Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 19 Juli 2021 | 20.20 WIB

Oseltamivir Dicabut dari Standar Pengobatan Korona, Ini Penjelasannya

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Pengobatan pasien Covid-19 selama ini hanya berupa terapi atau suportif. Sebab Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum menetapkan obat Covid-19 secara pasti. Salah satu obat yang digunakan selama ini untuk pasien Covid-19 adalah Oseltamivir atau dikenal dengan Tamiflu. Akan tetapi kini Oseltamivir tak lagi menjadi standar pengobatan pasien Covid-19.

Oseltamivir adalah salah satu antivirus yang juga dipakai untuk mengatasi penyakit flu misalnya flu burung. Obat ini dikenal dengan Tamiflu. Sebelumnya digunakan sebagai obat untuk pasien Covid-19 gejala ringan.

Ahli Spesialis Penyakit Dalam yang juga Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban membahas mengapa saat ini Azitromisin dan Oseltamivir tak lagi jadi standar perawatan pasien Covid-19. Termasuk dampak jangka panjang pemakaian antibiotik secara sembarangan dan kapan seharusnya pasien Covid-19 menggunakan Azitromisin.

"Sebenarnya Oseltamivir adalah obat bagus. Obat antivirus ini digunakan untuk terapi infeksi Influenza dalam tubuh. Bukan untuk Covid-19," tegasnya dalam kicauannya dan sudah dikonfirmasi JawaPos.com, Senin (19/7)

"Jadi jelas, prinsipnya, Oseltamivir itu bukan obat Covid-19. Sedangkan Azitromisin adalah obat antibiotik yang mengatasi bakteri dan jamur. Kalau Covid-19 kan penyebabnya virus," tambahnya.

Laporan Bloomberg menyebutkan, tamiflu adalah salah satu obat antivirus yang paling dikenal di dunia dan sangat populer pada 2009 selama pandemi flu babi. Tetapi obat itu tidak disukai karena terjadi resistensi terhadap obat tersebut.

Para ahli memperingatkan antivirus Covid-19 di masa depan dapat menghadapi perangkap yang sama. Tamiflu, atau dikenal sebagai oseltamivir, dikembangkan oleh Roche Holding, disetujui di AS pada tahun 1999, dan telah tersedia sebagai obat generik sejak 2016.

Regulator, termasuk Badan Pengawas Obat dan Makanan AS menyetujui obat tersebut berdasarkan tinjauan ketat terhadap uji cobanya. Organisasi Kesehatan Dunia dan otoritas publik lainnya merekomendasikannya dalam pedoman mereka untuk pengobatan dan pencegahan flu.

Antivirus seperti Tamiflu menargetkan replikasi virus, untuk menghentikan virus berkembang biak lebih lanjut tetapi tidak dapat menyembuhkan infeksi yang sudah ada di dalam tubuh. Akibatnya, obat harus diminum sesegera mungkin. Tamiflu harus diminum dalam 48 jam pertama infeksi  ’’Ini seperti mencoba untuk berada di depan kereta yang sedang melaju," kata aahli virus di Wilfrid Laurier University di Waterloo, Ontario, Stephanie DeWitte-Orr. "Anda dapat memegang bagian belakang dan memperlambatnya, tetapi untuk menghentikannya sepenuhnya di jalurnya akan sangat sulit," tambahnya.

Seorang ahli penyakit menular dari Vanderbilt University William Schaffner, mengatakan jika diminum lebih awal, Tamiflu dapat mempersingkat durasi infeksi satu hingga dua hari. Itu mungkin penting untuk pasien berisiko tinggi tetapi mungkin tidak begitu efektif. Para ilmuwan berharap dapat mengembangkan alternatif oral yang lebih murah untuk mengobati Covid-19. Akan tetapi antivirus tidak akan pernah menjadi pengganti vaksin. (*)

 

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore