Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 4 Juli 2025 | 21.34 WIB

Mengenal Popcorn Lung, Penyakit Paru yang Dipicu Rokok Elektrik atau Vape, Gejalanya Mirip Asma

ILUSTRASI: Vape. (Pexels) - Image

ILUSTRASI: Vape. (Pexels)

JawaPos.com - Vape sering dianggap sebagai alternatif rokok yang lebih aman. Padahal sejumlah kandungannya justru bisa memicu penyakit paru serius: popcorn lung. Kini, kasusnya makin meningkat seiring maraknya penggunaan rokok elektrik.

Popcorn lung atau secara medis dikenal sebagai bronkiolitis obliterans merupakan penyakit paru yang ditandai dengan peradangan dan penyempitan saluran napas kecil (bronkiolus). Kondisi ini menyebabkan kerusakan permanen pada paru-paru dan memicu gangguan pernapasan kronis. 

"Penyebabnya karena menghirup bahan kimia berbahaya yang merusak bronkiolus atau terjadi infeksi," tutur dr Rita Hapsari Meta SpP FAPSR. 

Salah satunya diacetyl, yakni zat kimia yang ditemukan dalam cairan rokok elektronik (e-cigarette) atau vape. Terutama e-liquid yang beraroma mentega atau manis. Meskipun diacetyl telah dilarang di sejumlah negara seperti Inggris, Uni Eropa, dan Amerika Serikat, zat ini masih ditemukan dalam vape ilegal yang beredar di negara-negara lain, termasuk Indonesia. 

"Bahan kimia lain, seperti asetaldehida dan formaldehida, yang ditemukan dalam beberapa e-liquid, juga dapat mengiritasi dan merusak paru-paru," imbuh dokter paru yang berpraktik di Mayapada Hospital Surabaya itu. 

Menariknya, baik vape nikotin maupun non-nikotin tetap memiliki potensi memicu popcorn lung. Hal itu disebabkan oleh bahan tambahan kimia yang digunakan dalam e-liquid, bukan hanya kandungan nikotinnya. Popcorn lung juga dapat disebabkan oleh paparan zat-zat lain. 

"Di antaranya asap dari bahan kimia industri seperti amonia atau klorin, obat-obatan tertentu seperti obat kemoterapi, penyakit menular seperti infeksi saluran pernapasan, dan kondisi peradangan kronis yang mempengaruhi paru," beber dokter Rita. 

Sayangnya, banyak pengguna vape yang tidak menyadari bahaya tersebut karena gejalanya samar dan kerap disangka asma atau Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). “Gejala awalnya menyerupai asma atau PPOK seperti batuk kering kronis, sesak napas saat beraktivitas, napas berbunyi (mengi), dada terasa berat, dan cepat lelah,” sambungnya. 

Untuk memastikan diagnosis popcorn lung, pasien perlu menjalani pemeriksaan menyeluruh. Mulai dari tes fungsi paru, CT Scan dada, hingga bronkoskopi dengan biopsi. Pemeriksaan ini bertujuan melihat sejauh mana kerusakan pada saluran udara kecil terjadi dan untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit paru lainnya. 

Lantas, apakah popcorn lung bisa disembuhkan? “Tidak ada obat khusus untuk popcorn lung. Tapi gejalanya bisa dikendalikan agar tidak memburuk,” jawabnya. Penanganan biasanya berupa pemberian kortikosteroid untuk mengurangi peradangan, antibiotik bila ada infeksi sekunder, bronkodilator untuk membuka saluran napas, dan obat batuk. 

Pada kondisi yang berat, pasien mungkin memerlukan terapi oksigen. Sebab, popcorn lung dapat membuat seseorang lebih berisiko mengalami bronkitis dan pneumonia yang dapat bikin kesulitan bernapas hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. “Untuk mengurangi gejala sesak, oksigen dapat diberikan melalui nasal kanul maupun masker oksigen."

Selain itu, fisioterapi pernapasan juga penting untuk menjaga kapasitas paru agar tidak menurun. Terapi ini membantu pasien menjaga kualitas hidup meskipun paru-parunya telah mengalami kerusakan.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore