Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 2 Juni 2025 | 15.09 WIB

Kenali Gejala Cacar Api pada Lansia dan Upaya Pencegahannya

Bintil berisi air timbul di sisi kanan tubuh penderita herpes zoster cacar api (cacar ular) yang disebabkan virus varicella-zoster. (KPA Maluku/Antara) - Image

Bintil berisi air timbul di sisi kanan tubuh penderita herpes zoster cacar api (cacar ular) yang disebabkan virus varicella-zoster. (KPA Maluku/Antara)

JawaPos.com–Dokter spesialis penyakit dalam konsultan reumatologi dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR menjelaskan, cacar api atau herpes zoster disebabkan oleh infeksi virus yang sama dengan penyebab terjadinya cacar air. Gejala penyakit cacar api juga ditemukan pada pasien lanjut usia.

Menurut Sandra Sinthya Langow, setelah seseorang sembuh dari cacar air, virus tersebut tidak mati. Tapi bisa menyebabkan cacar api apabila ketahanan tubuh menurun.

”Jadi virus itu berdiam di tubuh kita, dia tinggal tunggu waktu. sampai seseorang itu menjadi tua misalnya, atau sistem ketebalan tubuhnya menurun dan dia menjadi bangkit kembali,” kata dokter lulusan Universitas Indonesia (UI) itu dalam sebuah sesi diskusi seperti dilansir dari Antara di Jakarta.

Dia menambahkan, penyakit ini sering terjadi pada orang berusia di atas 50 tahun. Selain menyebabkan ruam di kulit, cacar api juga dapat menimbulkan rasa sakit ekstrem seperti terasa tersengat listrik, rasa terbakar, atau tertusuk paku.

”Sakitnya tidak hanya pada waktu (kulit) lagi melepuh saja, tapi sakitnya bisa bertahan hingga satu tahun kadang-kadang. Jadi meski kulitnya sudah sembuh, tapi sakitnya masih berasa,” terang Sandra.

Selain usia lanjut, menurut dia, kondisi yang dapat meningkatkan risiko cacar api antara lain riwayat keluarga, kanker, diabetes, autoimun, penyakit kardiovaskular, stres, kondisi paru-paru kronis, hingga jenis kelamin wanita.

Dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Reumatologi Indonesia itu menjelaskan, jumlah pasien yang disebabkan autoimun mengalami peningkatan dua sampai tiga kali lebih besar dibandingkan populasi umum.

”Pasien autoimun itu mengalami disfungsi atau gangguan dari sistem imunnya sehingga lebih rentan terkena infeksi dan juga lebih cenderung memberat kalau terkena infeksi. Kemudian faktor kedua adalah konsekuensi akibat pengobatan karena salah satu efek samping obat autoimun ini adalah peningkatan resiko infeksi,” papar Sandra Sinthya Langow.

Sandra mengatakan, cacar api dapat dicegah dengan menjalani pola hidup sehat serta menghindari stres. Melakukan vaksinasi juga menjadi salah satu upaya penting untuk mencegah munculnya gejala cacar api. Terutama bagi orang lanjut usia yang rentan terserang penyakit tersebut.

”Selain itu, kita harus menghindari kontak dengan pasien cacar air atau cacar api. Kita juga perlu mendiskusikan vaksinasi cacar api ini dengan dokter kita masing-masing,” ucap Sandra Sinthya Langow.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore