Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 5 Mei 2025 | 23.54 WIB

Baru Berusia 19 Tahun sudah Kanker Payudara, Merokok hingga Konsumsi Alkohol Jadi Pemicu

ilustrasi deteksi dini kanker payudara. Sumber foto: Freepik - Image

ilustrasi deteksi dini kanker payudara. Sumber foto: Freepik

JawaPos.com - Tiga tahun terakhir kasus kangker payudara di usia remaja meningkat. Gaya hidup dan keturunan menjadi beberapa faktor penyebabnya. Pemeriksaan deteksi dini harus dilakukan dengan alat khusus. Tujuannya agar tidak menimbulkan radiasi pada pasien muda.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi-onkologi medik Cihos Andy Purnomo mengatakan, ada tren kenaikan remaja yang mengalami kangker payudara. Kalau sebelumnya penyakit tersebut banyak dialami usia 40 tahun ke atas, sekarang banyak ditemukan pasien yang usianya lebih muda. "Empat tiga tahun terakhir kenaikan itu terjadi," ucapnya kemarin.

Secara angka, Andy belum menjelaskan detail. Namun, dari temuan, usia 19 tahun sudah ada yang terkena kanker payudara. Gaya hidup dan keturunan bisa menjadi pemicunya. Merokok, konsumsi alkohol, serta pola makan tinggi lemak menjadi penyumbang utama. Karena 90 persen adalah faktor gaya hidup.

Menurutnya, perokok pasif atau aktif keduanya berisiko. Salah satu antisipasi dini dengan skrining. Namun, pemeriksaan payudara sendiri (Sadari) tidak cukup. Bagi usia produktif, perlu diskrining dengan alat khusus yang tanpa menimbulkan radiasi. Sehingga tidak berdampak pada tubuh pasien remaja.

Direktur Cihos dr. Siska Sindhuatmadja mengatakan, untuk mendukung deteksi dini, Ciputra menghadirkan alat ABUS (Automated Breast Ultrasound System), teknologi pemindaian tanpa radiasi yang aman untuk perempuan muda dan remaja. “ABUS tidak seperti mamografi yang berbasis sinar-X dan tidak disarankan untuk usia muda,” terangnya.

Siska menjelaskan, alat ini mampu mendeteksi tumor pada payudara dengan jaringan padat, yang umumnya dimiliki wanita usia produktif. Mamografi dinilai kurang efektif untuk kelompok produktif. Sementara ABUS memberikan gambar lebih akurat tanpa risiko radiasi, sehingga aman untuk skrining rutin.

Menurutnya, alat skrining itu baru diperkenalkan dua setengah bulan terakhir. Respons masyarakat mulai terlihat. Sudah ada 30 pasien yang menjalani skrining dalam dua bulan ini. Jumlah itu diprediksi terus bertambah seiring peningkatan edukasi dan sosialisasi.

Salah satu pasien skrining, Nitya Primantari, menuturkan, tingginya kasus kangker payudara pada usia produktif membuatnya lebih waspada. Dari literasi, dia melakukan pertamanya skrining di rumah sakit. "Sebagai antisipasi dini, skriningnya tidak lama, cuma melihat hasilnya yang bikin cemas," ucapnya.(omy)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore