Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 9 September 2025 | 12.40 WIB

Waspadai Dehidrasi pada Balita, Kenali Penyebab dan Penanganannya

Balita laki-laki sedang minum (Dok. Freepik) - Image

Balita laki-laki sedang minum (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Dehidrasi tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga balita. Kondisi ini terjadi ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang masuk. Pada balita, tanda-tanda dehidrasi bisa terlihat jelas, seperti tidak ada air mata saat menangis, bibir pecah-pecah, hingga jarang buang air kecil.

Biasanya, tubuh mampu mengganti cairan yang hilang melalui makanan dan minuman sehari-hari. Namun, faktor seperti diare, muntah, demam, penyakit, atau cuaca panas dapat mempercepat kehilangan cairan. Karena tubuh balita masih kecil, risiko dehidrasi bisa meningkat lebih cepat dibandingkan orang dewasa.

Orang tua atau pengasuh perlu peka terhadap tanda-tanda awal dehidrasi. Balita sering kali belum bisa mengungkapkan rasa hausnya. Maka, jangan menunggu sampai anak terlihat sangat kehausan sebelum bertindak. Gejala awal dapat berupa kurang sering buang air kecil, popok kering lebih dari 3 jam, mulut kering, atau mata tampak cekung.

Selain itu, balita yang mengalami dehidrasi bisa terlihat lemas, mengantuk, rewel, bernapas cepat, hingga jantung berdebar. Lendir di mulut tampak lengket, dan bibir bisa terlihat pecah-pecah. Semakin cepat gejala ini dikenali, semakin baik peluang pemulihannya.

Dehidrasi pada balita bisa dipicu banyak hal. Salah satunya karena asupan cairan yang kurang. Namun, penyakit seperti diare, muntah, infeksi virus (misalnya rotavirus), infeksi bakteri, hingga parasit seperti Giardia lamblia juga bisa jadi penyebab. Selain itu, cuaca panas, demam tinggi, penyakit kronis seperti diabetes atau cystic fibrosis, serta efek samping obat tertentu juga meningkatkan risiko.

Untuk mengetahui tingkat keparahan dehidrasi, dokter biasanya akan memeriksa riwayat kesehatan anak, gejala, dan kondisi fisik. Kadang diperlukan tes tambahan, seperti pemeriksaan darah untuk melihat ketidakseimbangan elektrolit, tes urine, pemeriksaan feses, hingga rontgen dada. Semua ini membantu menentukan penyebab utama dan terapi terbaik.

Bagaimana Penanganannya?

Dalam banyak kasus, dehidrasi ringan bisa diatasi di rumah. Cairan rehidrasi oral (oralit) adalah pilihan utama karena dapat menggantikan elektrolit dan gula yang hilang. Produk ini bisa dibeli bebas di apotek maupun toko kesehatan. Selain itu, sup bening, es batu kecil, atau es loli juga bisa membantu jika anak menolak minum air putih.

Jika balita masih menyusu, pemberian ASI tetap dilanjutkan. Setelah muntah berhenti minimal 4 jam, anak bisa kembali makan makanan padat. Beberapa orang tua menggunakan pola makan BRAT (pisang, nasi, saus apel, roti panggang) untuk membantu pemulihan dari diare. Meski bukti ilmiahnya terbatas, pola makan ini dianggap aman.

Pada kasus yang lebih berat, dokter mungkin memberikan cairan rehidrasi lewat infus. Langkah ini penting ketika anak tidak mampu minum sendiri atau kehilangan cairan terlalu banyak dalam waktu singkat. Dengan penanganan cepat, balita biasanya bisa pulih sepenuhnya.

Segera bawa anak ke dokter jika tidak buang air kecil lebih dari 3 jam, mengalami diare lebih dari 24 jam, menangis tanpa air mata, buang air besar berdarah, atau demam di atas 39°C. Gejala seperti mata cekung, mulut kering, serta menurunnya aktivitas juga tidak boleh diabaikan.

Ada situasi tertentu yang memerlukan penanganan darurat segera. Jika balita sulit dibangunkan, tampak sangat lemas, mengeluh sakit perut hebat, atau mulutnya kering parah, segera bawa ke IGD. Dehidrasi berat bisa berakibat fatal bila tidak ditangani cepat.

Mencegah dehidrasi pada balita lebih mudah daripada mengobatinya. Orang tua bisa memberikan cairan rehidrasi begitu anak mulai muntah atau diare, memastikan anak cukup minum saat cuaca panas, serta menghindari minuman manis atau bersoda yang justru bisa memperparah dehidrasi.

Selain cairan, menjaga pola makan sehat juga penting. Anak yang terbiasa mengkonsumsi makanan bergizi, cukup buah, dan sayur akan lebih tahan terhadap dehidrasi saat sakit. Pastikan pula balita beristirahat cukup saat sakit agar pemulihan lebih cepat.

Dalam banyak kasus, dehidrasi pada balita disebabkan oleh infeksi virus ringan. Dengan penanganan tepat, anak bisa pulih total. Namun, bila dibiarkan, dehidrasi bisa menimbulkan komplikasi serius bahkan mengancam jiwa. Itu sebabnya kewaspadaan orang tua dan pengasuh menjadi kunci utama.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore