Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 25 November 2023 | 17.46 WIB

Tekan Kasus DBD, Kemenkes Lepas Nyamuk Wolbachia di Lima Kota

ILUSTRASI: Nyamuk aedes aegypti penyebab demam berdarah dengue. - Image

ILUSTRASI: Nyamuk aedes aegypti penyebab demam berdarah dengue.

JawaPos.com – Upaya penanggulangan demam berdarah dengue (DBD) akan digencarkan. Memasuki musim hujan, DBD kerap menjadi wabah rutin. Kementerian Kesehatan kini menggandeng para peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mencegah DBD dengan nyamuk yang mengandung bakteri wolbachia.

Merujuk data Kemenkes, pada Januari hingga November tahun ini, ada 76.499 kasus DBD. Upaya penanggulangan DBD dengan nyamuk wolbachia menjadi satu harapan. Teknologi itu pada prinsipnya memanfaatkan bakteri alami wolbachia yang banyak ditemukan pada 60 persen serangga.

Bakteri tersebut selanjutnya dimasukkan dalam nyamuk Aedes aegypti hingga menetas dan menghasilkan nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia. Diharapkan, nyamuk ber-wolbachia itu menghentikan persebaran Aedes aegeypti yang mengandung dengue.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Maxi Rein Rondonuwu menegaskan bahwa penyebaran nyamuk ber-wolbachia dipastikan aman. Penerapan teknologinya sudah melalui kajian dan analisis risiko dengan melibatkan 25 peneliti top Indonesia. ”Hasilnya bagus. Sudah diujicobakan di Jogjakarta sekitar 5–6 tahun lalu dan hasilnya sangat menggembirakan,” katanya kemarin (24/11).

Hasil kajian dan efektivitas itu telah dikirim ke Badan Kesehatan Dunia (WHO). WHO pun akhirnya merekomendasikan nyamuk tersebut pada 2021. Mempertimbangkan hal itu, Kemenkes memutuskan untuk memperluas area penyebaran nyamuk wolbachia di lima kota, yakni Jakarta Barat, Bandung, Semarang, Bontang, dan Kupang.

Peneliti nyamuk wolbachia UGM Prof Adi Utarini mengatakan, daerah yang disebar nyamuk ber-wolbachia terbukti mampu menurunkan angka kejadian DBD hingga 77 persen. Angka perawatan di rumah sakit juga turun 86 persen.

Bahkan, merujuk pada data Dinas Kesehatan Kota Jogja 2023, kasus DBD tercatat hanya di angka 67 kasus. Berdasar data yang dirangkum, jumlah kasus itu menjadi yang terendah dalam 30 tahun terakhir. ”Hasil ini menjadi bukti penelitian di Jogjakarta sekaligus rekomendasi ke WHO untuk vector control advisory group,” kata sosok yang akrab disapa Uut itu. (lyn/c7/bay)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore