Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 Juli 2025 | 20.38 WIB

Anak Paling Rentan Kena, Kenali Dengue Shock Syndrome yang Lebih Parah dari DBD Biasa

Ilustrasi Mencegah DBD. (Pixabay) - Image

Ilustrasi Mencegah DBD. (Pixabay)

JawaPos.com – Anak-anak menjadi kelompok paling rentan terkena dampak serius penyakit dengue. Tak hanya Demam Berdarah Dengue (DBD) biasa, ada kondisi yang jauh lebih berbahaya yaitu Dengue Shock Syndrome (DSS) suatu komplikasi mematikan yang ditandai dengan perdarahan hebat dan tekanan darah yang turun drastis.

DSS lebih sering menyerang anak-anak dan bisa berujung fatal jika tidak segera ditangani. Peringatan Hari Anak Nasional 2025 menjadi momentum untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit ini.

Data global menunjukkan pada tahun 2024 terdapat lebih dari 14 juta kasus dengue di seluruh dunia, tertinggi sejak pencatatan global dimulai pada 2010. Di Asia saja, tercatat 884.402 kasus dengan 1.008 kematian. Sementara itu, di Indonesia, Kementerian Kesehatan melaporkan hingga pekan ke-25 tahun 2025, telah terjadi 79.843 kasus dengue dengan 359 kematian, dan tingkat kematian (CFR) mencapai 0,45%. Angka-angka ini memperkuat fakta bahwa dengue bukan hanya masalah musiman, tetapi ancaman nyata yang bisa menyerang siapa saja terutama anak-anak.

“Dengue itu bukan penyakit musiman, virusnya ada sepanjang tahun dan bisa menyerang siapa saja, di mana saja, tanpa memandang usia atau gaya hidupnya,” ujar dr. Atilla Dewanti, Dokter Spesialis Anak Konsultan Neurologi, Senin (28/7).

Ia menambahkan, gejala dengue memang sering kali mirip flu, seperti demam tinggi, nyeri kepala, mual, muntah, nyeri otot, hingga ruam kulit. Namun, jika terlambat ditangani, dengue bisa berkembang menjadi DSS.

“Kalau tidak dikenali sejak awal, DSS bisa sangat fatal. Ini banyak terjadi pada anak-anak,” tegasnya.

dr. Atilla juga menjelaskan bahwa virus dengue memiliki empat serotipe berbeda, dan seseorang bisa terinfeksi lebih dari sekali.

“Setelah sembuh dari satu serotipe, seseorang hanya kebal terhadap jenis itu saja. Jika terinfeksi serotipe lain, risikonya justru bisa lebih parah,” ujarnya.

Sayangnya, hingga kini belum ada obat khusus untuk menyembuhkan dengue, sehingga penanganan hanya bertujuan meredakan gejala. Oleh karena itu, langkah pencegahan seperti 3M Plus dan vaksinasi menjadi sangat penting.

“Vaksin dengue sudah direkomendasikan untuk anak-anak dan orang dewasa. Tapi tetap harus sesuai dosis dan petunjuk dokter,” tambahnya.

Terkait itu, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menegaskan komitmen perusahaan dalam melindungi anak-anak dari bahaya dengue.

“Dalam momen Hari Anak Nasional, kita diingatkan bahwa setiap anak berhak tumbuh sehat dan aman dari penyakit yang bisa dicegah seperti dengue,” katanya.

Ia mengungkapkan bahwa ribuan keluarga Indonesia kehilangan anak karena dengue tiap tahun, yang sebenarnya bisa dicegah dengan tindakan sederhana dan vaksinasi.

“Kami di Takeda terus mendukung program edukasi dan pencegahan dengue secara berkelanjutan. Kolaborasi dengan pemerintah, tenaga kesehatan, media, dan masyarakat adalah kunci untuk mewujudkan tujuan besar: Nol Kematian Akibat Dengue pada 2030,” tutup Andreas.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore