Ilustrasi jantung
JawaPos.com – Kasus kematian mendadak dikarenakan henti jantung pada atlet maupun public figure memang sempat mengejutkan masyarakat. Sosok yang terlihat sehat dan bugar ternyata bisa mengalami henti jantung saat melakukan aktivitas. Lalu, apa sebabnya?
Konsultan aritmia di Heartology Cardiovascular Hospital, dr. Sunu Budhi Raharjo, SpJP(K), PhD, memaparkan, henti jantung paling sering disebabkan karena adanya gangguan irama jantung atau yang dikenal dengan Aritmia, yang berupa fibrilasi ventrikel atau takikardia ventrikel yang cepat.
Salah satu gangguan aritmia yang sering terjadi pada pasien tanpa keluhan adalah karena adanya Sindroma Brugada. Sindrom ini menjadi penyumbang terbesar kematian jantung mendadak pada individu yang sehat terutama di daerah Asia Tenggara dengan presentase 20 persen. Penderita akan mengalami impuls listrik pada sel di bilik kanan atas jantung hingga menyebabkan jantung mudah berdetak dengan cepat.
Diungkapkan dr. Sunu, gejala yang timbul dari sindrom Brugada tidak jauh berbeda dengan gangguan irama jantung lainnya. Seperti rasa berdebar, pingsan, kejang sampai meninggal mendadak.
“Sampai saat ini penyebab sindrom Brugada belum jelas. Akan tetapi, faktor genetik dipercaya memberi kontribusi yang penting,” ujar dr. Sunu.
Seperti pada kasus aritmia dengan sindrom Brugada yang baru-baru ini ia tangani dengan metode Subcutaneous Implantable Cardioverter Defibrillator (S-ICD), pertama kali di Indonesia. Diungkapkan dr. Sunu, ada pasien yang dirujuk dari Papua karena ditemukan gambaran gangguan aritmia, yang disebut Sindrom Brugada.
Padahal, pasien relatif tanpa keluhan. Namun dari hasil interview, didadapatkan bahwa kakak kandung pasien meninggal mendadak pada usia 50an.
Lalu, pada pemeriksaan lanjutan, ditemukan bahwa pada pasien ini sangat mudah tercetus fibrilasi ventrikel, sebuah irama jantung supercepat yang mengancam nyawa.
“Penderita Sindrom Brugada memiliki cacat pada saluran ini dan menyebabkan jantung mudah berdetak dengan sangat cepat (fibrilasi ventrikel). Akibatnya, irama jantung terganggu dan bisa berakibat fatal,” papar dr. Sunu.
Umumnya, untuk penangan, perlu dilakukan pemasangan alat kardiak defibrilator implan (ICD) agar mampu menormalkan denyut jantung sehingga terhindar dari risiko fatal. Namun, kini pemasangan ICD kini tak perlu langsung di jantung, tetapi cukup di bawah kulit melalui metode S-ICD.
“Hal ini mampu memberi komplikasi lebih kecil. Yang tidak kalah penting, aktivitas pasien lebih tidak terganggu,” tambah dr. Sunu.
Pentingnya Pemeriksaan
Kematian yang disebabkan penyakit jantung dapat berupa serangan jantung maupun henti jantung. Serangan jantung terjadi ketika pembuluh darah koroner tersumbat sehingga jantung tidak mendapat oksigen dan nutrisi, dan berakibat fatal.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
