
Ilustrasi obat-obatan.
JawaPos.com - Terkadang, obat-obatan yang diresepkan untuk menyembuhkan penyakit justru bisa menjadi bumerang jika disalahgunakan. Banyak orang mencari jalan pintas untuk mendapatkan efek tertentu, seperti meningkatkan energi, merasa tenang, atau bahkan menciptakan sensasi euforia.
Ironisnya, obat-obatan yang harusnya menyembuhkan ini justru menjadi pemicu masalah baru, yaitu penyalahgunaan dan kecanduan.
Di balik manfaat medisnya, beberapa obat memiliki potensi untuk disalahgunakan karena cara kerjanya yang memengaruhi sistem saraf pusat. Efek yang dihasilkan, seperti rasa senang berlebihan atau ketenangan instan, seringkali membuat penggunanya ketergantungan dan menuntut dosis yang lebih tinggi.
Padahal, tindakan ini sangat berbahaya dan bisa menyebabkan berbagai komplikasi kesehatan serius, bahkan mengancam nyawa. Berikut adalah 7 jenis obat yang paling sering disalahgunakan dan wajib kamu ketahui seperti dirangkum dari laman Ashefa Griya Pusaka, sebuah lembaga rehabilitasi narkoba!
1. Amfetamin
Awalnya, obat stimulan seperti amfetamin diresepkan dokter untuk menangani kondisi seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), narkolepsi, obesitas, dan depresi. Tujuannya adalah membantu pasien tetap terjaga dan fokus.
Namun, amfetamin juga sering disalahgunakan untuk meningkatkan energi dan performa, terutama oleh pekerja shift, pengemudi truk, dan mahasiswa yang ingin begadang. Penyalahgunaan ini sangat berbahaya, bisa menyebabkan tekanan darah tinggi, stroke, kejang, paranoia, halusinasi, hingga serangan jantung.
2. Ritalin
Ritalin adalah stimulan lain yang bekerja dengan meningkatkan kadar dopamin di otak. Dopamin adalah zat kimia yang menciptakan perasaan bahagia dan nyaman. Karena efek inilah, Ritalin yang sebenarnya diresepkan untuk ADHD kerap disalahgunakan.
Fakta menunjukkan bahwa resep Ritalin terus meningkat, yang mengindikasikan tingginya risiko penyalahgunaan. Efek samping dari penyalahgunaannya bisa sangat serius bagi sistem saraf pusat.
3. Kodein
Sering ditemukan dalam kombinasi obat batuk dan pereda nyeri, kodein bisa menyebabkan penurunan kesadaran jika dikonsumsi dalam dosis tinggi. Sifat sedatifnya yang kuat juga memicu efek ketergantungan.
Jangan salah, bahkan obat batuk bebas yang mengandung dextromethorphan juga bisa disalahgunakan. Mengonsumsinya melebihi dosis anjuran dapat menyebabkan peningkatan detak jantung dan tekanan darah, mual, muntah, pusing, dan paranoia.
4. Oxycodone
Oxycodone adalah obat pereda nyeri golongan opioid yang bekerja dengan mengubah cara otak dan sistem saraf merespons rasa sakit, dan menciptakan sensasi euforia. Obat ini sering dijual dengan merek seperti OxyContin dan Percocet.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
