Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 23 September 2025 | 16.35 WIB

Sering Merasa Tidak Layak Akan Suatu Hal? Kenali Istilah Impostor Syndrome dan Gejalanya

Seorang perempuan yang overthinking saat bekerja (dok. freepik) - Image

Seorang perempuan yang overthinking saat bekerja (dok. freepik)

JawaPos.com - Pernah merasa seolah kesuksesan yang Anda raih hanyalah kebetulan semata, dan suatu saat orang lain akan mengetahui bahwa Anda “tidak sepintar itu”?

Perasaan inilah yang dikenal sebagai impostor syndrome, sebuah kondisi psikologis yang bisa menimpa siapa saja, bahkan mereka yang berprestasi tinggi. Fenomena ini dapat menggerus rasa percaya diri dan menghambat perkembangan karier maupun kebahagiaan pribadi.

Apa Itu Impostor Syndrome?

Melansir dari Medical News Today, impostor syndrome adalah perasaan ragu pada kemampuan diri sendiri dan ketakutan dianggap penipu. Siapa pun bisa mengalaminya, tanpa memandang jabatan atau status sosial. Pertama kali diidentifikasi pada 1978, penelitian menunjukkan 9–82 persen orang pernah merasakan gejalanya. Bagi sebagian orang, ini hanya berlangsung singkat seperti saat memulai pekerjaan baru, namun bagi yang lain bisa menetap seumur hidup.

Gejalanya meliputi rasa seolah-olah menjadi penipu, takut ketahuan tidak kompeten, dan sulit mengakui kesuksesan. Sedikit keraguan diri sebenarnya wajar, namun bila berlebihan dapat merusak citra diri dan memicu stres.

Dalam dunia kerja, penderitanya sering khawatir tidak mampu memenuhi ekspektasi rekan atau atasan. Ketakutan gagal membuat mereka enggan mengejar prestasi lebih tinggi, yang akhirnya menurunkan kinerja.

Orang dengan impostor syndrome juga cenderung enggan mengambil tanggung jawab tambahan. Mereka khawatir tugas baru akan mengganggu kualitas pekerjaan utama, sehingga potensi mereka tak pernah benar-benar terlihat.

Kesuksesan justru dapat memicu lingkaran keraguan baru. Saat meraih pencapaian penting, mereka sulit merayakannya dan khawatir orang lain akan menyadari “keterbatasan” mereka.

Banyak pula yang menganggap keberhasilan datang karena faktor luar atau keberuntungan. Sebaliknya, jika terjadi kegagalan akibat faktor eksternal, mereka tetap menyalahkan diri sendiri. Kondisi ini dapat menyebabkan ketidakpuasan kerja dan risiko burnout. Rasa takut gagal membuat mereka menolak promosi atau tantangan baru, sehingga potensi diri terus terhambat.

Tipe-Tipe Impostor

Menurut Dr. Valerie Young, terdapat lima tipe utama impostor. Tipe “ahli” merasa harus tahu segalanya sebelum menuntaskan tugas, sehingga kerap menunda pekerjaan.

Tipe “perfeksionis” selalu merasa hasilnya kurang sempurna meski telah berusaha maksimal. Tipe “natural genius” cepat menguasai banyak hal, namun merasa lemah bila menemui kesulitan.

Tipe “soloist” enggan meminta bantuan demi membuktikan kemampuan.  Terakhir, “superhero” bekerja berlebihan hingga rentan kelelahan fisik dan mental.

Faktor Risiko

Siapa saja bisa mengalaminya, tetapi ada pemicu tertentu. Tantangan baru seperti promosi dapat menimbulkan rasa tidak layak. Lingkungan keluarga juga berpengaruh, misalnya tumbuh bersama saudara yang dianggap “lebih berbakat” atau terlalu mudah sukses sejak kecil.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore