
Ilustrasi: Campak pada bayi (iStock)
JawaPos.com – Sebanyak 17 anak meninggal dunia akibat Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di Kabupaten Sumenep sepanjang Februari hingga Juli 2025. Mayoritas korban diketahui tidak memiliki riwayat imunisasi.
“Mayoritas anak yang meninggal akibat KLB campak di Sumenep tidak memiliki riwayat imunisasi,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, Rabu (27/8).
Hingga minggu ke-32, tercatat 1.944 kasus suspek campak dengan lebih dari separuhnya (53,3 persen) merupakan balita berusia 0–4 tahun.
Ia menegaskan, Kemenkes sudah berkoordinasi dengan Dinkes Sumenep, Dinkes Jawa Timur, serta berbagai pihak terkait untuk melakukan penanganan bersama.
Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep bersama fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) kini meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), terutama pada balita dengan gejala ruam campak.
Penyelidikan epidemiologi terus dilakukan untuk melacak sumber penularan dan kontak erat, sekaligus memperkuat kegiatan surveilans serta pemetaan kelompok masyarakat berisiko tinggi seperti bayi, ibu hamil, anak dengan gizi buruk, maupun anak sakit berat.
Langkah lain yang telah juga ditempuh dengan memastikan ketersediaan vaksin campak dan logistiknya. Outbreak Response Immunization (ORI) dijadwalkan berlangsung pada 25 Agustus hingga 12 September 2025, menyasar anak usia 9 bulan hingga 6 tahun. Selain itu, imunisasi rutin akan digencarkan kembali untuk melengkapi status imunisasi yang belum lengkap, ditambah pemberian vitamin A untuk menekan risiko sakit berat.
Aji menerangkan, Kementerian Kesehatan turut mengirimkan tim untuk melakukan penyelidikan epidemiologi serta mendampingi Dinkes Sumenep dan Dinkes Jawa Timur dalam survei cepat menentukan sasaran ORI.
“Kami berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk OPD terkait dan mitra setempat, agar penanganan KLB campak bisa dilakukan secara menyeluruh,” ucap Aji.
Dengan tingginya kasus ini, Aji menyebut bahwa masyarakat diimbau segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila muncul ruam campak agar komplikasi fatal dapat dicegah. Anak yang terinfeksi disarankan untuk sementara tidak mengikuti sekolah atau kegiatan ramai demi memutus rantai penularan.
Selain itu, kebersihan diri dan lingkungan juga menjadi perhatian, mulai dari rajin mencuci tangan, menggunakan masker, hingga menjaga ventilasi rumah tetap baik.
Orang tua juga diingatkan untuk melengkapi imunisasi anak sesuai jadwal, mencukupi kebutuhan gizi, serta tidak mudah percaya hoaks seputar imunisasi maupun pengobatan alternatif. Informasi resmi hanya dapat dirujuk melalui Kemenkes, Dinkes, atau tenaga kesehatan.

Prediksi Skor Tanjung Verde vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: Misi Blue Sharks Pulangkan Green Falcons
Prediksi Skor Mesir vs Iran di Piala Dunia 2026: The Pharaohs Selangkah Lagi ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Selandia Baru vs Belgia di Piala Dunia 2026: Pembuktian Romelu Lukaku Belum Habis!
Prediksi Skor Uruguay vs Spanyol di Piala Dunia 2026: La Roja Tak Ingin Tersandung, La Celeste Wajib Menang
Prediksi Skor Aljazair vs Austria di Piala Dunia 2026: Tiket 32 Besar Dipertaruhkan, Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Kroasia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Duel Penentu Tiket 32 Besar, Hasil Imbang Skenario Paling Masuk Akal
Prediksi Skor RD Kongo vs Uzbekistan di Piala Dunia 2026: Duel Sengit di Laga Terakhir Fase Grup
Prediksi Skor Senegal vs Irak di Piala Dunia 2026: Sadio Mane Jadi Kunci Kalahkan Singa Mesopotamia
Prediksi Afrika Selatan vs Kanada di 32 Besar Piala Dunia 2026: Bafana Bafana Ukir Sejarah!
Prediksi Skor Panama vs Inggris: Three Lions Sedang Tak Ideal, Harry Kane Ingin Kembali ke Jalur Gol
