
Ilustrasi susu yang biasa kita konsumsi. (Freepik)
JawaPos.com - Susu dan produk olahannya seperti keju, yogurt, dan es krim merupakan bagian penting dari pola makan banyak orang di seluruh dunia. Namun, tidak semua orang dapat menikmati kelezatan produk susu tanpa mengalami keluhan kesehatan.
Bagi sebagian orang, mengonsumsi produk susu justru dapat memicu berbagai gejala yang tidak nyaman di sistem pencernaan. Kondisi ini ternyata dialami oleh jutaan orang di berbagai belahan dunia dan memiliki istilah medis tersendiri.
Keluhan seperti perut kembung, mual, atau diare setelah minum susu bukanlah hal yang aneh bagi sebagian individu. Gejala-gejala ini seringkali membuat penderitanya harus berpikir dua kali sebelum mengonsumsi produk berbahan dasar susu. Meski terdengar sederhana, kondisi ini dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang, terutama dalam memilih menu makanan sehari-hari.
Memahami penyebab dan cara mengelola kondisi ini menjadi penting agar penderita tetap dapat memenuhi kebutuhan nutrisi tanpa harus mengalami keluhan yang mengganggu.
Mengenal Lactose Intolerance
Lactose intolerance atau intoleransi laktosa adalah kondisi di mana tubuh tidak dapat mencerna laktosa dengan baik. Laktosa sendiri merupakan jenis gula alami yang terdapat dalam susu dan berbagai produk olahannya. Kondisi ini terjadi ketika usus halus tidak memproduksi cukup enzim laktase yang bertugas memecah laktosa menjadi molekul gula yang lebih sederhana agar dapat diserap oleh tubuh. Tanpa cukup enzim laktase, laktosa yang tidak tercerna akan bergerak ke usus besar dan menyebabkan berbagai gejala pencernaan yang tidak nyaman.
Intoleransi laktosa berbeda dengan alergi susu, meskipun keduanya sama-sama menyebabkan reaksi setelah mengonsumsi produk susu. Alergi susu melibatkan respons sistem kekebalan tubuh terhadap protein dalam susu, sedangkan intoleransi laktosa adalah masalah pencernaan yang berkaitan dengan ketidakmampuan tubuh mengolah gula laktosa. Perbedaan ini penting untuk dipahami karena penanganan dan tingkat keparahan dari kedua kondisi tersebut sangat berbeda. Seseorang dengan intoleransi laktosa biasanya masih dapat mengonsumsi produk susu dalam jumlah kecil tanpa gejala berat, sementara penderita alergi susu harus menghindari susu sepenuhnya.
Untuk gejala intoleransi laktosa umumnya muncul dalam waktu 30 menit hingga 2 jam setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung laktosa. Keluhan yang paling umum dirasakan adalah perut kembung, kram perut, mual, dan sensasi tidak nyaman di area pencernaan. Gas berlebih di dalam perut juga sering terjadi, membuat penderita merasa penuh dan tidak nyaman sepanjang hari. Intensitas gejala dapat bervariasi tergantung pada jumlah laktosa yang dikonsumsi dan seberapa sedikit enzim laktase yang diproduksi tubuh.
Selain keluhan di area perut, diare juga merupakan gejala yang kerap dialami oleh penderita intoleransi laktosa. Diare terjadi karena laktosa yang tidak tercerna menarik air ke dalam usus besar, sehingga feses menjadi lebih cair. Beberapa orang juga mengalami mual dan bahkan muntah, terutama jika mengonsumsi produk susu dalam jumlah besar. Tingkat keparahan gejala sangat bervariasi antar individu, ada yang hanya mengalami ketidaknyaman ringan, namun ada pula yang mengalami gejala yang cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.
Dilansir dari Mayo Clinic, intoleransi laktosa terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan penyebab kekurangan enzim laktase yang mendasarinya. Setiap jenis memiliki karakteristik dan penyebab yang berbeda, sehingga penting untuk memahami perbedaan di antara ketiganya.
1. Intoleransi Laktosa Primer
Intoleransi laktosa primer merupakan jenis yang paling umum terjadi pada manusia. Pada kondisi ini, seseorang sebenarnya dilahirkan dengan kemampuan memproduksi enzim laktase yang cukup karena bayi membutuhkan laktase untuk mencerna ASI atau susu formula sebagai sumber nutrisi utama mereka. Namun seiring bertambahnya usia dan mulai mengonsumsi makanan selain susu, produksi enzim laktase secara bertahap akan menurun. Penurunan ini biasanya masih cukup untuk mencerna produk susu dalam jumlah normal pada pola makan orang dewasa.
Pada intoleransi laktosa primer, produksi laktase menurun drastis saat memasuki usia dewasa sehingga membuat tubuh kesulitan mencerna produk susu. Kondisi ini juga dikenal dengan istilah lactase non-persistence, yang berarti enzim laktase tidak bertahan dalam jumlah yang cukup hingga dewasa. Penurunan produksi laktase ini merupakan proses alami yang terjadi pada sebagian besar populasi dunia. Meskipun demikian, tingkat keparahan gejala dapat bervariasi antar individu tergantung seberapa banyak laktase yang masih diproduksi tubuh.
2. Intoleransi Laktosa Sekunder
Intoleransi laktosa sekunder terjadi ketika usus halus mengurangi produksi laktase akibat penyakit, cedera, atau operasi yang melibatkan usus halus. Berbeda dengan intoleransi primer yang berkembang secara alami, intoleransi sekunder muncul sebagai dampak dari kondisi kesehatan tertentu yang mempengaruhi fungsi usus.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
