Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 16 September 2024 | 20.38 WIB

Mencegah Penyempitan Pembuluh Darah dengan Gaya Hidup Sehat dan Deteksi secara Berkala

FOTO DIPERAGAKAN AISYAH JATU K. Rutin melakukan aktivitas fisik dan mengatur pola makan dengan menghindari makanan tinggi lemak jenuh serta kolesterol dapat mencegah penumpukan plak. - Image

FOTO DIPERAGAKAN AISYAH JATU K. Rutin melakukan aktivitas fisik dan mengatur pola makan dengan menghindari makanan tinggi lemak jenuh serta kolesterol dapat mencegah penumpukan plak.

Gaya hidup tidak sehat meningkatkan risiko penyempitan pembuluh darah atau aterosklerosis. Kondisi itu dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan serius. Di antaranya, penyakit jantung koroner dan stroke. Terapkan gaya hidup sehat, lakukan pemeriksaan rutin untuk mendeteksinya.

ATEROSKLEROSIS atau penyempitan pembuluh darah terjadi ketika plak dari lemak, kalsium, dan zat lain menumpuk pada dinding arteri. Akibatnya, arteri menyempit dan mengeras sehingga aliran darah ke organ dan jaringan tubuh terganggu.

Kondisi itu dapat memicu berbagai penyakit kardiovaskular. Mulai penyakit jantung koroner hingga penyakit arteri perifer yang lukanya sulit sembuh. ”Jika yang tersumbat arteri koroner, terjadi serangan jantung. Jika yang tersumbat arteri di otak, bisa kena stroke,” papar dr Anindita Primiari Qodrina SpJP FIHA.

Dia menyebut faktor utama aterosklerosis adalah kerusakan dinding arteri yang disebabkan gaya hidup tidak sehat. Salah satunya, pola makan tinggi lemak jenuh dan kolesterol yang dapat mempercepat pembentukan plak. Apalagi jika tidak dibarengi dengan aktivitas fisik.

”Tidak pernah berolahraga, jarang bergerak, akan mengurangi kemampuan tubuh untuk mengontrol kolesterol dan tekanan darah,” sambung dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Mayapada Hospital Surabaya itu.

Orang yang memiliki riwayat hipertensi atau kolesterol berisiko besar mengalami aterosklerosis. Termasuk penderita diabetes dan perokok. ”Risikonya meningkat seiring bertambahnya usia,” tambahnya.

Dokter Anindita mengimbau untuk melakukan pemeriksaan rutin guna mendeteksi aterosklerosis sebelum gejala muncul. Beberapa pemeriksaan yang disarankan meliputi tes tekanan darah berkala, tes gula darah, skrining awal sumbatan pembuluh darah koroner dengan EKG, dan mengukur kadar kolestrol dalam darah. ”Beberapa rumah sakit menawarkan pemeriksaan USG doppler vaskular karotis untuk deteksi plak yang berhubungan dengan stroke,” lanjutnya.

Deteksi dini memungkinkan penanganan lebih cepat. Dengan begitu, komplikasi serius di kemudian hari dapat dicegah. Pengobatan bisa dilakukan dengan pemberian obat-obatan untuk mengurangi kolesterol, tekanan darah, atau diabetes.

Beberapa pasien memerlukan pengencer darah untuk mencegah pembentukan bekuan darah. ”Pada kasus yang berat membutuhkan tindakan angioplasti, pemasangan ring pembuluh darah, atau pembedahan bypass untuk membuka atau mengganti arteri yang tersumbat,” jelas dokter yang juga berpraktik di RS Royal Surabaya dan RS Manyar Medical Center Surabaya tersebut.

Namun, dari semua itu, perubahan gaya hidup sangat dibutuhkan sebagai penunjang kesembuhan dan pencegahan. Diet rendah lemak jenuh dibarengi olahraga rutin dan terukur selama 150 menit dalam sepekan atau rata-rata 20–30 menit per hari. (lai/c7/nor)

---

KENALI GEJALA ATEROSKLEROSIS

•Nyeri dada atau angina yang dapat menjadi indikasi aterosklerosis pada jantung

•Pusing, kesulitan bicara atau kelemahan pada satu sisi tubuh yang bisa menjadi tanda aterosklerosis pada otak

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore