
Psikolog klinis anak dan keluarga sekaligus Ketua Ikatan psikolog Klinis Indonesia Wilayah DKI Jakarta Anna Surti Ariani saat dijumpai di Ronald McDonald House Charities RSCM, Jakarta, Jumat (21/7).
JawaPos.com- Jakarta, Psikolog klinis anak dan keluarga Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Psi mengungkapkan bahwa cara orang tua memberi tahu penyakit yang cukup parah kepada anak adalah dengan menggunakan bahasa yang sederhana, dikutip dari Antara (21/7).
“Sebenarnya ketika menjelaskan sesuatu yang sulit ke anak, kita perlu dengan bahasa yang sesederhana mungkin. Supaya bisa dipahami anak,” kata psikolog yang akrab disapa Nina itu saat dijumpai di Jakarta, dikutip dari Antara, Jumat (21/7).
Ketua Ikatan Psikolog Klinis Indonesia Wilayah DKI Jakarta itu juga mengungkapkan bahwa walaupun orang tua memberitahukan hal buruk kepada anak, namun, mereka sebaiknya tetap membesarkan hati sang anak. Misalnya jika sang anak mengidap leukemia, orang tua bisa dengan jujur memberitahukan penyakit itu dengan tetap mengatakan bahwa sang anak bisa sembuh apabila melewati proses pengobatan.
“Sampaikan juga bahwa apapun yang terjadi, 'Papa dan Mama akan usahakan supaya bisa sembuh dan akan selalu ditemani'. Itu bisa membuat anak merasa bahwa dia tetap dicintai,” kata Nina.
Penjelasan lain juga bisa orang tua ungkapkan lewat gambar. Misalnya orang tua bersama anak bisa menggambar tubuh dan warnai bagian yang sakit, kemudian orang tua bisa jelaskan bagaimana cara penyembuhannya.
Untuk membangkitkan semangat sang anak jika dirinya merasa murung atau kesakitan, orang tua bisa kembali mengingatkan tujuan dari perawatan tersebut.
“Untuk membangkitkan semangat, kita ingatkan tujuannya. Jangan menihilkan sakitnya, tapi, fokus ke tujuan. Contoh beri tahu ‘nanti kalau suntik akan sakit, tapi, itu yang bikin sembuh’ atau 'minum obat pahit, tapi, nanti bisa sembuh,” kata Nina.
Dengan penjelasan tentang penyakit dan pengobatan, anak bisa memiliki pandangan yang lebih positif tentang obat dan proses pengobatan yang dijalani.
“Jangan denial (menyangkal) rasa sakit itu. Tidak perlu bohong. Fokuskan ke tujuan pengobatan itu,” kata NIna.
Selain itu, Nina juga menyarankan agar orang tua terbuka terhadap bantuan dan bekerja sama dengan sebanyak mungkin orang agar tidak mengasuh sendirian, apalagi jika memiliki anak lebih dari satu. Nina mengingatkan orang tua untuk tetap meluangkan waktu bagi anak-anak yang sehat.
“Nggak boleh loh kita sebagai caregiver (pengasuh) hanya berkorban terus-terusan hanya untuk satu dari sekian anak. Itu tidak sehat mental untuk kitanya,” ujar Nina.
Selama merawat anak yang sakit, orang tua tetap perlu waktu untuk beristirahat dan sedikit berjarak dari anak yang sakit untuk sementara waktu adalah tidak masalah.
“Jadi tetaplah punya waktu istirahat berjarak dari anak yang sakit dan itu tidak masalah. Pada saat berjarak, kita bisa melanjutkan fungsi kita sebagai orang tua dengan waktu yang berkualitas untuk anak lainnya,” kata Nina. (*)

Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs Uzbekistan: Ruben Dias Siap Hadapi Tim Bertahan
Prediksi Skor Yordania vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Duel Hidup dan Mati Siapa Lolos dari Grup J
Penampakan Wajah Wanita yang Menipu Tantri Kotak dkk dengan Kerugian Mencapai Rp 10 Miliar
Viral! Pengakuan BEM FH UBK Usai Temui Gibran, Ngaku Terima Uang hingga Minta Maaf ke Mahasiswa
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Kolombia vs RD Kongo di Piala Dunia 2026: Daniel Munoz Motor Serangan Los Cafeteros
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
Prediksi Skor Panama vs Kroasia di Piala Dunia 2026: Misi Berat Luka Modric Berburu Poin Pertama
