
Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi Primaya Hospital Bekasi Timur, dr. Evan (tengah) dalam konfrensi pers di Jakarta Pusat (Tazkia Royyan/JawaPos.com)
JawaPos.com - Cedera ligamen masih menjadi kasus paling dominan dalam cedera olahraga (sport injury), terutama pada bagian lutut. Kondisi ini bahkan menjadi keluhan yang paling sering ditangani di layanan ortopedi, salah satunya di Prinaya Hospital Bekasi Timur.
Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi Primaya Hospital Bekasi Timur, dr. Evan mengungkapkan bahwa cedera ligamen, khususnya pada Anterior Cruciate Ligament (ACL), menjadi kasus terbanyak yang ditangani saat ini.
“Jadi sport injury yang paling banyak sampai saat ini itu adalah cedera ligamen ya. Ligamen itu adalah jaringan lunak yang menghubungkan antara tulang dengan tulang. Terutama di lutut namanya Anterior Cruciate Ligament (ACL). Itu paling banyak sampai saat ini yang kita tangani di Rumah Sakit Primaya Bekasi Timur,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (2/4).
dr. Evan menjelaskan, penyebab cedera ACL umumnya bukan karena benturan langsung, melainkan gerakan non-kontak. Kondisi ini terjadi saat kaki menapak di tanah, tetapi tubuh berputar atau berbelok secara tiba-tiba sehingga menimbulkan tekanan rotasi pada lutut.
“Kalau dibilang penyebabnya paling banyak adalah karena injuri olahraga di mana posisinya non-kontak. Jadi bukan karena bentrokan ya, tapi biasanya pasiennya itu kakinya napak, badannya belok. Jadi non-kontak kita bilangnya. Jadi ada rotasional, ada twisting energy di mana si ACL di dalam lutut ini putus. Itu yang paling sering,” jelasnya.
Selain faktor gerakan, kurangnya pemanasan dan penggunaan perlengkapan olahraga yang tidak sesuai juga menjadi pemicu cedera. Ia menegaskan bahwa kebiasaan sederhana seperti tidak melakukan pemanasan bisa meningkatkan risiko cedera secara signifikan.
“Salah satu terjadinya cedera olahraga adalah kurangnya pemanasan, pemakaian alat yang tidak proper. Misalnya saya main futsal pakai sepatu basket, atau saya pakai sepatu sekolah, itu kan salah satunya pasti ada,” tambahnya.
Lebih lanjut, dr. Evan menekankan pentingnya latihan pendukung selain sekadar olahraga utama. Menurutnya, banyak orang hanya fokus pada latihan fisik seperti gym, tetapi melupakan aspek keseimbangan dan kontrol tubuh.
“Jadi yang paling sering ya memang kalaupun pemanasan sudah cukup biasanya kadang-kadang latihan. Jadi seorang atlet itu harus ada latihan penguatan ya, kemudian latihan balancing, kemudian latihan proprioceptive. Dia harus latihan loncatnya, turunnya. Jadi nggak cukup dia cuma nge-gym aja, sehingga kalau dia nge-gym aja dia nggak stabil, nggak seimbang, gampang goyang,” paparnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ketua Komisi II DPR Usulkan Gaji PNS lewat Koperasi Hanya untuk Pegawai Pusat
Tak Hanya Bupati Klaten, KPK Juga Tangkap Kepala BPK Perwakilan Jawa Tengah
Prediksi Skor Estudiantes vs Flamengo: Panas Menuju Final Copa Libertadores
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante: Granotes Paksa Tuan Rumah Berbagi Poin
Menkop Pastikan Gaji PNS Lewat Koperasi Mulai Tahun Ini, Tak Perlu Tunggu 2027
Prediksi Skor Garudayaksa FC vs Arema FC: Singo Edan Kembali ke Jalur Kemenangan
Prediksi Skor Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga: Lini Pertahanan Rapuh Jadi Ancaman Tuan Rumah
KPK Terima Pengembalian Uang Rp 800 Juta dari Hercules Berkaitan Kasus Suap HGB Summarecon
Prediksi Skor Le Mans vs Toulouse: Duel Seru Tim Papan Bawah Demi Lolos Zona Degradasi
Prediksi Skor Garudayaksa vs Arema FC: Produktivitas Singo Edan Jadi Ancaman Bagi Tuan Rumah

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022