Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 9 September 2025 | 22.37 WIB

Duck Syndrome: Pura-Pura Tenang Padahal Lagi Panik, Fenomena Kesehatan Mental Gen Z

Ilustrasi duck syndrome yang banyak dialami Gen Z (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi duck syndrome yang banyak dialami Gen Z (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Pernahkah kamu berusaha tenang agar kelihatan strong, padahal aslinya sedang panik dan kewalahan?

Hati-hati, bisa jadi itu tanda kamu mengalami duck syndrome. Fenomena ini ternyata banyak dialami Gen Z, terutama siswa, mahasiswa, atau pun yang baru lulus kuliah. Yuk, cari tahu informasi lengkapnya di sini.

Apa Itu Duck Syndrome?

Melansir dari laman Ruang Guru, duck syndrome adalah kondisi ketika seseorang terlihat tenang di luar, padahal ia panik dan berjuang di dalam.

Ibarat bebek yang lagi berenang. Bebek kelihatan tenang di permukaan, padahal aslinya berusaha keras agar tetap bertahan di atas air.

Duck syndrome, menurut Medicine Net, memang tidak secara resmi masuk ke dalam penyakit mental tertentu. Tapi, jika dibiarkan, duck syndrome bisa jadi pemicu masalah mental, seperti gangguan kecemasan dan juga depresi.

Ciri-Ciri Duck Syndrome

Ciri-ciri duck syndrome yang mungkin tanpa disadari sering dialami Gen Z adalah:

• Selalu merasa diawasi orang lain.
• Panik atau ngerasa gagal kalau nggak bisa memenuhi ekspektasi keluarga atau lingkungan.
• Ngerasa hidup orang lain lebih "beruntung".
• Memaksakan diri untuk selalu terlihat oke.
• Sering susah tidur, pusing, atau susah konsentrasi.

Jika kamu relate dengan poin-poin di atas, bisa jadi kamu sedang ada di fase duck syndrome.

Kenapa Gen Z Rentan Duck Syndrome?

Berdasarkan Medicine Net, duck syndrome paling sering muncul pada usia remaja yang mulai beranjak dewasa. Beberapa penyebabnya antara lain:

• Mulai tinggal jauh dari keluarga saat kuliah atau bekerja.
• Tuntutan akademis dan organisasi yang lebih berat dibanding SMA.
• Ekspektasi tinggi dari keluarga atau lingkungan.
• Helicopter parenting, orang tua yang terlalu ikut campur dalam kehidupan anak.
• Perfeksionisme, selalu ingin terlihat sempurna.
• Pengaruh sosial media, harus tampil sukses dan bahagia.
• Ada trauma masa lalu yang belum selesai.

Meskipun bukan termasuk diagnosis gangguan mental, duck syndrome bisa memicu masalah psikologis serius, seperti anxiety atau gangguan kecemasan, depresi, hingga masalah kepercayaan diri.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore