Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 6 Januari 2025 | 21.17 WIB

Selain Stres, Rambut Rontok Bisa Dipicu Kurang Nutrisi hingga Autoimun

KETAHUI PEMICUNYA: Jika kerontokan rambut lebih dari 100 helai per hari atau tidak membaik dalam 6–9 bulan, segera periksakan ke dokter. (Foto: ALFIAN RIZAL/JAWA POS)

Menemukan helaian rambut yang berjatuhan atau menempel di sisir tak jarang bikin khawatir. Meski tidak selalu kondisi yang serius, tetap berikan perhatian. Kerontokan rambut yang berlebihan tidak hanya mengganggu penampilan, tetapi bisa juga menjadi tanda suatu penyakit tertentu.

UMUMNYA, setiap orang akan kehilangan 50–100 helai rambut per hari. Kondisi yang demikian itu normal dan tidak berbahaya. ”Bisa dilihat apakah ada suatu kejadian yang menyebabkan stres antara lain melahirkan, sempat demam, atau baru menjalani operasi. Biasanya saat tubuh sudah beradaptasi, kerontokan akan membaik dengan sendirinya dalam 6–9 bulan,” papar dr Agustina Tri Pujiastuti SpDVE FINSDV.

Apabila kerontokannya lebih dari 100 helai per hari atau dalam 6–9 bulan tidak membaik, sebaiknya konsultasikan ke dokter. Untuk dideteksi apakah itu merupakan gejala suatu penyakit tertentu. Antara lain, penyakit lupus, sifilis, atau kelainan hormon tiroid.

Penyebab rambut rontok cukup beragam, bergantung jenisnya. ”Kerontokan rambut yang disebabkan kelainan autoimun disebut alopecia areata. Biasanya polanya lokal jadi seperti pitak di bagian tertentu saja,” jelas dokter spesialis kulit dan kelamin RS Royal Surabaya itu.

Ada pula telogen effluvium. Yakni, kerontokan rambut yang terjadi secara merata dalam jumlah besar. Kondisi itu disebabkan ketidakseimbangan dalam siklus pertumbuhan rambut. Misalnya, saat tubuh mengalami stres atau baru sembuh dari penyakit infeksi.

dr AGUSTINA TRI PUJIASTUTI SpDVE FINSDV. (Dok. Pribadi)   

”Kemudian, ada alopecia androgenetik yang kaitannya dengan genetik dan hormon androgen. Bisa terjadi pada laki-laki maupun perempuan yang ditandai dengan penipisan rambut dengan pola tertentu,” lanjutnya.

Pada anak-anak sering kali karena adanya infeksi jamur pada kulit kepala. Kerontokan rambut juga bisa disebabkan oleh efek samping obat-obatan dan kebiasaan yang kurang baik. ”Rontok akibat penggunaan obat atau produk rambut yang tidak cocok dan kebiasaan sering mengikat rambut terlalu kencang dapat membaik jika semua itu dihentikan,” ungkap dosen FK UPN Veteran Jawa Timur itu.

Pengobatan rambut rontok disesuaikan dengan diagnosis. Pada alopecia androgenetik biasanya diberikan hair tonic untuk menstimulasi pertumbuhan rambut. Bisa pula dengan obat minum.

”Pada kelainan autoimun, kita lakukan injeksi kortikosteroid pada area yang terjadi kebotakan. Kalau kekurangan nutrisi, kita beri suplemen sesuai kebutuhan. Terapi red light juga banyak digunakan saat ini,” beber dokter Agustina.

Pengobatan alami masih dalam penelitian. Sejauh ini, rosemary oil, pumpkin seed oil, coconut oil bisa disarankan untuk mengatasi rambut rontok. ”Pada rambut yang rusak dan bercabang, memotong rambut pendek dapat membantu mengurangi kerontokan. Baiknya rambut tidak diikat hingga tertarik. Kurangi hair treatment yang berpotensi merusak rambut,” pesannya. (lai/c6/nor)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore