Kondisi pasien menderita penyakit keratoconus (Dok. Keeyecenters)
JawaPos.com - Para peneliti telah berhasil menggunakan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk memprediksi secara presisi pasien mana yang membutuhkan perawatan guna menstabilkan kornea dan mempertahankan penglihatan mereka. Khususnya, pasien yang menderita penyakit keratoconus.
Keberhasilan itu tertuang dalam sebuah studi terbaru yang dipresentasikan di Kongres ke-43 European Society of Cataract and Refractive Surgeons (ESCRS), Minggu (14/9/2025).
Dilansir dari News Medical, penelitian ini berfokus pada penderita keratoconus, gangguan penglihatan yang umumnya berkembang pada remaja dan dewasa muda dan cenderung memburuk hingga dewasa.
Kondisi ini memengaruhi hingga 1 dari 350 orang. Dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat ditangani dengan lensa kontak, tetapi pada kasus lain kondisi ini memburuk dengan cepat dan jika tidak segera ditangani, bahkan pasien mungkin memerlukan transplantasi kornea.
Saat ini, satu-satunya cara untuk mengetahui siapa yang membutuhkan perawatan adalah dengan memantau pasien dari waktu ke waktu.
Para peneliti saat ini menggunakan AI untuk menilai citra mata pasien, dikombinasikan dengan data lain, dan berhasil memprediksi pasien mana yang membutuhkan perawatan segera dan mana yang dapat terus dipantau.
Studi ini dilakukan oleh Dr. Shafi Balal dan rekan-rekannya di Moorfields Eye Hospital NHS Foundation Trust, London, dan University College London (UCL), Inggris.
Pada penderita keratoconus, kondisi kornea atau jendela depan mata menonjol keluar. Keratokonus menyebabkan gangguan penglihatan pada pasien muda usia produktif dan merupakan alasan paling umum untuk transplantasi kornea di dunia Barat.
"Perawatan tunggal yang disebut 'cross-linking' dapat menghentikan perkembangan penyakit. Jika dilakukan sebelum jaringan parut permanen terbentuk, cross-linking seringkali mencegah perlunya transplantasi kornea. Namun, dokter saat ini tidak dapat memprediksi pasien mana yang akan mengalami perkembangan dan membutuhkan perawatan, dan mana yang akan tetap stabil hanya dengan pemantauan. Ini berarti pasien memerlukan pemantauan rutin selama bertahun-tahun, dengan cross-linking biasanya dilakukan setelah progresi terjadi," jelasnya.
Penelitian ini melibatkan sekelompok pasien yang dirujuk ke Moorfields Eye Hospital NHS Foundation Trust untuk penilaian dan pemantauan keratoconus, termasuk pemindaian bagian depan mata dengan optical coherence tomography (OCT) untuk memeriksa bentuknya.
Para peneliti menggunakan AI untuk mempelajari 36.673 gambar OCT dari 6.684 pasien yang berbeda beserta data pasien lainnya.
Algoritma AI dapat memprediksi secara presisi dan akurat apakah kondisi pasien akan memburuk atau tetap stabil hanya dengan menggunakan gambar dan data dari kunjungan pertama.
Dengan menggunakan AI, para peneliti dapat mengurutkan dua pertiga pasien ke dalam kelompok berisiko rendah, yang tidak memerlukan perawatan, dan sepertiga lainnya ke dalam kelompok berisiko tinggi, yang membutuhkan perawatan cross-linking segera.
Ketika informasi dari kunjungan rumah sakit kedua disertakan, algoritma tersebut berhasil mengkategorikan hingga 90 persen pasien.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
