Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 19 September 2025 | 22.51 WIB

Bahaya Dehidrasi Ekstrem: Berapa Lama Tubuh Bisa Bertahan Tanpa Air dan Apa Saja Dampaknya?

Seorang perempuan yang sedang meminum air putih (Dok. Freepik) - Image

Seorang perempuan yang sedang meminum air putih (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Air adalah kunci kehidupan. Tubuh manusia tidak hanya membutuhkannya untuk menghilangkan dahaga, tetapi juga untuk menjaga seluruh sistem organ tetap berfungsi. Tanpa asupan air, berbagai proses alat vital akan terganggu, memicu dehidrasi berat yang dapat berujung pada kegagalan organ hingga kematian.

Tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air, sekitar dua pertiga dari total badan. Melansir dari Medical News Today, air berperan penting dalam menjaga suhu tubuh, membantu pencernaan, melindungi sendi, dan mengangkut oksigen ke seluruh jaringan. Tanpa air, sel-sel tubuh tidak bisa bekerja dengan baik, sehingga keseimbangan sistem tubuh akan terganggu.

Secara umum, seseorang hanya mampu bertahan sekitar tiga hari tanpa air. Namun, lamanya waktu ini bervariasi tergantung usia, kondisi kesehatan, aktivitas fisik, serta faktor seperti tinggi, berat badan, dan jenis kelamin. Pola makan juga memengaruhi kebutuhan cairan. Mengonsumsi buah atau sayur yang kaya air dapat sedikit menunda dehidrasi dibanding makan makanan kering seperti roti.

Lingkungan sekitar menjadi faktor besar. Cuaca panas memicu keringat berlebih yang mempercepat kehilangan cairan. Sebaliknya, berada di ruangan sejuk dengan suhu terkontrol membuat tubuh tidak terlalu banyak mengeluarkan air melalui keringat. Masalah kesehatan seperti muntah atau diare akan mempercepat dehidrasi. Ketika cairan tubuh hilang lebih cepat daripada yang masuk, tubuh akan kesulitan mempertahankan keseimbangan cairan.

Dampak Dehidrasi pada Tubuh

Dehidrasi dapat menimbulkan gejala cepat seperti haus, lemas, dan mulut kering. Dalam kondisi ekstrem, suhu tubuh naik karena tubuh tak mampu memproduksi keringat, menyebabkan tekanan darah turun drastis hingga kehilangan kesadaran.

Air membantu mengeluarkan racun melalui urin dan pernapasan. Tanpa air, racun menumpuk, menekan kerja ginjal, dan memicu kerusakan organ lain.

Selain itu, kekurangan air dapat mengganggu pH tubuh, melambatkan pencernaan, mengurangi pelumasan sendi, dan mengganggu produksi hormon di otak. Tanpa perbaikan, kondisi ini dapat berkembang menjadi kegagalan ginjal, kerusakan hati, hingga kematian.

Dehidrasi berat juga bisa menyebabkan perubahan mental, kejang, pembengkakan otak, hingga syok. Semua ini merupakan tanda bahwa tubuh sudah dalam bahaya dan membutuhkan cairan segera. Ketika volume darah turun akibat kekurangan air, aliran darah menjadi lambat. Ini dapat memicu pingsan dan memengaruhi distribusi oksigen ke organ vital.

Peran Makanan dan Minuman dalam Hidrasi

Selain air putih, cairan tubuh juga bisa diperoleh dari minuman seperti teh herbal, jus buah, dan kaldu. Buah-buahan, sayuran, serta beri kaya akan air dan membantu menjaga keseimbangan cairan.

Namun, makanan kering dan asin seperti keripik justru bisa memperburuk dehidrasi. Begitu pula minuman berkafein dan beralkohol yang meningkatkan frekuensi buang air kecil.

Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi air, seperti semangka, jeruk, dan mentimun, membantu memenuhi kebutuhan cairan harian dan mencegah dehidrasi.

Mendengarkan sinyal tubuh sangat penting. Rasa haus adalah tanda alami bahwa tubuh memerlukan cairan. Mengabaikannya bisa berujung pada dehidrasi yang berbahaya.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore