JawaPos.com – Gatal pada eksim kronis terbukti berkaitan erat dengan keberadaan bakteri staph yang dapat memicu reaksi saraf pada kulit.
Eksim merupakan kondisi peradangan kulit yang ditandai oleh kemerahan, kering, dan rasa gatal yang bisa berlangsung lama.
Menurut Isaac Chiu, Ph.D., profesor imunologi dari Harvard Medical School di Boston, bakteri Staphylococcus aureus ditemukan pada lebih dari 90% lesi eksim yang gatal.
Pemahaman tentang pemicu gatal akibat eksim membantu dalam pengelolaan gejala secara lebih tepat dan terarah.
Baca Juga: Mengapa Eksim Selalu Terasa Gatal dan Cara Efektif Meredakannya Tanpa Memperparah Kondisi KulitBerikut penelitian baru ungkap peran bakteri staph sebagai pemicu gatal parah pada kulit eksim kronis dilansir dari laman Health Central, Sabtu (7/6):
1. Bakteri Staph sebagai PemicuPenelitian terbaru menunjukkan bahwa Staphylococcus aureus berperan langsung dalam menimbulkan rasa gatal pada kulit penderita eksim. Bakteri ini ditemukan dalam kadar tinggi pada lesi kulit eksim dan menghasilkan enzim protease V8 yang mengaktifkan saraf pemicu gatal.
Aktivasi tersebut terjadi melalui protein PAR1 yang mengirimkan sinyal gatal dari kulit ke otak secara langsung. Temuan ini menjadi penjelasan baru mengapa rasa gatal pada eksim sering muncul meskipun tanpa rangsangan fisik tertentu.
2. Enzim V8 sebagai Faktor Utama
Enzim protease V8 dari bakteri staph terbukti sebagai satu-satunya enzim yang memicu respons gatal intens pada tikus dan sel manusia. Sampel kulit dari penderita eksim menunjukkan konsentrasi tinggi enzim ini dibandingkan individu tanpa eksim.
Enzim tersebut membangkitkan protein saraf PAR1 yang biasanya tidak aktif, sehingga memulai sinyal gatal. Penemuan ini mengidentifikasi target baru dalam pengembangan obat untuk menghentikan rasa gatal dari sumbernya.
3. Respons Tubuh terhadap Sentuhan Ringan
Tikus yang terpapar Staphylococcus aureus menjadi sangat sensitif terhadap sentuhan ringan atau alloknesis. Respons ini mirip dengan gejala pada penderita eksim, di mana sentuhan ringan sekalipun dapat memicu rasa gatal berlebihan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa bakteri bukan hanya memperburuk kondisi kulit, tetapi juga mengubah respons saraf terhadap rangsangan. Hal ini menjelaskan kenapa gatal pada eksim terasa lebih hebat dibandingkan iritasi kulit biasa.
4. Obat Potensial untuk Menghambat Gatal
Obat yang saat ini digunakan untuk gangguan pembekuan darah, yaitu Zontivity (vorapaxar), ditemukan dapat memblok reseptor PAR1. Dalam percobaan pada tikus, pemberian obat ini mampu menghentikan siklus gatal yang dipicu oleh enzim V8.
Meski belum digunakan untuk eksim, temuan ini membuka potensi pengembangan terapi baru yang lebih spesifik. Penghambatan reseptor saraf secara lokal di kulit bisa menjadi solusi untuk mengatasi gatal tanpa efek sistemik.
5. Langkah Rumahan untuk Meredakan Gatal
Terapi dingin dengan kain basah atau es selama 5 hingga 10 menit terbukti membantu menenangkan kulit. Mandi oatmeal koloid juga dapat meredakan iritasi karena sifat anti inflamasi alaminya.
Penggunaan pelembab udara dan pembersih udara mampu mengurangi pemicu lingkungan seperti debu dan alergi. Penting menjaga kulit tetap lembab dengan pelembab kental seperti petroleum jelly, terutama setelah mandi.
6. Peran Antihistamin dan Krim Bebas Steroid
Antihistamin oral seperti Benadryl membantu meredakan gatal dan mendukung kualitas tidur saat gejala memburuk di malam hari. Krim topikal seperti pimecrolimus dan tacrolimus digunakan sebagai terapi antiradang non-steroid yang aman untuk penggunaan jangka panjang.
Produk perawatan kulit yang mengandung ceramide dan gliserin membantu memperkuat penghalang alami kulit. Penggunaan krim sebaiknya dilakukan setelah mandi saat kulit masih lembab untuk efektivitas optimal.
7. Mengurangi Jumlah Bakteri di Kulit
Membersihkan kulit dengan sabun antibakteri dapat membantu menurunkan populasi Staphylococcus aureus. Antibiotik topikal juga digunakan di area sensitif seperti rongga hidung, tempat bakteri ini sering berkoloni.
Mengurangi jumlah bakteri di kulit berkontribusi dalam menekan risiko peradangan dan gatal berulang. Kebersihan lingkungan dan rutinitas perawatan kulit yang konsisten menjadi bagian penting dari manajemen eksim.
Mengetahui bahwa bakteri staph bisa menjadi pemicu utama gatal pada eksim memberikan arah baru dalam pengobatan dan pencegahan gejala kulit yang mengganggu.