Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 12 November 2021 | 18.43 WIB

Saat Mengalami Kelainan Ukuran Telinga, Ini Cara Mengobatinya

Petugas saat memeriksa telinga terhadap seorang anak di balai warga Pademangan Timur, Jakarta Utara, Jumat (23/10/2020). Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) berlangsung pada 21 Oktober hingga 9 November mendatang dengan target 1.720 siswa sekolah dasar. D - Image

Petugas saat memeriksa telinga terhadap seorang anak di balai warga Pademangan Timur, Jakarta Utara, Jumat (23/10/2020). Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) berlangsung pada 21 Oktober hingga 9 November mendatang dengan target 1.720 siswa sekolah dasar. D

JawaPos.com - Kelainan ukuran daun telinga atau mikrotia adalah bawaan anak lahir dengan telinga berukuran kecil dan tidak sempurna. Penyebabnya belum diketahui, multifaktorial dan masih diteliti. Lantas, apakah bisa ditangani secara medis?

Dalam webinar baru-baru ini, Dokter spesialis THT Dr. dr. Mirta H. Reksodiputro, Sp.THT-KL(K) dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) menjelaskan mikotria adalah malformasi daun telinga dimana aurikula eksterna mengalami perkembangan abnormal. Jika liang telinga tidak menerima hantaran suara untuk menggerakan gendang telinga dan tulang pendengaran, maka suara yang masuk akan menjadi lebih kecil.

"Salah satu tatalaksananya adalah dengan operasi," katanya.

Tujuan operasi rekonstruksi selain untuk memperbaiki fungsi pendengaran juga untuk kosmetik. Pada atresia liang telinga bilateral masalah utama ialah gangguan pendengaran. Untuk mendiagnosis hal tersebut, perlu dilakukan skrining terlebih dahulu karena belum tentu anak dengan kelainan bentuk daun telinga juga mengalami gangguan pendengaran.

Skrinning Lebih Dulu

Bayi baru lahir biasanya dilakukan skirining pendengaran dengan OAE 3-7 hari kelahiran yang kemudian diskrining ulang setelah 3-6 bulan, OAE adalah suatu alat yang ditempatkan di lubang telinga dan memberikan hasil interpretasinya. Namun pada anak dengan atresia liang telinga bisa dilakukan pemeriksaan BERA. Setelah diagnosis ditegakkan sebaiknya pada pasien dipasang alat bantu dengar, baru setelah berusia 5-7 tahun dilakukan operasi pada sebelah telinga. Pada atresia liang telinga unilateral, operasi sebaiknya dilakukan setelah dewasa, yaitu pada umur 15-17 tahun. Operasi dilakukan dengan bedah mikro telinga.

Apa saja yang dilakukan dokter selama proses rekonstruksi daun telinga?

Pertama, dokter akan melihat posisi daun telinga pasien (apakah unilateral/bilateral). Jika keadaannya unilateral, dokter akan membuat daun telinga simetris dengan telinga sebelahnya. Ketika pasien dioperasi juga dilakukan evaluasi di meja operasi untuk membuat simetris antara bagian kiri dan kanan. Operasi ini sangat membutuhkan kehati-hatian dan ekstra pengukuran.

Lalu dilakukanlah dengan teknik Nagata yaitu prosesnya ada dua tahapan, tahap pertama yaitu dokter akan mengambil tulang rawan iga yang kemudian dibentuk dan disesuaikan. Setelah itu tulang ini akan ditanamkan pada area implan dan dibuat bertekanan negatif selama satu minggu. Kemudian pada tahap kedua, setelah minimal tiga bulan, telinga buatan yang ditanam akan diangkat dan ditutup/ditanamkan skin graft atau kulit yang biasanya diambil dari bagian paha, dan dokter akan membuat jarak dengan bagian mastoid (minimal 2 cm dari mastoid).

Mikrotia dan kelainan kongenital daun telinga serta liang telinga dapat dilakukan rekonstruksi. Dalam proses rekonstruksi ini diperlukan suatu tim untuk penanganan komprehensif. Mulai dari penanganan rekonstruksi daun telinga untuk mendapatkan estetik yang baik, penanganan untuk mendapatkan fungsi pendengaran yang lebih baik, serta penanganan aspek psikologis bagi pasien dan keluarga.

“Proses ini adalah perjalanan yang panjang, jarak antara operasi kesatu ke operasi kedua 2 membutuhkan waktu sekitar 3-6 bulan, dan selama itu harus kontrol terus ke dokter, sehingga membutuhkan kerjasama dari pasien dan keluarga agar semua dapat berjalan dengan baik” jelasnya.

Dokter Spesialis THT dari RSUI Dr. dr. Fikri Mirza P., Sp.THT-KL(K) menjelaskan gangguan pada dua sisi telinga dapat menyebabkan terjadinya gangguan komunikasi dan pembentukan bahasa. Sementara jika satu sisi yang mengalami gangguan (terutama sisi yang aktif), dapat menyebabkan gangguan belajar dan konsentrasi. Pada masa lalu hanya ada pilihan operasi membuat liang telinga (atresiaplasty), namun saat ini sudah banyak pilihan.

Bagaimana alur tatalaksana pengobatannya?

1. Operasi

Operasi pembuatan liang telinga (atresiaplasty), operasi ini memiliki risiko menyempit berulang sebesar 20-50 persen sehingga membutuhkan operasi berulang.

2. Alat Bantu Dengar

Alat bantu dengar konduksi tulang, yang prinsip kerjanya yaitu mengubah suara menjadi getaran bunyi yang dihantarkan melalui tulang kepala. Dengan alat ini tidak memerlukan tindakan operasi dan harga yang lebih murah, namun kekurangannya yaitu dapat terjadi iritasi kulit akibat sering lepas pasang dan menimbulkan ketidaknyamanan pada anak kecil karena alat ini agak berat.

Lalu alat bantu dengar konduksi tulang ditanam, yang diindikasikan pada atresia liang tengah dengan kelainan pada struktur telinga tengah. Namun tata laksana ini juga memerlukan pertimbangan terkait ukuran tulang mastoid tempat alat ditanam, serta membutuhkan perawatan pasca operasi.

“Pilihan tatalaksana pendengaran pada atresia liang telinga bertujuan untuk mendapatkan hasil terbaik dengan morbiditas seminimal mungkin pada anak. Semua pilihan ini memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing, keluarga sebaiknya memahami konsekuensi tiap pilihan tersebut” ujarnya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore