Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 6 Desember 2020 | 18.43 WIB

Saran Dokter untuk Jaga Keselamatan dan Imun Anak saat Mulai PTM

Vitamin A di posyandu Anggrek RW 01, Bedahan, Depok, Jumat (7/8/2020). Pemerintah Kota (Pemkot) Depok terus berupaya mewujudkan generasi yang sehat, salah satunya dengan pelaksanaan bulan vitamin A setiap Februari dan Agustus. Pemberian vitamin A dimulai - Image

Vitamin A di posyandu Anggrek RW 01, Bedahan, Depok, Jumat (7/8/2020). Pemerintah Kota (Pemkot) Depok terus berupaya mewujudkan generasi yang sehat, salah satunya dengan pelaksanaan bulan vitamin A setiap Februari dan Agustus. Pemberian vitamin A dimulai

JawaPos.com - Pembelajaran tatap muka (PTM) telah mendapatkan lampu hijau dari pemerintah. Mulai Januari 2021, proses belajar di sekolah bisa dilakukan secara langsung, yang tentunya menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Untuk itu, diperlukan kesiapan yang matang dari semua pihak. Tak hanya pihak sekolah tapi juga orang tua di rumah untuk menjaga sang anak dari penularan Covid-19.

Dalam webinar 'Wacana Sekolah Tatap Muka pada 2021, Apa yang Perlu disiapkan?' dengan Lifepack & Jovee, Dokter Spesialis Anak, dr. Ajeng Indriastari mengungkapkan, perlunya banyak pertimbangan dan persiapan matang sebelum memutuskan sekolah tatap muka. Diakui dr. Ajeng, memang banyak sekali pro dan kontra yang bermunculan mengenai isu sekolah tatap muka pada 2021.


Di satu sisi, pembelajaran jarak jauh sudah mulai membuat anak-anak jenuh. Bahkan, belajar jarak jauh hanya efektif pada 15 menit pertama pembelajaran dimulai, selebihnya anak-anak akan terdistraksi dengan kegiatan lainnya. Namun di sisi lain, orang tua merasa aman sekolah di rumah untuk menghindari virus corona. Sebab angka penularan Covid-19 masih cukup tinggi.

Diungkapkan, dr. Ajeng, berdasarkan data terkini dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), proporsi anak-anak terinfeksi virus corona sebesar 11,3 persen. Selain itu, Jurnal dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengungkapkan risiko anak terkena virus corona lebih rendah 20 kali dari kelompok usia tua.

“Walaupun risiko anak terkena virus korona lebih rendah, bukan berarti kewaspadaan terhadap hal tersebut hilang. Karena anak-anak tetap memiliki risiko terinfeksi dan menginfeksi," ujar dr. Ajeng.

Untuk itu, banyak hal yang perlu dipersiapkan untuk memulai sekolah tatap muka. Pertama adalah komitmen seluruh pihak untuk memutus rantai penularan. Pemerintah khususnya pemerintah daerah harus menyiapkan aturan protokol kesehatan yang ketat untuk sekolah.

"Jika tingkat pendidikan SMA hingga Universitas mungkin bisa diterapkan aturan dengan baik. Justru yang mengkhawatirkan adalah jika dibukanya tatap muka untuk tingkat SD & SMP,” tuturnya.

Selain itu, dr. Ajeng menambahkan, sekolah juga perlu menyiapkan aturan dan Sumber Daya Manusia yang siap. Selain screening protokol kesehatan dari mulai suhu tubuh hingga menerapkan 3M, sekolah juga perlu mengatur jumlah siswa yang akan masuk di dalam kelas.

"Kapasitas bisa dikurangi hingga 25 persen saja yang bisa belajar di kelas, hal ini penting untuk menjaga jarak bagi setiap anak di kelas. Serta guru harus berperan aktif
sebagai petugas kesehatan yang sigap," sambungnya.

Selain itu, maksimalkan Unit Kesehatan Sekolah (UKS), isi stok obat-obatan generik. Bahkan jika perlu siapkan petugas medis seperti dokter yang bertugas di sekolah. Jika tidak, sekolah bisa memanfaatkan layanan telemedicine untuk berkonsultasi dengan dokter serta layanan apotek digital dapat menjadi alternatif solusi bagi sekolah.

Selain itu, untuk mempersiapkan anak kembali ke sekolah, tentunya sangat penting memerhatikan dan menjaga sistem imun. Ini menjadi sangat penting agar anak-anak tidak rentan terkena paparan virus.

Selain makanan bergizi dan istirahat cukup, menjaga sistem imun bisa didapatkan dengan mengonsumsi multivitamin kunyah rasa buah, yang mengandung antioksidan tinggi. Tidak hanya itu, kegiatan belajar memerlukan asupan baik bagi kesehatan otak dan saraf agar anak-anak terhindar dari paparan radikal bebas.

Untuk mendapatkan asupan tersebut yang perlu diperhatikan adalah asupan Omega 3 dari minyak ikan yang baik, terdiri dari EPA dan DHA, seperti produk Smart Kids dari Jovee.

Perlu diketahui, berdasarkan data dari Worldometers, hingga Rabu (2/12/2020), total kasus Covid-19 di dunia telah mencapai 64.188.964 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 549.508 kasus terdapat di Indonesia. Tren kasus virus korona terus mengalami peningkatan, namun pembukaan sekolah secara tatap muka sudah diberi izin oleh pemerintah.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=526sG5fCz0U

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore