
Ilustrasi Payudara
JawaPos.com – Banyak perempuan yang memutuskan tak memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan setelah menemukan adanya benjolan di payudara karena takut dengan kanker. Padahal, tidak semua benjolan di payudara menandakan kanker.
Kepala Departemen Radiologi MRCCC Siloam Hospitals Semanggi dr. Nina I.S.H Supit, Sp.Rad, PRP (K) mengingatkan perempuan agar tidak takut melakukan pemeriksaan sejak dini, sebab benjolan bisa saja berupa tumor jinak yang tidak berbahaya.
“Jadi kalau kita bicara tumor di payudara, ada yang jinak dan ada yang ganas. Kalau tumor ganas namanya kanker. Kalau tumor jinak bisa berupa kista atau tumor padat seperti fibroadenoma yang juga jinak,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (30/9).
Menurutnya, perbedaan tumor jinak dan ganas dapat dikenali secara sederhana.
“Kalau jinak, saat dipegang biasanya bisa digerakkan, karena dia ada dalam satu batasan. Sedangkan kanker justru biasanya dikeluhkan tidak sakit karena sifatnya menancap seperti kaki kepiting,” tambahnya.
Selain itu, dr. Nina juga menekankan pentingnya SADARI (periksa payudara sendiri). Pemeriksaan bisa dilakukan tujuh hingga sepuluh hari setelah menstruasi, dengan menggunakan tiga jari untuk meraba payudara.
“Tujuan SADARI bukan mencari benjolan, tapi menghafalkan bentuk payudara. Jadi kalau tiba-tiba ada sesuatu yang sebelumnya tidak ada, kita bisa segera waspada,” tegasnya.
Sejalan dengan upaya edukasi dan deteksi dini, MRCCC Siloam Hospitals Semanggi bersama Siemens Healthineers dan Prudential Indonesia meluncurkan teknologi mammografi terbaru Mammomat B.brilliant pada 30 September 2025.
Alat ini memungkinkan pemindaian hanya dalam lima detik dengan hasil gambar 3D resolusi tinggi, sehingga pemeriksaan lebih nyaman sekaligus akurat.
CEO MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, dr. Edy Gunawan, MARS, mengatakan teknologi ini dihadirkan untuk memberikan pengalaman medis yang lebih baik bagi pasien perempuan.
“Luangkan lima detik waktu Anda untuk mammogram, karena lima detik itu bisa menyelamatkan hidup Anda,” tegasnya.
Mammomat B.brilliant juga dilengkapi kecerdasan buatan untuk mengatur kompresi dan radiasi, serta sudut pemindaian 50° yang lebih luas dibanding mammografi konvensional. Hal ini sangat membantu mendeteksi kelainan kecil, terutama pada payudara perempuan Asia yang cenderung lebih padat.
Dengan prevalensi kanker payudara yang terus meningkat di Indonesia dengan 66.271 kasus baru pada 2022 menurut GLOBOCAN, dokter menekankan bahwa deteksi dini adalah kunci.
Presiden Direktur Siemens Healthineers Indonesia, Alfred Fahringer, juga mengatakan kerja sama ini diharapkan membuka jalan bagi lebih banyak perempuan untuk mendapat akses skrining yang akurat.
“Kami bangga bermitra dengan MRCCC dalam menghadirkan Mammomat B.brilliant pertama di Indonesia. Bersama-sama, kami tidak hanya menghadirkan sebuah mesin, tetapi juga menghadirkan harapan, hasil yang lebih dini, dan kesempatan bagi lebih banyak perempuan untuk hidup lebih lama dan lebih sehat,” ujarnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
