JawaPos.com - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menunjukkan potensi besar dalam membantu dokter meningkatkan akurasi diagnosis mereka terhadap kondisi pasien.
Berdasar laporan kontributor Forbes, Paul Hsieh, dalam bidang gastroenterologi, AI telah terbukti membantu dokter manusia mendeteksi polip kecil (adenoma) dengan lebih baik selama proses kolonoskopi.
Meskipun adenoma belum bersifat kanker, tapi berisiko berubah menjadi kanker. Dengan demikian, deteksi dini dan pengangkatan adenoma selama kolonoskopi rutin dapat mengurangi risiko pasien terkena kanker usus besar di masa depan.
Namun, seiring dengan semakin terbiasanya dokter dengan bantuan AI, apa yang terjadi ketika mereka tidak lagi memiliki akses ke dukungan AI?
Sebuah studi Eropa baru-baru ini yang berjudul "Endoscopist deskilling risk after exposure to artificial intelligence in colonoscopy: a multicentre, observational study" menunjukkan, bahwa keterampilan dokter dalam mendeteksi adenoma dapat menurun secara signifikan setelah mereka bergantung pada AI.
Para peneliti Eropa itu melacak hasil lebih dari 1.400 kolonoskopi yang dilakukan di empat pusat medis berbeda. Mereka mengukur tingkat deteksi adenoma (ADR - adenoma detection rate) untuk dokter yang bekerja secara normal tanpa AI dibandingkan dengan mereka yang menggunakan AI untuk membantu mendeteksi adenoma selama prosedur.
Mereka juga melacak ADR dokter yang telah menggunakan AI secara teratur selama tiga bulan, kemudian melanjutkan melakukan kolonoskopi tanpa bantuan AI.
Para peneliti menemukan, bahwa ADR sebelum bantuan AI adalah 28 persen dan dengan bantuan AI adalah 28,4 persen. (Ini peningkatan kecil, tetapi tidak signifikan secara statistik).
Namun, ketika dokter yang terbiasa dengan bantuan AI berhenti menggunakan AI, ADR mereka turun secara signifikan menjadi 22,4 persen. Dengan asumsi pasien dalam berbagai kelompok studi serupa secara medis.
Hal itu menunjukkan, bahwa dokter yang terbiasa dengan dukungan AI mungkin melewatkan lebih dari seperlima adenoma tanpa bantuan komputer!
Ini adalah contoh pertama yang dipublikasikan dari apa yang disebut "deskilling" atau penurunan keterampilan medis yang disebabkan oleh penggunaan rutin AI.
Para penulis studi merangkum temuan mereka, bahwa ketergantungan para klinisi pada teknologi akan berdampak kontraproduktif di masa mendatang.
"Kami berasumsi bahwa paparan terus-menerus terhadap sistem pendukung keputusan seperti AI dapat menyebabkan kecenderungan alami manusia untuk terlalu bergantung pada rekomendasi mereka, yang mengakibatkan klinisi menjadi kurang termotivasi, kurang fokus, dan kurang bertanggung jawab saat membuat keputusan kognitif tanpa bantuan AI," tulisnya.
Mereka berikan contoh analogi non-medis, misalkan teknologi mobil tanpa pengemudi berkembang hingga titik di mana mobil dapat dengan aman memutuskan kapan harus berakselerasi, mengerem, berbelok, mengganti lajur, dan menghindari rintangan tak terduga secara tiba-tiba.
"Jika kalian mengandalkan teknologi self-driving selama beberapa bulan, lalu tiba-tiba harus mengemudi tanpa bantuan AI, apakah kalian akan kehilangan sebagian keterampilan mengemudi?" tulisnya.
Meskipun penelitian khusus ini dilakukan di bidang gastroenterologi, peneliti tidak akan terkejut jika kita akhirnya mengetahui tentang penurunan keterampilan terkait AI serupa di cabang kedokteran lain, seperti radiologi.
Saat ini, radiolog tidak secara rutin menggunakan AI saat membaca mamogram untuk mendeteksi kanker payudara dini. Tetapi, ketika AI disetujui untuk penggunaan rutin, peneliti bisa membayangkan bahwa radiolog manusia bisa mengalami penurunan kinerja serupa jika mereka tiba-tiba diminta bekerja tanpa dukungan AI.
"Kami mengantisipasi lebih banyak penelitian akan dilakukan untuk menyelidiki masalah penurunan keterampilan di berbagai spesialisasi medis," bebernya.
Dokter, pembuat kebijakan, dan masyarakat umum akan ingin menanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Seiring dengan semakin rutinnya penggunaan AI, bagaimana kita melacak hasil pasien (dan tingkat kesalahan dokter) sebelum AI, setelah penggunaan AI rutin, dan kapan pun AI dihentikan?
2. Berapa lama efek penurunan keterampilan ini berlangsung? Metode apa yang dapat membantu dokter meminimalkan kehilangan keterampilan, dan/atau memulihkan keterampilan yang hilang secepat mungkin?
3. Bisakah AI diimplementasikan dalam praktik medis sedemikian rupa, sehingga meningkatkan kemampuan dokter tanpa mengurangi keterampilan mereka?
Menurut peneliti, penurunan keterampilan atau deskilling tidak selalu buruk. "Dulu guru kelas 6 SD terus-menerus mengatakan kepada kami bahwa kami perlu belajar pembagian panjang. Karena kami tidak akan selalu bergantung pada kalkulator. Tapi, karena merajalelanya ponsel pintar dan spreadsheets, kita semua sudah puluhan tahun tidak melakukan pembagian panjang dengan pensil dan kertas!," paparnya.
Para peneliti tidak melihat AI sepenuhnya menggantikan dokter manusia, setidaknya tidak untuk beberapa tahun ke depan.
Dengan demikian, komunitas teknologi dan medis akan bertanggung jawab untuk menemukan dan mengembangkan praktik terbaik yang mengoptimalkan hasil diagnosis pasien tanpa membahayakan mereka.
Ini akan menjadi salah satu dari banyak tantangan menarik dan penting yang dihadapi dokter di era AI.