Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 2 Juli 2024 | 05.10 WIB

7 dari 10 Ibu di Indonesia Alami Mom Shaming, Pelaku Utamanya Justru dari Keluarga

 

Peneliti Utama Studi ini sekaligus Ketua HCC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH

 
JawaPos.com - Studi terbaru dari Health Collaborative Center (HCC) mengungkap bahwa sebanyak 7 dari 10 ibu di Indonesia alias 72 persen ibu di Indonesia pernah mengalami mom shaming. Parahnya, para pelaku mom shaming adalah dari lingkaran keluarga korban.
 
Mom shaming sendiri adalah saat seseorang mengkritik bahkan hingga mempermalukan seorang ibu terkait cara dia mengasuh anaknya. Bentuk mom shaming ini bermacam-macam. 
 
Paling banyak ditemui adalah saat seseorang menyalahkan ibu ketika anaknya sakit ataupun kurus. Kemudian penampilan fisik ibu usai melahirkan, masalah ibu yang tidak menyusui, hingga ibu yang bekerja saat anak masih kecil.
 
“Hasil studi menunjukkan, 7 dari 10 ibu di Indonesia yang diwakili responden penelitian ini pernah mengalami bentuk mom shaming yang berdampak signifikan terhadap kesehatan mental dan emosional mereka," ujar Peneliti Utama Studi ini sekaligus Ketua HCC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH kepada wartawan, Senin (1/7).
 
Penelitian ini, kata dr. Ray juga mengungkap bahwa pelaku mom shaming, menurut ibu responden, justru diterima dari lingkungan inti mereka, yaitu keluarga. Kemudian disusul dari kerabat dan lingkungan tempat tinggal. 
 
"Ini tentunya temuan yang perlu di kaji lebih sistematis, karena keluarga harusnya menjadi core support system yang melindungi ibu dari perlakuan mom shaming,” tegasnya.
 
Akibat mendapatkan mom shaming, dr. Ray menyebut bahwa mayoritas ibu akhirnya cenderung terpengaruh sehingga secara deskripsi lebih dari 50% terpaksa mengganti pola asuh dan parenting untuk mengikuti kritik dari pelaku mom shaming. 
 
Bahkan hanya 23% ibu responden yang mengaku berani melawan dan menghindar dari perlakuan mom shaming. 
 
"Kondisi ini disebabkan kurang optimalnya peran support system yaitu keluarga yang harusnya melindungi mereka," tutur dr. Ray.
 
"Akibatnya selain tidak bisa melawan dan menghindar, malahan ibu yang mengalami mom shaming takluk dengan kritik tidak membangun ini dan mengorbankan pola asuh atau gaya parenting yang bisa saja sudah baik,” jelas pengajar Kedokteran Kerja di Kedokteran Komunitas FKUI ini. 
 
Lebih menyedihkannya lagi, dari 72 persen ibu yang mengalami body shaming, hanya 11 persen ibu yang mendapat pertolongan dari profesional. 
 
"Hanya 11% ibu Indonesia yang diwakili responden studi ini yang mendapatkan pertolongan tenaga konselor atau psikolog," pungkas dr. Ray.
 
Untuk diketahui, studi ini merupakan rangkaian penelitian dari kajian literatur, uji instrumen menggunakan Mott Children Hospital USA, University of Michigan kuesioner yang telah divalidasi dan mencakup lebih dari 800 ibu responden, dengan internal kepercayaan 95 persen. Sebelum survei studi in telah melalui kajian sistematik review mendalam sejak Maret 2024.
 
HCC menyimpulkan bahwa tingginya prevalensi mom shaming ini menandakan bahwa wilayah proteksi ibu terkesan kurang optimal, sebaliknya malah keluarga menjadi actor perlakuan Mom-Shaming sehingga perlu dimitigasi. Salah satunya dengan optimalkan edukasi dan narasi kritik pengasuhan menjadi berorientasi dukungan.
 
HCC juga mengingatkan pemerintah untuk meningkatkan cakupan tenaga konselor parenting bahkan psikolog di Puskesmas lebih merata. Bila memungkinkan di tingkatkan peran kader posyandu dan Tim Pendamping Keluarga untuk memiliki kompetensi konselor pengasuhan.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore