Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 17 September 2025 | 04.46 WIB

Risiko Penularan TBC Masih Mengancam, Ini Cara Efektif Pencegahan dan Pengobatannya

Ilustrasi seorang lansia yang terkena penyakit TBC (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penularannya terjadi melalui udara dengan perantara droplets atau partikel kecil yang keluar saat penderita batuk, bersin, atau bahkan berbicara.

Bakteri yang telah masuk ke tubuh seseorang umumnya akan menyerang dan menginfeksi paru-paru. Namun, jika kondisi ini tidak segera ditangani, infeksi bisa menyebar ke organ tubuh lain, seperti tulang belakang, kelenjar getah bening, atau ginjal.

Berdasarkan data dari WHO, TBC berada di urutan ke-13 dalam kategori penyakit yang paling banyak memakan korban jiwa. Dikutip dari laman resmi Kemenkes, Global TB Report tahun 2024 menempatkan Indonesia sebagai negara dengan penderita TBC terbanyak kedua setelah India, dengan jumlah laporan mencapai 1.090.000 kasus. Angka ini sangat mengkhawatirkan, mengingat TBC adalah penyakit berbahaya yang mudah menular. Data itu menunjukkan pentingnya upaya pencegahan dan penanganan serius yang perlu dilakukan oleh pemerintah Indonesia.

Cara Efektif untuk Melakukan Pencegahan

Dikutip dari Halodoc, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan TBC, seperti melalui pemberian vaksin. Pencegahan tuberkulosis dapat dilakukan dengan vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin). Di Indonesia, vaksin ini termasuk wajib dan diberikan sebelum bayi berusia tiga bulan. Selain itu, BCG juga disarankan untuk anak-anak, remaja, maupun orang dewasa yang belum pernah mendapatkannya saat masih bayi.

Hal berikutnya yang juga penting adalah menyediakan ruangan dengan ventilasi yang memadai. Penyebaran bakteri TBC melalui udara dapat dikurangi risikonya dengan sirkulasi udara yang baik. Disarankan juga untuk memakai masker saat bepergian ke luar ruangan.

Langkah Pengobatan yang Tepat

Pengobatan TBC dilakukan dengan mengonsumsi obat-obatan sesuai anjuran dokter selama enam hingga sembilan bulan. Selama proses ini, penderita harus disiplin mengikuti aturan minum obat dan tidak menghentikannya tanpa izin dokter. Jika obat dihentikan terlalu cepat, ada risiko bakteri TBC menjadi kebal (resisten) terhadap pengobatan. Dalam kondisi ini, penderita mungkin memerlukan waktu pengobatan yang lebih panjang dengan jenis terapi berbeda, yang berpotensi memberi dampak lebih besar pada tubuh.

Biasanya dokter akan meresepkan lebih dari satu jenis obat (terapi kombinasi) untuk menangani TBC. Jenis obat yang sering digunakan adalah pirazinamid, isoniazid, rifampisin, etambutol, dan rifapentin. Penggunaan obat terapi TBC bisa menimbulkan efek samping, seperti warna urine kemerahan, gangguan penglihatan, gangguan saraf, dan gangguan fungsi hati.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore