
Ilustrasi porsi makanan yang sangat sedikit (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Eating disorder atau gangguan makan merupakan kondisi kesehatan mental dan fisik yang serius, ditandai dengan perubahan ekstrim pada perilaku makan. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi pola konsumsi makanan, tetapi juga berdampak pada perasaan, pikiran, dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Beberapa jenis gangguan makan paling umum berhubungan erat dengan citra tubuh serta harga diri. Misalnya, anoreksia nervosa yang ditandai dengan pembatasan asupan makanan secara ekstrem karena rasa takut yang berlebihan terhadap kenaikan berat badan.
Bahkan, keinginan untuk mengendalikan makanan sering kali muncul karena mereka merasa kehilangan kendali dalam aspek kehidupan lain.
Pola pikir ini menyebabkan mereka menjadikan makanan sebagai cara untuk mendapatkan kembali rasa kontrol, meskipun dampaknya justru merugikan kesehatan.
Dilansir dari Medical News Today, ada berbagai macam gangguan makan dengan ciri dan gejala berbeda. Tiga jenis yang paling sering ditemui adalah anoreksia nervosa, bulimia nervosa, dan binge eating disorder (BED).
1. Anoreksia Nervosa
Pada gejala anoreksia nervosa, penderita secara sadar dan sengaja membatasi asupan makanan, sering disertai ketakutan intens terhadap kenaikan berat badan, meski sudah berada dalam kondisi sangat kurus.
Selain menolak makan, mereka kerap berolahraga secara berlebihan untuk menjaga berat badan tetap rendah.
2. Bulimia Nervosa
Pada gejala bulimia nervosa, penderita ditandai dengan memiliki siklus makan dalam jumlah besar (binge eating) lalu diikuti tindakan kompensasi seperti memuntahkan makanan secara sengaja, berpuasa ketat, menggunakan obat pencahar, atau melakukan olahraga berlebihan.
Penderita biasanya menyadari perilaku ini tidak sehat, tetapi merasa terjebak dalam pola yang berulang.
3. Binge Eating Disorder (BED)
Pada gejala BED, penderita ditandai dengan makan dalam jumlah sangat banyak dalam waktu singkat, sering kali ketika sendirian atau meski tidak merasa lapar.
Setelahnya, mereka biasanya diliputi perasaan malu, bersalah, atau jijik terhadap diri sendiri. Tidak seperti bulimia, pada BED tidak ada perilaku kompensasi setelah makan.
Meskipun dampaknya bisa berat, gangguan makan dapat dipulihkan dengan penanganan yang tepat. Pemulihan biasanya melibatkan tim profesional yang terdiri dari terapis gangguan makan, ahli gizi, dokter umum, psikiater, hingga dokter gigi (khususnya untuk menangani dampak bulimia).

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
