Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 18 Maret 2021 | 19.57 WIB

Ahli: Risiko Penggumpalan Darah Bisa Terjadi Meski Tak Vaksin Covid-19

Ilustrasi kanker darah jenis leukemia. Leukemia myelogenous akut menunjukkan perkembangan penyakit yang cepat. (Medical Xpress) - Image

Ilustrasi kanker darah jenis leukemia. Leukemia myelogenous akut menunjukkan perkembangan penyakit yang cepat. (Medical Xpress)

JawaPos.com - Isu laporan penggumpalan darah usai divaksinasi Covid-19 dari AstraZeneca diharapkan tak membuat orang takut. Khususnya pada lansia dan seseorang yang memiliki riwayat komorbid.

Begitu pula mengenai adanya penangguhan sementara penggunaan vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca yang ditunda sementara karena laporan penggumpalan darah. Ahli Vaksin dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Profesor Sri Rezeki Hadinegoro menilai Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menyatakan aman.

Kecuali, penggumpalan darah itu merupakan gejala yang kerap terjadi pada lansia dan penderita penyakit komorbid, seperti penyakit jantung, diabetes dan hiperkolesterol. Tidak divaksinasi saja, penderita berisiko mengalami penggumpalan darah.

Baca Juga: Pembekuan Darah Pasca Suntik Vaksin AstraZeneca, Ini Kata Pakar Unair

"Vaksin apa saja (bukan hanya vaksin Covid-19) juga punya risiko tromboemboli,” tuturnya kepada wartawan baru-baru ini.

Ia meminta jangan sampai vaksinasi jadi tertunda-tunda akibat isu penggumpalan darah. Angka kasus penggumpalan akibat vaksin Covid-19 juga terbilang sedikit, sekitar 1 persen.

“Lain halnya jika kasus penggumpalan darah meningkat 2 kali setelah divaksinasi. Kita perlu khawatir,” katanya.

Sementara itu dokter umum dari Rumah Sakit Angkatan Darat Denpasar, Bali, dr. Made Cock Wirawan mengatakan bahwa vaksinasi yang sudah dilakukan pemerintah sejauh ini sudah berjalan baik. Tenaga vaksinator juga jauh dari mencukupi, karena ada ribuan tenaga kesehatan yang diperbantukan dari TNI dan Polri.

Namun, Made menilai vaksinasi ini masih jauh dari harapan, karena jumlah vaksin yang sudah digunakan masih terbatas. Begitu pula proses vaksinasi yang relatif lambat bila dibandingkan dengan besaran sasaran yang ingin dicapai dan kecepatan yang diharapkan. Ia melihat pada waktu vaksinasi tahap pertama, sempat terhambat, tetapi sekarang sudah lancar.

"Karena lama kekebalan yang ditimbulkan oleh vaksin ini belum diketahui, maka dibutuhkan kecepatan proses pencapaian herd immunity,” katanya.

Ia meminta temuan varian baru virus Covid-19, seperti varian B1.1.7 bisa dilawan oleh vaksinasi. “Sebab dari beberapa penelitian dan pendapat ahli, vaksin yang saat ini dipakai masih bisa digunakan untuk (mencegah) varian baru Covid-19. (Jadi) Belum dperlukan penghentian vaksinasi,” sambung Made.

Sedangkan mengenai vaksin AstraZeneca, Made memandang perlu dilakukan review ulang terhadap studi klinis yang dilakukan AstraZeneca. Namun, ia mengaku bahwa WHO dan AstraZeneca sudah memberikan penjelasan tentang kasus-kasus yang terjadi.

“Langkah BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) yang melakukan review pemakaian vaksin AstraZeneca sudah benar,” katanya.

Sejauh ini data Kemenkes per 17 Maret 2021 menunjukkan bahwa 1.431.713 dari 1.468.764 tenaga medis sebagai penerima vaksinasi tahap pertama, sudah mendapatkan vaksinasi tahap pertama atau sekitar 97,48 persen. Sedangkan yang sudah disuntik dosis kedua sebanyak 1.208.113 tenaga medis (82,25 persen). Kemudian lansia yang menjadi penerima vaksin kedua berjumlah 21.553.118 orang. Namun yang sudah divaksin dosis pertama 836.628 (3,88 persen) dan yang menerima dosis kedua sebanyak 6.600 orang (0,03 persen).

Sementara itu, penerima vaksin tahap kedua yang berasal dari kelompok pekerja publik ditargetkan sebanyak 17.327.169 orang. Dari jumlah tersebut 2.436.907 orang sudah divaksin dosis pertama (14,06 persen) dan sebanyak 661.427 orang yang baru divaksin dosis kedua (3,82 persen).

Bila ditotal, dari tiga kelompok tadi yang berjumlah 40.349.051 target, baru 4.705.248 orang yang sudah disuntik vaksin dosis pertama (11,66 persen) dan 1.876.140 orang (4,65 persen) yang sudah diinjeksi vaksin dosis kedua.

Upaya pemerintah untuk meningkatkan jumlah orang divaksinasi terus dilakukan, seperti dengan memperbanyak lokasi vaksinasi dan menggandeng dunia usaha untuk melakukan vaksinasi drive thru. Selain itu juga pemerintah dan dunia usaha mendatangkan sejumlah vaksin Covid-19 dari luar negeri, baik melalui bilateral maupun multilateral seperti lewat lembaga internasional. Antara lain, dari Sinovac dan Sinopharm (Cina), Moderna dan Pfizer (Amerika Serikat), dan AstraZeneca (Inggris).

Belum lagi ada berbagai tawaran dari beberapa produsen vaksin lain, seperti vaksin Sputnik V dari Rusia. Di luar itu, pemerintah terus menegakkan pentingnya mematuhi 3M (mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker), dan gencar melakukan 3T (test, tracing dan treatment).

Saksikan video menarik berikut ini:

https://youtu.be/VjnHTR4fugI

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore