
Ilustrasi seseorang yang mengalami wajah kaku sebelah. (Freepik)
JawaPos.com - Gaya hidup modern yang serba cepat sering membuat banyak orang mengorbankan waktu istirahat demi menyelesaikan pekerjaan atau sekadar berselancar di media sosial hingga larut malam.
Kebiasaan begadang, stres yang tidak dikelola dengan baik, dan kurangnya perhatian terhadap kesehatan tubuh menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, pola hidup yang tidak sehat ini dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan membuka pintu bagi berbagai penyakit, termasuk kondisi neurologis yang bisa menyerang tanpa peringatan.
Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah Bell's palsy, kelumpuhan wajah mendadak yang dapat mengubah penampilan seseorang dalam hitungan jam.
Bell's palsy adalah kondisi medis yang menyebabkan kelumpuhan atau kelemahan otot pada satu sisi wajah secara tiba-tiba akibat peradangan atau pembengkakan pada saraf wajah. Kondisi ini membuat penderita kesulitan menggerakkan otot-otot di sisi wajah yang terkena, sehingga wajah terlihat tidak simetris atau "turun" sebelah.
Meskipun terlihat menakutkan, Bell's palsy umumnya bersifat sementara dan kebanyakan penderita dapat pulih kembali dengan perawatan yang tepat. Namun, dampak psikologis dari perubahan penampilan mendadak ini bisa sangat mempengaruhi kepercayaan diri dan kualitas hidup seseorang.
Dilansir dari Cleveland Clinic, Bell's palsy merupakan kondisi yang relatif umum terjadi di masyarakat. Sekitar 15 hingga 30 orang dari setiap 100.000 populasi mengalami Bell's palsy setiap tahunnya.
Data juga menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 60 orang akan mengalami kondisi ini setidaknya sekali dalam hidup mereka. Angka-angka ini membuktikan bahwa Bell's palsy bukanlah penyakit langka dan bisa menyerang siapa saja tanpa memandang usia atau jenis kelamin.
Bahkan gejala Bell's palsy biasanya muncul dengan sangat cepat, bahkan bisa berkembang dalam waktu semalam sehingga penderita terbangun dengan wajah yang tiba-tiba terlihat berbeda. Tanda paling mencolok adalah ketidakmampuan untuk menggerakkan satu sisi wajah, membuat penderita kesulitan tersenyum, mengedipkan mata, atau menutup kelopak mata dengan sempurna pada sisi yang terkena.
Selain itu, penderita juga mungkin mengalami air liur yang menetes tanpa disadari, kesulitan makan dan minum karena makanan atau cairan bisa keluar dari sudut mulut, serta perubahan dalam kemampuan mengecap rasa. Beberapa orang juga melaporkan adanya rasa nyeri atau tidak nyaman di sekitar telinga atau rahang pada sisi yang terkena, serta peningkatan sensitivitas terhadap suara di satu telinga.
Menurut Cleveland Clinic, meskipun penyebab pasti Bell's palsy masih menjadi misteri medis, beberapa faktor diduga kuat memicu kondisi ini, antara lain:
Para ahli meyakini bahwa sebagian besar kasus Bell's palsy dipicu oleh infeksi virus yang menyebabkan peradangan pada saraf wajah, khususnya virus-virus dari keluarga herpes. Ketika sistem kekebalan tubuh sedang lemah akibat kurang tidur, stres, atau kondisi kesehatan lainnya, virus yang sebelumnya tidak aktif di dalam tubuh dapat kembali aktif dan menyerang saraf kranial ketujuh yang mengontrol otot-otot wajah.
Peradangan yang terjadi kemudian membuat saraf tersebut membengkak dan terjepit di dalam kanal tulang sempit yang melewatinya, sehingga sinyal dari otak ke otot wajah terganggu. Inilah yang menyebabkan kelumpuhan atau kelemahan otot wajah yang menjadi ciri khas Bell's palsy.
Oleh karena itu, penanganan Bell's palsy harus dimulai sesegera mungkin untuk memaksimalkan peluang pemulihan dan mencegah komplikasi jangka panjang. Dilansir dari Halodoc, terdapat beberapa pilihan terapi dan pengobatan yang dapat membantu mempercepat proses penyembuhan.
Berikut adalah metode-metode perawatan yang umumnya direkomendasikan oleh tenaga medis untuk mengatasi Bell's palsy:
1. Terapi Kortikosteroid untuk Meredakan Pembengkakan Saraf Wajah

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
