
Sekitar 60% kucing di Amerika mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. (sumber: pexels/Nadin)
JawaPos.com - Obesitas pada kucing dapat membawa masalah bagi sistem pencernaan kucing, dengan menciptakan transformasi dalam susunan mikroba usus dan menghasilkan tinja yang memiliki tingkat keasaman yang tinggi.
Dilansir dari media livescience, Kamis (16/11). Masalah obesitas pada kucing terus meningkat, dengan sekitar 60% kucing di Amerika Serikat dinyatakan mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, seperti yang terungkap dalam laporan State of US Pet Obesity tahun 2022.
Seperti halnya pada manusia, peningkatan berat badan pada kucing dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk perubahan pada sistem pencernaan, diabetes tipe 2, dan peradangan kronis, sebagaimana diungkapkan dalam penelitian yang dipublikasikan pada 29 September di Journal of Animal Science.
Kelly Swanson, seorang profesor nutrisi manusia dan direktur sementara Divisi Ilmu Nutrisi di Universitas Illinois Urbana-Champaign, yang juga merupakan rekan penulis studi ini menyatakan bahwa obesitas pada kucing memiliki dampak besar.
Melalui email kepada Live Science, ia menekankan, "Obesitas pada kucing, seperti halnya pada spesies lain, terkait dengan berbagai masalah kesehatan. Menghindari obesitas dapat mencegah atau menunda banyak masalah kesehatan lainnya."
Dalam upaya untuk memahami konsekuensi dari kebiasaan makan berlebihan pada kucing, sejumlah ilmuwan mengumpulkan sebelas kucing betina dewasa yang telah dimandikan.
Kucing-kucing ini kemudian dibiarkan menikmati makanan kucing kering standar sepuasnya.
Penelitian ini juga melibatkan sejumlah kucing lain yang mendapatkan asupan makanan terkontrol, sehingga efek dari konsumsi makanan dapat dibandingkan.
Skor kondisi tubuh rata-rata (BCS), yang merupakan sistem pengukuran serupa dengan indeks massa tubuh (BMI) pada manusia, awalnya mencapai 5,41 dari skala 9 pada awal penelitian.
Namun, setelah 18 minggu makan berlebihan, skor ini melonjak tajam menjadi 8,27, setara dengan peningkatan berat badan sekitar 30%, menurut temuan dari penelitian tersebut.
Ketika kucing mulai aktif, para peneliti tidak hanya mencatat peningkatan produksi kotoran, tetapi juga perpanjangan waktu transit gastrointestinal, yang merupakan periode antara makanan dan buang air besar.
Untuk mengukurnya, kucing diberikan pewarna hijau yang tidak dapat dicerna, mengubah warna kotoran mereka menjadi hijau.
Hal ini mengakibatkan pengurangan waktu yang tersedia bagi tubuh untuk mencerna makanan, menyebabkan penurunan efisiensi pencernaan atau kecernaan nutrisi, seperti yang dijelaskan oleh Swanson.
Selain itu, hal ini juga memengaruhi mikrobiota tinja kucing, kemungkinan karena penurunan proses pencernaan yang menyebabkan lebih banyak nutrisi melewati sistem pencernaan.
Dikarenakan kucing tidak memperoleh semua nutrisi yang diperlukan, peneliti menemukan "perubahan signifikan" dalam komposisi mikroba usus pada kucing yang mengalami obesitas.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Racing de Santander vs Alaves di Liga Spanyol: Harapan Baba Zorros di El Sardinero
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Augsburg vs Bayer Leverkusen di Liga Jerman: Die Werkself Buru Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Persija vs Persib di Super League 2026/2027: Macan Kemayoran Menang Dramatis!

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022