Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 22 September 2025 | 19.31 WIB

Waspadai 7 Jenis Obat yang Sering Disalahgunakan, Bahaya Kesehatan Mengintai

Ilustrasi obat-obatan. - Image

Ilustrasi obat-obatan.

JawaPos.com - ​Terkadang, obat-obatan yang diresepkan untuk menyembuhkan penyakit justru bisa menjadi bumerang jika disalahgunakan. Banyak orang mencari jalan pintas untuk mendapatkan efek tertentu, seperti meningkatkan energi, merasa tenang, atau bahkan menciptakan sensasi euforia. 

Ironisnya, obat-obatan yang harusnya menyembuhkan ini justru menjadi pemicu masalah baru, yaitu penyalahgunaan dan kecanduan.

​Di balik manfaat medisnya, beberapa obat memiliki potensi untuk disalahgunakan karena cara kerjanya yang memengaruhi sistem saraf pusat. Efek yang dihasilkan, seperti rasa senang berlebihan atau ketenangan instan, seringkali membuat penggunanya ketergantungan dan menuntut dosis yang lebih tinggi. 

Padahal, tindakan ini sangat berbahaya dan bisa menyebabkan berbagai komplikasi kesehatan serius, bahkan mengancam nyawa. Berikut adalah 7 jenis obat yang paling sering disalahgunakan dan wajib kamu ketahui seperti dirangkum dari laman Ashefa Griya Pusaka, sebuah lembaga rehabilitasi narkoba!

​1. Amfetamin

​Awalnya, obat stimulan seperti amfetamin diresepkan dokter untuk menangani kondisi seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), narkolepsi, obesitas, dan depresi. Tujuannya adalah membantu pasien tetap terjaga dan fokus. 

Namun, amfetamin juga sering disalahgunakan untuk meningkatkan energi dan performa, terutama oleh pekerja shift, pengemudi truk, dan mahasiswa yang ingin begadang. Penyalahgunaan ini sangat berbahaya, bisa menyebabkan tekanan darah tinggi, stroke, kejang, paranoia, halusinasi, hingga serangan jantung.

​2. Ritalin

​Ritalin adalah stimulan lain yang bekerja dengan meningkatkan kadar dopamin di otak. Dopamin adalah zat kimia yang menciptakan perasaan bahagia dan nyaman. Karena efek inilah, Ritalin yang sebenarnya diresepkan untuk ADHD kerap disalahgunakan. 

Fakta menunjukkan bahwa resep Ritalin terus meningkat, yang mengindikasikan tingginya risiko penyalahgunaan. Efek samping dari penyalahgunaannya bisa sangat serius bagi sistem saraf pusat.

​3. Kodein

​Sering ditemukan dalam kombinasi obat batuk dan pereda nyeri, kodein bisa menyebabkan penurunan kesadaran jika dikonsumsi dalam dosis tinggi. Sifat sedatifnya yang kuat juga memicu efek ketergantungan. 

Jangan salah, bahkan obat batuk bebas yang mengandung dextromethorphan juga bisa disalahgunakan. Mengonsumsinya melebihi dosis anjuran dapat menyebabkan peningkatan detak jantung dan tekanan darah, mual, muntah, pusing, dan paranoia.

​4. Oxycodone

​Oxycodone adalah obat pereda nyeri golongan opioid yang bekerja dengan mengubah cara otak dan sistem saraf merespons rasa sakit, dan menciptakan sensasi euforia. Obat ini sering dijual dengan merek seperti OxyContin dan Percocet. 

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore