Ilustrasi. Penyakit darah tinggi muali hantui generasi milenial.
JawaPos.com – Medical Tourism atau wisata kesehatan ke luar negeri memang menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan. Sebab, selain pergi untuk memeriksakan kesehatan, wisatawan bisa sekaligus menikmati keindahan serta keunikan budaya negara yang dituju.
Di Indonesia sendiri, kegiatan berobat sekaligus berwisata ke luar negeri tengah menjadi tren. Salah satu negara yang menjadi tujuan favorit medical tourism adalah Jepang.
Selain alam dan budayanya, Jepang juga terkenal sebagai negara yang memiliki teknologi mutakhir. Termasuk pada teknologi medisnya yang disertai dengan reputasi pelayanan berkualitas tinggi.
Keunggulan Jepang dalam menyediakan akses kesehatan ini menjadi salah satu faktor yang menjadikan penduduknya memiliki harapan hidup tertinggi. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penduduk Jepang memiliki rata-rata usia yang cukup panjang, yakni 84,3 tahun.
Bekerja sama dengan Iseikai International General Hospital dari Holonics Group, JCB pun menyediakan menggelar program layanan Medical Tourism. Diungkapkan President Director JCB, Takumi Takahashi, wisata kesehatan di Jepang memang masih kecil dikarenakan masih banyak rumah sakit yang belum menerima pasien luar negeri. Namun, bukan berarti tidak bisa dilakukan.
Lantas, apa saja yang perlu diperhatikan sebelum melakukan medical tourism ke Jepang?
Pertama, booking layanan kesehatan yang diinginkan. Menjalani wisata kesehatan ke luar negeri pasti berkaitan dengan waktu dan jarak. Untuk memudahkan, Anda harus booking layanan sebelum pergi. Sehingga, Anda sudah memiliki waktu pasti kapan harus berkunjung ke rumah sakit. Sisa waktunya, Anda bisa menyesuaikan dengan aktivitas lainnya.
Kedua, konsultasi dengan dokter Jepang lewat platform digital dan ada penerjemah. Sebelum keberangkatan, baiknya Anda melakukan konsultasi dengan dokter. Iseikai International General Hospital sendiri menyediakan penerjemah untuk membantu pasien asal Indonesia.
Sebab, diungkapkan Takumi, bahasa menjadi salah satu masalah dalam wisata kesehatan selama ini di Jepang. Sehingga, ketersediaan penerjemah harus diperhatikan.
Ketiga, pengaturan keberangkatan. Atur keberangkatan Anda mulai dari tiket, hotel, transpostasi hingga dokumen perjalanan kesehatan di Jepang. Termasuk visa.
Bicara soal visa, Gilang Gustya Pratama selaku Director Jakarta Travel Service (JTS), visa untuk wisata kesehatan ini bisa menggunakan visa kunjungan biasa, yakni 14 hari. Misalnya, untuk kunjungan awal berupa medical check up, 14 hari yang tersedia sangat cukup.
“Medical Check up kan biasanya cukup 3-4 hari. Lalu kalau misalnya nanti harus balik lagi untuk tindakan, visanya tentu akan kami persiapkan untuk perjalanan medis, dalam rangka pengobatan di Jepang,” ujar Gilang.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Mesir vs Iran di Piala Dunia 2026: The Pharaohs Selangkah Lagi ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Tanjung Verde vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: Misi Blue Sharks Pulangkan Green Falcons
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Selandia Baru vs Belgia di Piala Dunia 2026: Pembuktian Romelu Lukaku Belum Habis!
Prediksi Skor Uruguay vs Spanyol di Piala Dunia 2026: La Roja Tak Ingin Tersandung, La Celeste Wajib Menang
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Ekuador vs Jerman di Piala Dunia 2026: Der Panzer Kejar Rekor Sempurna di Fase Grup
