
Skoliosis ringan sering tak terdeteksi karena minim gejala. (pexels)
JawaPos.com – Skoliosis, atau kondisi tulang belakang yang melengkung secara abnormal ke samping, sering kali dianggap sebagai gangguan yang hanya terjadi dalam kasus parah.
Padahal, sebagian besar kasus skoliosis justru dimulai dari kondisi ringan yang sering tidak disadari oleh pasien maupun orang tuanya.
Skoliosis ringan biasanya tanpa gejala dan tidak menimbulkan keluhan nyeri atau gangguan gerak pada tubuh.
Namun jika tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini, kelengkungan bisa memburuk seiring waktu, terutama saat anak mengalami lonjakan pertumbuhan.
"Skoliosis adalah kelainan yang dapat terjadi tanpa penyebab yang jelas, dan lebih umum terjadi pada wanita. Diagnosis dan penanganan yang tepat diperlukan untuk mencegah perkembangan kondisi yang lebih serius," jelas dr. Andhika Prasetya, Sp.OT, dalam kanal YouTube FKKMK UGM Official.
Penelitian dari Journal of Pediatric Orthopaedics tahun 2024 menunjukkan bahwa sekitar 2 sampai 4 persen anak dan remaja mengalami skoliosis, dan lebih dari 60 persen dari mereka tidak menyadari perubahan bentuk tulang belakangnya hingga derajat kelengkungan mencapai tahap sedang.
"Skoliosis ringan sering tidak bergejala. Anak tetap bisa beraktivitas seperti biasa tanpa keluhan. Justru itu yang membuatnya sulit dikenali," jelas dr. Andhika Prasetya, Sp.OT
dr. Andhika menambahkan bahwa pemeriksaan rutin sangat penting, terutama saat anak memasuki usia pubertas.
Pada fase ini, pertumbuhan tulang sangat cepat dan risiko skoliosis progresif akan meningkat.
Salah satu cara sederhana untuk mendeteksi skoliosis dini adalah melalui Adam’s Forward Bend Test, yaitu pemeriksaan dengan membungkukkan badan ke depan untuk melihat asimetri pada bahu, pinggul, atau tulang belikat.
Jika ditemukan tanda awal skoliosis, dokter biasanya menyarankan pemeriksaan lanjutan seperti foto rontgen untuk mengukur sudut kelengkungan atau Cobb angle.
Bila kelengkungan masih di bawah 20 derajat, biasanya cukup dilakukan observasi dan terapi non-bedah seperti fisioterapi atau penggunaan brace atau penyangga.
Menurut data dari American Association of Neurological Surgeons, skoliosis ringan dapat ditangani tanpa operasi jika terdeteksi sejak awal dan pasien menjalani kontrol berkala.
"Penanganan skoliosis ringan di bawah 20 derajat melibatkan terapi fisik dan modifikasi gaya hidup untuk mengurangi gejala tanpa mengharuskan operasi," ujar dr. Andhika.
Faktor penyebab skoliosis ringan umumnya tidak diketahui, namun dapat diperburuk oleh postur tubuh yang buruk, penggunaan gadget berlebihan, serta duduk dalam posisi tidak ergonomis.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
