
Ilustrasi Covid-19. Dok. JawaPos
JawaPos.com–Pakar kesehatan dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Syamsul Arifin mengatakan, monitoring dan pengamatan terhadap kondisi penularan Covid-19 harus terus dijalankan di masa transisi menuju endemi.
”Seiring optimisme untuk segera dicabutnya status pandemi menjadi endemi, pemerintah tetap tidak boleh lengah terhadap wabah penyakit global ini,” kata Syamsul Arifin seperti dilansir dari Antara di Banjarbaru, Sabtu (22/4).
Menurut Syamsul, meski status pandemi telah dicabut, sejatinya masyarakat belum sepenuhnya bebas dari risiko kemunculan turunan Covid-19. Adapun risiko yang harus terus diwaspadai munculnya virus varian baru dari Covid-19. Sebab, berdasar pengalaman penyebarannya sangat cepat antar negara sebagai dampak mudahnya transportasi sekarang.
Oleh karena itu, kata dia, sebagai upaya antisipasi dan kewaspadaan seyogianya penerapan protokol kesehatan minimal penggunaan masker harus tetap disosialisasikan. Terutama untuk orang yang berada pada kerumunan dan keramaian aktivitas masyarakat.
Kemudian dalam gedung atau ruangan tertutup dan sempit serta apabila memiliki gejala penyakit pernapasan seperti batuk, pilek, dan bersin.
Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran ULM itu menegaskan, pandemi Covid-19 merupakan masalah global yang harus ditangani secara menyeluruh sebagai penyakit komunal yang penyebarannya sangat mudah seiring mobilitas masyarakat. Oleh karena itu, tidak bisa penanganannya hanya optimal pada daerah tertentu saja, namun harus menyeluruh dan serempak di seluruh wilayah Indonesia bahkan dunia.
”Jika terdapat kesenjangan, maka upaya yang telah dilakukan pada suatu daerah menjadi kurang efektif mengingat mobilitas masyarakat yang cukup tinggi ditambah penyakit ini sering bermutasi,” papar Syamsul Arifin.
Dia menambahkan, pemulihan yang tidak sinkron ditambah perbedaan signifikan dari ketersediaan dan kepatuhan masyarakat untuk vaksinasi menimbulkan ancaman besar bagi pemulihan secara nasional maupun global. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya itu menyatakan, merujuk secara epidemiologis Covid-19 akan berubah menjadi endemi tatkala tingkat penularan terkendali dan telah terbentuk kekebalan kelompok di tengah masyarakat.
”Itu bisa terwujud melalui program vaksinasi,” ujar Syamsul Arifin.
Dia menambahkan, jika terjadi konsistensi penurunan jumlah kasus terkonfirmasi hingga angka kematian sudah jauh mengalami penurunan signifikan. Serta vaksinasi lengkap telah mencapai cakupan untuk membentuk kekebalan komunitas yaitu minimal 70 persen, status pandemi di Indonesia sudah bisa dicabut.
”Namun kedaruratan pandemi secara global yang telah berlaku selama tiga tahun terakhir masih menunggu keputusan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang memiliki kewenangan pula untuk mencabutnya,” ucap Syamsul Arifin.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
