Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Agustus 2025 | 18.17 WIB

Mengenal Terapi Elektromagnetik Shimod, Pengobatan Alternatif yang Menggabungkan Akupuntur dan Teknologi

Suasana klinik pengobatan tradisional dengan teknologi atau dikenal dengan pengobatan elektromagnetik oleh shimod. (Istimewa)

JawaPos.com - Pengobatan alternatif di Indonesia sangat beragam dan mencakup berbagai metode baik secara tradisional maupun modern. Cara ini seringkali menjadi pilihan masyarakat karena biaya yang lebih terjangkau atau kepercayaan pada metode tersebut.

Beberapa jenis pengobatan alternatif yang populer di Indonesia antara lain pijat, minuman herbal, aromaterapi, refleksiologi, terapi bekam, dan akupunktur. Selain itu, ada juga pengobatan tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Seiring berkembangnya zaman, pengobatan ini kemudian digabungkan dengan teknologi. Rian, 57, seorang shinse modern alias shimod, adalah salah satu praktisi kesehatan yang menggabungkan pengobatan tradisional dengan teknologi atau dikenal dengan pengobatan elektromagnetik.

Menggunakan mesin MEDIC 14000 SX sejak 2019, Rian mengklaim sudah melayani pasien dengan berbagai macam penyakit seperti stroke, syaraf kejepit, prostat, diabetes hingga program hamil di klink Medic Therapy Jakarta.

“Kalau shinse kan biasanya hanya menggunakan obat-obat tradisional seperti jamu atau ramuan herbal. Saya menggabungkan pengobatan akupuntur dengan teknologi. Jadi saya menggunakan mesin dari Jepang untuk membantu mengobati penyakit pasien yang datang ke sini," ujarnya.

Untuk obat, lanjut Rian, ia biasanya menggunakan herbal. "Namun tidak semua pasien yang sekali datang langsung saya kasih obat. Biasanya saya analisa dan periksa dulu. Baru setelah ketahuan mengidap penyakit apa saya berikan obat dan itupun jika memang diperlukan saja. Jika si pasien hanya perlu terapi rutin, paling saya akan kasih tahu pantangan makanan yang harus dihindari,” ungkap Rian.

Rian belajar seputar pengobatan tradisional shinse selama 17 tahun di Singapura sejak 2001. Di. sana, ia mempelajari anatomi tubuh dan juga teknik pijat. Setelah kembali ke Tanah Air dan sempat menjalani profesi lain, Rian akhirnya mendedikasikan hidupnya menjadi praktisi kesehatan pada 2019 dan langsung membuka pengobatan shimod.

Penggunaan teknologi elektromagnetik, menurutnya, bukan tanpa alasan. "Elektromagnetik itu memang sangat dibutuhkan oleh tubuh karena tubuh memerlukan magnet yang berasal dari makanan yang dikonsumsi. Jadi biasanya setiap pasien yang datang ke sini saya tanya dulu ada keluhan apa. Lalu setelah itu saya akan menempelkan alat terapi ini untuk mendeteksi penyakit ke badan pasien," katanya.

"Biasanya pasien akan merasa seperti disetrum di titik-titik penyakitnya, kemudian saya menggunakan jarum akupuntur untuk membuka syaraf-syaraf yang bermasalah dan juga langsung pada penekanan tiap penyakit si pasien dan setelah terapi biasnyabakan merasa pegal-pegal. Tapi setelah itu badan pasien akan menjadi lebih rileks,” lanjutnya.

Terapi elektromagnetik yang dilakukan Rian sebenarnya bukan hal yang baru di dunia medis. Praktik sejenis ini sering digunakan untuk mengobati perbaikan tulang dan tulang rawan, penghilang rasa sakit, dan penyembuhan luka.

Elektromagnetik bekerja dengan menginduksi efek medan pada tubuh, bukan dengan efek listrik langsung atau radiasi. Jenis elektromagnetik yang umum termasuk terapi medan magnet statis, terapi medan elektromagnetik berdenyut (PEMF), dan terapi gelombang elektromagnetik frekuensi rendah.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore