Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 16 Agustus 2025 | 18.22 WIB

Inovasi BESS: Solusi Minimal Invasif untuk Operasi Tulang Belakang

Ilustrasi nyeri tulang belakang. (Istimewa) - Image

Ilustrasi nyeri tulang belakang. (Istimewa)

JawaPos.com-Banyak orang mengurungkan niat operasi tulang belakang karena takut dengan prosesnya yang dianggap rumit, penuh risiko, dan memerlukan pemulihan panjang. Padahal, tidak semua operasi tulang belakang harus dilakukan dengan sayatan besar dan rawan komplikasi.

Perkembangan teknologi kedokteran kini menghadirkan teknik Biportal Endoscopic Spine Surgery (BESS), metode minimal invasif yang dapat mengatasi masalah tulang belakang dengan trauma jaringan lebih kecil, rasa nyeri berkurang, dan pemulihan jauh lebih cepat.

BESS bekerja menggunakan dua jalur endoskopi, satu untuk kamera, satu lagi untuk instrumen bedah. Aehingga dokter memiliki pandangan jelas terhadap area operasi sekaligus keleluasaan untuk melakukan tindakan dengan presisi tinggi.

Cara ini meminimalkan kerusakan jaringan otot dan ligamen di sekitar tulang belakang. Pasien dapat bangun dan bergerak lebih cepat pasca operasi. Dibanding metode konvensional, risiko perdarahan dan infeksi juga lebih rendah.

Penyakit tulang belakang yang sering ditangani dengan BESS di antaranya HNP (hernia nukleus pulposus), yang lebih dikenal dengan istilah saraf terjepit. Kondisi ini terjadi ketika bantalan di antara ruas tulang belakang bergeser atau pecah, menekan saraf, dan menimbulkan nyeri hebat.

BESS juga efektif untuk mengatasi penyempitan kanal tulang belakang (stenosis), kista, hingga beberapa kasus tumor kecil di area tersebut.

“Sehingga pasien lebih cepat sembuh, lebih bisa langsung pulang. Jadi cepat pulang, jadi stigma yang di jaman dulu bahwa operasi spain, operasi tulang belakang itu membuat kelumpuhan. Kita ingin menghilangkan stigma tersebut," jelas dr. Dimas Rahman, SpBS, MARS, FTB, FINSS, Spesialis Bedah Saraf Sigma Sigma Brain & Spine Center di RS Jakarta, Jumat (15/8).

Dia menambahkan, teknik ini sangat membantu pasien yang ingin kembali beraktivitas normal lebih cepat. Sejak lima tahun lalu, setidaknya sudah ada 5.000 pasien yang mengakses layanan BESS ini. Tingkat keberhasilannya, kata dr. Dimas, cukup meyakinkan. 

"Angka keberhasilannya untuk tindakan BESS ini di atas 95%.  Bahkan mungkin hampir, kalau kita bilang 100 persen sih tidak mungkin, tapi di atas 95%," ucap dr Dimas.

Workshop Perdana BESS di Indonesia

Dengan tingkat keberhasilan tindakan pengobatan penyakit tulang belakang itu, untuk pertama kali 1st Biportal Endoscopic Spine Course in Indonesia digelar pada 15–16 Agustus 2025 di RS Jakarta. Acara ini menghadirkan pakar BESS asal Korea Selatan dr. Daejung Choi dan dr. Sung Won Cho.

Serta tim National Faculty yang terdiri dari Dr. dr. Wawan Mulyawan, Sp.BS (K), Subspes. N-TB, FINSS, FINPS, AAK, dr. Danu Rolian, Sp.BS, FINSS, FINPS, dr. Dimas Rahman, Sp.BS, MARS, FTB, FINSS, dan dr. Deni Nasution, Sp.BS (K) Spine.

“Workshop ini akan menjadi pengalaman langsung yang sangat berharga untuk memperdalam pemahaman dan keterampilan peserta dalam teknik minimal invasif yang semakin menjadi standar global dalam penanganan kasus tulang belakang," ucap dr. Wawan.

"Jadi memungkinkan peserta dapat menguasai teknik endoskopi tulang belakang, BESS khususnya, dengan berbagai akses seperti transforaminal atau interlaminar,” sambung dia.

Dia menegaskan bahwa dalam dua hari ini dirinya yakin nanti para dokter spesialis bedah saraf yang hadir akan mampu mengimplementasikan teknik endoskopi tulang belakang ini secara efektif.

"Sehingga dapat memberikan perbaikan kualitas hidup para pasiennya," tandas dr. Wawan.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore