Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 31 Desember 2024 | 22.41 WIB

Hati-hati Pembusukan Otak Anak, Psikolog Samanta Elsener Ungkap Sejumlah Tips Bagi Orang Tua di Era Digital

ilustrasi otak manusia. Sumber foto: Pixabay - Image

ilustrasi otak manusia. Sumber foto: Pixabay

 
JawaPos.com - Musim liburan akhir tahun kini telah tiba. Ini merupakan momen yang dinanti-nantikan baik oleh para remaja, anak, maupun orang tua untuk dapat menghabiskan waktu bersama dengan beragam kegiatan. 
 
Namun, waktu luang yang melimpah sering kali menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi para orang tua dalam menjaga keseimbangan aktivitas digital anak remaja mereka. Dengan akses mudah ke perangkat digital, remaja cenderung menghabiskan waktu dengan bermain game, menjelajahi media sosial, atau mencari hiburan via daring. 
 
Untuk itu, peran orang tua menjadi sangat penting dalam memastikan keseimbangan kehidupan digital anak-anak mereka selama masa liburan supaya tidak berlebihan.
 
 
Sebagai platform digital hiburan, TikTok  memiliki komitmen untuk melindungi penggunanya, termasuk para remaja, sekaligus mendorong penggunaan platform digital yang lebih bijak dan sehat.
 
TikTok menggandeng Samanta Elsener, seorang psikolog keluarga dan anak, sebagai bagian dari kampanye untuk mendukung kebiasaan digital remaja yang sehat.  Bersama Samanta, TikTok menghadirkan sejumlah tips praktis untuk membantu para orang tua dalam mengelola aktivitas digital anak remaja selama liburan sekolah.
 
Apa saja? Berikut beberapa tips menariknya:
 
1. Buat Jadwal Kegiatan yang Seimbang
 
Belakangan muncul istilah 'brain rot' yang diartikan sebagai pembusukan otak karena terlalu banyak dan lama mengkonsumsi konten digital yang tidak berkualitas. Untuk menghindari hal ini, pembatasan waktu layar yang sehat menjadi sangat penting.
 
"Gadget memang memudahkan dan dapat menghibur anak remaja dengan berbagai konten yang tersedia, membuat anak tidak mudah bosan. Namun, perkembangan anak yang optimal secara emosional, sosial, dan fisik memerlukan perhatian pada keseimbangan waktu dalam mengakses platform daring. Bila tidak dikelola dengan seimbang, maka daya konsentrasi anak dapat menurun, keterampilan belajarnya terhambat, keterampilan sosialnya tidak terlatih dengan optimal, dan risiko kecemasan serta depresi pun meningkat,” ungkap Samanta.
 
Dia juga mengatakan, selama liburan, orang tua tetap perlu mengajak anak remajanya untuk menyusun jadwal kegiatan yang seimbang antara kegiatan di dunia maya maupun di dunia nyata.
 
Di TikTok, terdapat kebijakan batas waktu layar maksimal 60 menit untuk pengguna di bawah 18 tahun. Ini bisa menjadi patokan bagi orang tua untuk menerapkan
pengaturan waktu layar yang sesuai bagi anak remajanya.
 
“Dengan jadwal yang teratur, mereka dapat lebih mudah mengembangkan keterampilan sosial dan emosional yang seimbang,” lanjut Samanta.
 
2. Pantau Kegiatan Digital Anak Remaja dengan Gentle Parenting
 
Pola asuh gentle parenting dapat membantu orang tua mendukung perkembangan kecerdasan emosional anak sekaligus membangun rasa percaya diri dan ketahanan mereka. 
 
"Pola asuh ini menekankan pentingnya mendengarkan secara aktif, menjaga komunikasi yang terbuka, serta membangun rasa saling percaya, termasuk tentang kegiatan digital anak remajanya. Untuk itu, orang tua tetap perlu melakukan pemantauan, tanpa terlalu mengontrol. Pendampingan yang hangat dan suportif mendorong anak untuk terbuka tentang pengalaman mereka di dunia maya," kata Samanta.
 
Orang tua pun bisa memanfaatkan fitur keamanan Pelibatan Keluarga di TikTok, yang memungkinkan orang tua untuk memantau dan mengelola aktivitas anak di platform, termasuk mengatur batas waktu penggunaan, membatasi konten, dan mengelola privasi. 
 
Samanta menekankan, “Orang tua dapat menggunakan momen ini untuk berdialog, memberikan edukasi tentang etika digital, dan membantu anak menghadapi tantangan online dengan lebih percaya diri.”
 
3. Bangun Bonding dengan Anak Remaja
 
Memanfaatkan waktu liburan untuk membangun koneksi emosional dengan anak remaja dapat menciptakan hubungan yang lebih hangat dan mendalam. 
 
"Orang tua yang aktif berinteraksi dengan anak, menyediakan waktu khusus bermain setidaknya 20 menit sehari, dapat membuat anak merasa lebih hangat dan diperhatikan. Anak bukan saja butuh bermain untuk mengembangkan keterampilan sosialnya, melainkan juga membutuhkan kehadiran dan perhatian kasih sayang orang tua secara konsisten sehingga anak merasa lebih aman dan percaya diri," ujar Samanta.
 
Di sini , orang tua bisa memanfaatkan platform digital seperti TikTok untuk mendapatkan inspirasi seputar kegiatan bersama keluarga, seperti memasak bersama, membuat vlog, atau mencoba tantangan kreatif. Anak remaja pun bisa sekaligus dilatih untuk mengambil peran dan tanggung jawab, misalnya dengan membuat mininvlog saat liburan, atau menjadi kameramen. Aktivitas ini tidak hanya menyenangkan tetapi juga melatih kreativitas mereka sekaligus mempererat momen
bersama dengan keluarga.
 
Liburan akhir tahun adalah momen yang tepat untuk menciptakan kebiasaan digital yang sehat bagi anak remaja. Dengan memanfaatkan waktu ini, orang tua dapat berperan aktif dalam membangun rutinitas digital yang seimbang, memperkuat hubungan emosional dengan anak remajanya, sekaligus mendorong mereka untuk terlibat dalam aktivitas yangnbermanfaat. 
 
Pendekatan ini tidak hanya membantu anak remaja mereka dalam mengembangkan keterampilan sosial dan emosional, tetapi juga memastikan mereka tetap terlindungi dari risiko dunia digital.
Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore