Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 6 Desember 2020 | 19.48 WIB

GERD, Gangguan Lambung yang Sering Disalahpahami

TIDAK NYAMAN: Keluhan utama yang dialami penderita GERD adalah nyeri di ulu hati serta heartburn yang sering salah dikira sebagai gangguan jantung. (ILUSTRASI DIPERAGAKAN OLEH: AISA DYNDA MAYSHWARYA - FOTO: DITE SURENDRA/JAWA POS) - Image

TIDAK NYAMAN: Keluhan utama yang dialami penderita GERD adalah nyeri di ulu hati serta heartburn yang sering salah dikira sebagai gangguan jantung. (ILUSTRASI DIPERAGAKAN OLEH: AISA DYNDA MAYSHWARYA - FOTO: DITE SURENDRA/JAWA POS)

GERD (gastroesophageal reflux disease) sudah bukan penyakit yang asing didengar. Sebab, makin banyak pengidapnya. Meski begitu, sejak dulu hingga kini, kunci pengobatannya sama: disiplin.

---

SECARA medis, GERD adalah gangguan ketika isi lambung refluks atau kembali naik ke kerongkongan (esofagus) secara berulang. Padahal, umumnya cairan bergerak ke bagian yang lebih rendah. Pencetusnya, lower esophageal sphincter (LES) –katup penghubung saluran makanan atas dengan lambung– yang tak bekerja sesuai dengan fungsi. Katup yang seharusnya kencang justru kendur akibat relaksasi. ”Asam lambung dan sisa makanan naik, lalu masuk lagi ke perut karena gerakan peristaltik,” papar dr Husin Thamrin SpPD-FINASIM.

Ketika kembali, ada cairan lambung yang menempel di esofagus. Ketidaknyamanan pun dirasakan saat gerakan abnormal itu terjadi. ”Ketika cairan naik, keluhan utamanya adalah nyeri di ulu hati dan heartburn. Sering kali GERD ini dikira gangguan jantung,” ujar Husin.

Internis National Hospital Surabaya tersebut menilai, sensasi tak nyaman itu juga muncul pada malam hari. Sebab, dalam posisi tidur, cairan bisa naik ke kerongkongan. ”Akhirnya, saat pagi, banyak yang mengeluh mual dan mulut terasa kecut atau pahit,” jelasnya.

Karena kompleksnya keluhan tersebut, Husin menilai bahwa diagnosis GERD perlu ditegakkan dengan pemeriksaan silang. ”Banyak pasien saya yang rujukan dari dokter THT karena dikira gangguan tenggorokan nggak sembuh-sembuh,” ungkapnya.

Alumnus Universitas Airlangga (Unair) itu menjelaskan, dokter biasanya menyarankan endoskopi untuk pemeriksaan mendetail. ”Tujuannya, mengetahui GERD menimbulkan gangguan di mukosa atau dinding esofagus,” terangnya.

Jika tak ada erosi, GERD tergolong NERD (nonerosive reflux disease). Namun, kalau timbul pengikisan, GERD tergolong ERD yang bisa menimbulkan komplikasi berupa perubahan sel esofagus (barrett esophagus) hingga kanker. ”Meski beda, tata laksana pengobatannya sama,” tegas Husin.

Untuk penanganan nonfarmakologis atau nonobat, pasien wajib melakukan modifikasi gaya hidup. Pasien GERD akibat obesitas, misalnya, wajib menurunkan bobot tubuh. ”Kelebihan berat badan mengakibatkan tekanan abdomen naik. Jadi, cairan lambung terimpit dan naik,” ungkapnya. Langkah itu wajib diiringi dengan pengobatan rutin.


Staf medis Departemen Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga RSUD dr Soetomo, Surabaya, itu menilai bahwa pengobatan GERD tak bisa instan. ”Dari studi yang ada, memang pengobatannya terbilang jangka panjang. Semua bergantung kepada pasien. Bisa disiplin menjaga pola hidup dan rutin berobat atau tidak,” tutur Husin.

---

MENGAPA TIMBUL GERD?

Kondisi Hamil: Ketika Anda mengandung, tubuh mengalami banyak perubahan. Salah satunya, organ pencernaan. Namun, setelah Anda melahirkan, keluhan akan membaik dan hilang.

Menjalani Pengobatan Hipertensi: Tak semua obat hipertensi memiliki efek samping GERD. Namun, obat jenis calcium channel blocker bisa membuat pembuluh darah rileks.

Pola Hidup: Konsumsi alkohol, rokok, kopi, soda, dan makanan terlalu pedas yang berkepanjangan bisa meningkatkan risiko GERD.

Asam Lambung Berlebih: Pada beberapa orang, GERD muncul karena asam lambung berlebih sehingga berisiko ”bocor” dan naik ke esofagus.

Yuk, Benahi Pola Hidup!

  • Upayakan tidur minimal 2–3 jam setelah makan. Untuk mencegah refluks, posisi tubuh saat tidur sebaiknya bersandar. Jadi, posisi kepala lebih tinggi daripada dada. Posisi dada lebih tinggi daripada perut.

  • Jadwalkan waktu makan dengan baik dan teratur. Idealnya, jarak antara waktu makan besar enam jam diselingi camilan. Hindari makanan yang memicu refluks.

  • Hindari memakai bawahan yang terlalu ketat di bagian perut. Setelah makan, hindari pula aktivitas yang mengharuskan membungkuk.


Apa yang Harus Dihindari dan Dibatasi?

  • Susu dan produk olahannya

  • Makanan pedas

  • Makanan berminyak dan berlemak tinggi

  • Cokelat

  • Kopi

  • Untuk orang-orang dengan penyakit penyerta (misalnya, hipertensi atau diabetes), pola makan bisa menyesuaikan.


Yang Harus Disiapkan

GERD bisa kambuh kapan saja. Berikut obat-obatan yang biasanya dikonsumsi untuk mengatasi serangan GERD. Namun, gunakan sesuai dengan resep.

Proton pump inhibitor (penghambat pompa proton)

  • PPI adalah obat yang bekerja dengan menghambat sistem enzim pompa proton yang memproduksi dan melepaskan asam lambung.


Obat-obatan prokinetik

  • Obat kelompok ini bekerja merangsang gerakan usus sehingga pengosongan lambung lebih cepat dan tak terjadi refluks.


Antasida

  • Obat jenis antasida bersifat antiasam sehingga bisa mencegah asam lambung mengikis mukosa esofagus. Namun, antasida tak menghentikan refluks.


Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=zi4-92fMSaY

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore