
Wanita dengan sakit tenggorokan (dok. freepik)
JawaPos.com - Lemierre’s syndrome merupakan kondisi medis langka yang berawal dari infeksi tenggorokan, lalu menyebar ke pembuluh darah besar dan akhirnya meracuni aliran darah. Infeksi ini dapat memicu terbentuknya gumpalan darah berbahaya. Meski jarang terjadi, penyakit ini cukup serius dan berpotensi fatal jika tidak segera ditangani.
Gejala awal Lemierre’s syndrome sering kali mirip dengan infeksi virus biasa. Penderita biasanya mengalami sakit tenggorokan lebih dari lima hari, demam tinggi, kelelahan, serta nyeri otot. Kondisi ini menjadi lebih mengkhawatirkan jika sakit tenggorokan tidak membaik meski sudah diberi antibiotik.
Selain itu, pasien dapat merasakan nyeri dan pembengkakan di salah satu sisi leher, mulai dari area telinga hingga ke bawah. Suara juga dapat terdengar serak atau teredam akibat infeksi. Pada tahap lanjut, keluhan bisa disertai mual, muntah, diare, batuk, nyeri saat bernapas, hingga menggigil dan sakit kepala hebat.
Dalam beberapa kasus, gejala lain yang muncul adalah nyeri sendi, kulit berwarna kekuningan, nyeri gigi, bahkan batuk berdarah meskipun jarang terjadi. Tanpa perawatan, infeksi bisa berkembang menjadi sepsis, yaitu peradangan hebat pada organ akibat bakteri di dalam darah. Sepsis ditandai dengan demam tinggi, napas pendek, jantung berdebar, kebingungan mental, dan kelelahan ekstrem.
Jika sepsis semakin parah, pasien bisa mengalami penurunan tekanan darah, kesulitan bernapas, halusinasi, bicara tidak jelas, gangguan irama jantung, penurunan jumlah urine, hingga bercak kulit berwarna keunguan. Kondisi ini sangat berbahaya dan mengancam keselamatan jiwa.
Selain sepsis, Lemierre’s syndrome juga dapat menimbulkan pneumonia, yaitu peradangan pada paru-paru yang ditandai nyeri dada menusuk, napas cepat, keringat berlebih, dan mengi. Infeksi juga bisa menyebar menjadi meningitis, yakni infeksi pada cairan otak dan sumsum tulang belakang. Gejalanya antara lain kejang, kaku leher, pembengkakan kepala, serta gangguan kesadaran.
Penyebab dan Faktor Risiko
Dilansir dari Medical News Today, Lemierre’s syndrome biasanya berawal dari infeksi bakteri di tenggorokan, meski kadang juga dapat berasal dari telinga atau hidung. Bakteri ini kemudian menyebar ke vena jugularis interna, pembuluh darah besar yang menghubungkan otak dengan jantung dan paru-paru. Dari sini, infeksi masuk ke aliran darah dan membentuk bekuan darah yang terinfeksi.
Sebagian besar kasus, sekitar 90 persen, disebabkan oleh bakteri Fusobacterium necrophorum. Bakteri ini sebenarnya dapat ditemukan secara alami di tubuh manusia, seperti pada usus besar, usus halus, dan tenggorokan. Namun, dalam kondisi tertentu, bakteri bisa berkembang agresif dan menimbulkan infeksi berat.
Para ahli menduga lemahnya sistem pertahanan tubuh akibat penyakit lain di tenggorokan dapat mempermudah penyebaran bakteri. Sementara itu, penggunaan antibiotik yang berlebihan dalam jangka panjang juga dianggap membuat bakteri menjadi lebih kuat. Ironisnya, karena penggunaan antibiotik kini lebih dibatasi demi kesehatan masyarakat, risiko infeksi ini justru meningkat.
Lemierre’s syndrome bisa dialami siapa saja dengan infeksi saluran pernapasan atas. Kasusnya lebih sering ditemukan pada orang di bawah usia 30 tahun, terutama remaja dan dewasa muda, meski tidak menutup kemungkinan terjadi pada semua kelompok usia. Umumnya, penderita adalah individu sehat tanpa riwayat penyakit serius sebelumnya.
Diagnosis Lemierre’s Syndrome
Sebelum ditemukannya antibiotik, Lemierre’s syndrome tergolong lebih umum. Namun setelah era antibiotik, kasus ini nyaris hilang dan disebut sebagai “penyakit yang terlupakan.” Hal ini membuat diagnosis menjadi sulit karena banyak dokter jarang menemui kasus serupa.
Proses diagnosis biasanya dimulai dengan pemeriksaan sampel darah untuk mendeteksi keberadaan bakteri. Dokter kemudian dapat menggunakan CT scan dengan kontras atau USG untuk melihat adanya gumpalan darah pada vena jugularis interna. Selain itu, rontgen dada juga dapat dilakukan untuk mengecek apakah infeksi telah menyebar ke paru-paru.
Diagnosis yang cepat sangat penting karena semakin lama infeksi dibiarkan, semakin tinggi risiko komplikasi yang dapat mengancam nyawa pasien.

Prediksi Skor Kolombia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Misi Los Cafeteros Lolos 16 Besar, Siap Kirim Pulang Wakil Afrika
Prediksi Skor Australia vs Mesir di 32 Besar Piala Dunia 2026: The Pharaohs Menang Tipis Lewat Duel Sengit
Prediksi Skor Kanada vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Lebih Diunggulkan, Mampukah Les Rouges Balas Dendam?
Prediksi Skor Paraguay vs Prancis di 16 Besar Piala Dunia 2026: Ujian Konsistensi si Biru
Penjelasan Gol Offside Kroasia ke Gawang Portugal! Keputusan Kontroversial di 32 Besar Piala Dunia 2026
Brasil vs Norwegia: Memori 1994 dan 1998, Misi Balas Dendam Generasi Emas Erling Haaland di Piala Dunia 2026
Kisah Renato Veiga, Bek Timnas Portugal yang Tumbuh di Maroko hingga Memilih Memeluk Agama Islam
Prediksi Skor Australia vs Mesir: Bursa Taruhan Unggulkan The Pharaohs, Opta Hanya Jagokan Socceroos 46 Persen
Prediksi Skor Argentina vs Tanjung Verde: Bursa Taruhan Jagokan Albiceleste, Opta Beri Peluang Menang Lebih dari 80 Persen
Prediksi Skor Australia vs Mesir di Piala Dunia 2026: Menanti Kejutan Satu-satunya Wakil Asia
