
KEJAR HERD IMMUNITY: Hingga 22 Juli, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat ada 548 ribu anak yang sudah divaksin secara nasional. (Allex Qomarulla/Jawa Pos)
Eskalasi vaksinasi terus digenjot pemerintah. Selain orang dewasa, anak usia 12–17 tahun juga masuk kelompok penerima vaksin per 29 Juni lalu. Lantas, apakah semua anak bisa mendapatkan vaksin?
---
MENURUT Ellen Wijaya, dokter spesialis anak di RS Pondok Indah, Puri Indah, Jakarta Barat, salah satu upaya untuk menghentikan persebaran infeksi Covid-19 ialah melindungi diri dan masyarakat dengan vaksinasi. Hingga bulan ini, ada 98 vaksin yang diuji klinis terhadap manusia. Sebanyak 32 vaksin sudah mencapai uji klinis tahap akhir.
Jenis vaksin yang sudah mendapat izin edar di Indonesia, antara lain, Pfizer-BioNTech (Amerika dan Jerman), Moderna (Amerika), Sinovac (Tiongkok), Oxford-AstraZeneca (Inggris dan Swedia), serta Sinopharm (Tiongkok). Ellen menuturkan, perbedaan tiap vaksin itu adalah isinya. Ada empat kategori vaksin yang perlu diketahui. Yakni, virus utuh, subunit protein, viral vector, dan asam nukleotida (RNA-DNA) yang memengaruhi cara kerja tiap vaksin.
Lantas, vaksin apa yang terbaik untuk anak? Menurut dia, vaksin yang sudah melewati tahap uji klinis atau age de-escalation strategy diberikan lebih dulu kepada orang dewasa yang sehat. Kemudian, perlahan vaksin itu diberikan kepada anak yang lebih muda. Tujuannya, memastikan vaksin aman dan dapat menimbulkan kekebalan. ’’Jika terbukti aman dan meningkatkan kekebalan, bisa dilanjutkan ke kelompok target terakhir. Yakni, kelompok bayi,’’ paparnya.
Ada dua rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) terkait pemberian vaksin Covid pada anak dan remaja. Pertama, memulai imunisasi pada anak usia 12–17 tahun dengan vaksin CoronaVac. Sementara itu, anak umur 3–11 tahun masih menunggu kajian. Kedua, dosis yang diberikan sebesar 3 µg (0,5 ml) secara IM di deltoid lengan atas, dua kali dengan jarak satu bulan.
Namun, tidak semua anak mendapat lampu hijau untuk divaksin. Ada beberapa kondisi yang membuat anak tidak bisa divaksin. Di antaranya, defisiensi imun primer penyakit autoimun yang tidak terkontrol, pengidap sindrom Guillain-Barre, mielitis transversa, acute demyelinating dan encephalomyelitis, anak kanker yang menjalani kemoterapi/radioterapi, sedang mendapat pengobatan imunosupresan/sitostatika berat, demam, sembuh dari Covid kurang dari tiga bulan, pascaimunisasi lain kurang dari sebulan, hamil, hipertensi dan diabetes tak terkendali, serta penyakit kronis atau kelainan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

5 Cara Menemukan Jodoh Bagi Orang Introvert Yang Tidak Suka Bersosialisasi
5 Pekerjaan Terbaik untuk Introvert, Pilihan Karir yang Sesuai dengan Kelebihan Diri
KPK: Kerugian Negara dalam Kasus Bea Cukai yang Terkait PT Djarum Capai Triliunan
Perkuat Kerja Sama Intelijen Hadapi Ancaman Terorisme, Indonesia Pimpin CTIF Council
KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sejumlah Uang Tunai Diamankan
Bill Gates Puji AI Meta Milik Zuckerberg, Muse Dinilai Mampu Mengubah Cara Orang Bekerja
Fitrah Maulana Syukuri Debut dan Cleansheet di ACL Two Bersama Persib Bandung
Prediksi Skor Dewa United vs Persija di Super League: Macan Kemayoran Amankan Poin Penting di Banten
Prediksi Skor Elversberg vs Mainz 05: Tim Tamu Incar Kemenangan usai Tersingkir dari DFB Pokal
OM WAWES, Guyon Waton, hingga MASDDDHO Putuskan Batal Tampil di RANS Carnival Maguwoharjo

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022