalami pelepasan retina. Penanganannya bergantung pada gejala, bisa berupa operasi laser atau pembedahan bila retina mulai terlepas.
Diagnosis dan Hubungannya dengan Kecemasan
Untuk menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan mata menyeluruh dan menanyakan riwayat gejala, termasuk kemungkinan trauma pada mata. Jika ditemukan kilatan disertai floaters, biasanya dilakukan pemeriksaan dilated fundus exam guna melihat bagian belakang mata dengan lebih jelas. Pemeriksaan tambahan seperti scleral depression dapat dilakukan untuk menilai kondisi retina lebih detail.
Menariknya, meski jarang, beberapa orang dengan gangguan kecemasan juga melaporkan munculnya gejala visual seperti kilatan atau bintang-bintang kecil di penglihatan. Namun, penelitian menunjukkan bahwa hal ini bukan gejala umum dari kecemasan dan cenderung terjadi akibat ketegangan mata atau gangguan sirkulasi ringan selama serangan panik.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
