Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 5 September 2025 | 19.08 WIB

Mengenali Gejala Inferiority Complex: Perasaan Rendah Diri yang Mengganggu Kehidupan dan Kesehatan Mental

Ilustrasi perempuan yang merasa pesimis saat hendak melakukan pekerjaan (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Inferiority complex atau kompleks inferioritas adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perasaan tidak mampu, tidak cukup baik, dan penuh keraguan diri yang berlangsung dalam jangka panjang. Walaupun bukan diagnosis medis resmi, kondisi ini bisa berdampak besar pada harga diri, kesehatan mental, serta hubungan sosial seseorang.

Asosiasi Psikologi Amerika (APA) mendefinisikan inferiority complex sebagai "perasaan mendasar tentang ketidakcukupan dan rasa tidak aman." Perasaan ini bisa muncul akibat kekurangan nyata atau hanya sekadar persepsi pada diri sendiri, baik dalam aspek fisik, psikologis, maupun kemampuan.

Orang dengan kompleks inferioritas bisa menunjukkan perilaku berbeda. Sebagian cenderung menarik diri dari lingkungan sosial, mengalami kecemasan atau depresi. Sebaliknya, ada juga yang justru berlebihan dalam bersaing, selalu mencari kesalahan orang lain, dan sulit mengakui kekeliruan diri sendiri.

Melansir dari Medical News Today, konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh dr. Alfred Adler pada tahun 1907. Adler berpendapat bahwa setiap orang lahir dengan perasaan inferior tertentu, namun memiliki dorongan untuk mengatasinya. Dari situlah, inferiority complex muncul ketika dorongan ini tidak berhasil diolah dengan sehat.

Faktor dan Gejala Inferiority Complex

Banyak penelitian modern menemukan beragam faktor yang dapat memicu munculnya inferiority complex. Sebuah studi tahun 2012 menunjukkan bahwa remaja dari keluarga kurang mampu memiliki kecenderungan lebih tinggi terhadap rendahnya harga diri, rasa tidak cukup, dan masalah perkembangan emosi.

Studi tahun 2014 menemukan hubungan antara kepribadian dengan perasaan inferior. Mereka yang memiliki kepribadian autotelik (termotivasi dari dalam diri) lebih jarang mengalami inferiority complex dibandingkan dengan yang berkepribadian nonautotelik (bergantung pada faktor eksternal).

Penelitian terbaru pada 2022 dengan data media sosial juga menyoroti bahwa pengalaman hidup, kondisi fisik, sifat kepribadian, hubungan, serta interaksi sosial dapat memperkuat perasaan inferior.

Gejala seseorang dengan inferiority complex biasanya memiliki harga diri rendah, sering merasa cemas atau depresi, dan terus-menerus meragukan diri sendiri. Mereka mungkin mudah menyerah saat menghadapi tantangan, sulit menerima kritik, bahkan tidak percaya ketika menerima pujian.

Ada juga yang memilih menyembunyikan diri, menghindari interaksi sosial, dan lebih fokus pada kekurangan dibanding kelebihan diri.

Dampak terhadap Kehidupan

Inferiority complex yang dibiarkan berlarut dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan. Seseorang bisa kesulitan mencapai tujuan, merasa gagal saat membandingkan diri dengan orang lain, hingga terganggu dalam membangun hubungan yang sehat. Kondisi ini juga bisa memperburuk masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi.  

Salah satu cara paling efektif untuk mengatasi inferiority complex adalah melalui psikoterapi. Terapi bicara membantu seseorang memahami akar perasaan rendah diri sekaligus menemukan cara berpikir dan berperilaku yang lebih sehat.

Jenis-jenis psikoterapi yang umum digunakan antara lain:

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore