Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 13 Agustus 2025 | 17.20 WIB

Kurang Tidur sejak Kecil Bisa Picu Risiko Psikosis saat Dewasa

Seorang anak memeluk boneka sambil berbaring, menggambarkan kondisi kurang tidur yang berpotensi memengaruhi kesehatan mental di masa depan. (Dok. Canva) - Image

Seorang anak memeluk boneka sambil berbaring, menggambarkan kondisi kurang tidur yang berpotensi memengaruhi kesehatan mental di masa depan. (Dok. Canva)

JawaPos.com – Kurang tidur bukan hanya berdampak pada suasana hati atau konsentrasi anak.

Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa anak yang secara konsisten tidur kurang dari waktu yang dianjurkan sejak bayi hingga usia sekolah berpotensi lebih tinggi mengalami gangguan psikosis saat dewasa muda.

Dikutip dari SciTechDaily, riset yang dilakukan peneliti University of Birmingham ini menganalisis data durasi tidur malam ribuan anak berusia 6 bulan hingga 7 tahun.

Hasilnya, anak yang terus-menerus tidur lebih sedikit selama periode tersebut tercatat lebih dari dua kali lipat berisiko mengidap gangguan psikosis di usia dewasa awal, serta hampir empat kali lipat berisiko mengalami episode psikosis.

Menurut laporan yang dipublikasikan di JAMA Psychiatry, temuan ini merupakan yang pertama menunjukkan bahwa kurang tidur secara persisten di masa kanak-kanak menjadi prediktor kuat munculnya psikosis.

Penelitian sebelumnya memang sudah mengaitkan masalah tidur dengan gangguan mental ini, tetapi hanya pada titik waktu tertentu, bukan secara berkelanjutan.

Peneliti utama, Dr. Isabel Morales-Muñoz, menjelaskan bahwa wajar jika anak mengalami gangguan tidur sesekali. Namun, jika masalah ini berlangsung kronis, hal tersebut dapat berkaitan dengan risiko gangguan psikiatri di kemudian hari.

“Kabar baiknya, pola dan kebiasaan tidur masih bisa diperbaiki. Kurang tidur mungkin bukan satu-satunya penyebab psikosis, tetapi penelitian kami menunjukkan bahwa ini adalah faktor yang bisa ditangani oleh orang tua,” ujarnya.

Data penelitian diambil dari Avon Longitudinal Study of Parents and Children (ALSPAC) yang mencatat perkembangan 12.394 anak sejak bayi hingga usia sekolah, dan menelusuri kondisi 3.889 di antaranya saat berusia 24 tahun.

Menariknya, tim juga menguji apakah sistem kekebalan tubuh anak berperan dalam hubungan antara kurang tidur dan psikosis.

Dengan mengukur kadar peradangan pada usia sembilan tahun, mereka menemukan bahwa lemahnya sistem imun dapat menjadi salah satu penjelas hubungan tersebut. Meski demikian, faktor lain yang belum diketahui kemungkinan juga berpengaruh.

Riset ini menjadi bagian dari Mental Health Mission Midlands Translational Centre yang berfokus pada pencegahan dan pengobatan dini psikosis serta depresi pada anak dan remaja. Pemahaman akan pentingnya kebersihan tidur (sleep hygiene) dinilai dapat menjadi langkah kunci dalam menjaga kesehatan mental sejak usia dini. (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore