Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 31 Agustus 2025 | 04.53 WIB

9 Dampak Buruk Overthinking yang Banyak Tidak Disadari bagi Kesehatan Tubuh dan Mental

Ilustrasi mengalami overthinking (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Overthinking adalah kondisi ketika seseorang terlalu banyak memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Alih-alih fokus pada solusi, pikiran justru terjebak pada masalah yang sedang dihadapi.

Menurut laman thehealthsite.com, kebiasaan ini bukan hanya mengganggu ketenangan batin, tetapi juga berdampak serius pada kesehatan secara menyeluruh.

Dilansir dari artikel abundantlifegeorgia.com, overthinking bisa mengacaukan berbagai aspek kehidupan, mulai dari kualitas tidur, hubungan sosial, pola makan, hingga gaya hidup sehari-hari. Kondisi ini membuat seseorang sulit merasa tenang karena pikiran dipenuhi hal negatif yang belum tentu terjadi.

Overthinking bisa dialami siapa saja tanpa memandang usia maupun latar belakang. Seseorang yang memiliki tingkat kecemasan tinggi lebih rentan mengalami kondisi ini.

Bahkan, dalam dunia psikologi, overthinking dikategorikan sebagai salah satu bentuk gangguan psikologis (psychological disorder) karena dapat memicu kecemasan atau anxiety yang berkelanjutan.

Kondisi ini bisa muncul di mana saja, baik di lingkungan kerja, rumah, maupun kehidupan sosial. Lingkungan yang penuh tekanan atau kritik seringkali menjadi pemicu utama. Tidak jarang, seseorang yang sedang berada di situasi tertentu akan merasa sulit keluar dari lingkaran pikiran berlebihan.

Overthinking adalah kebiasaan yang bisa merugikan karena menghambat ketenangan hidup serta mengganggu kesehatan tubuh dan mental. Apabila dibiarkan tanpa pengendalian, dampaknya bisa semakin serius.

Berikut ini macam-macam dampak buruk dari overthinking yang tidak banyak disadari.

1. Membuat Sel-Sel Otak Lelah

Terlalu banyak berpikir dapat menyebabkan sel-sel otak kelelahan sehingga sulit untuk fokus dan kehilangan kreativitas. Ketika stres berlebihan, tubuh akan memproduksi hormon kortisol dalam jumlah tinggi. Kondisi ini berpotensi merusak sel-sel otak di bagian hipokampus. Bahkan, overthinking juga bisa mengubah struktur otak sehingga seseorang rentan mengalami gangguan mood.

2. Menurunkan Performa Kerja

Kebiasaan overthinking terbukti dapat menurunkan konsentrasi dan membuat seseorang sulit fokus. Hal ini berpengaruh pada performa kerja yang menurun. Sebuah penelitian terhadap atlet menunjukkan bahwa mereka yang terbiasa berpikir berlebihan cenderung tampil kurang maksimal dibandingkan dengan yang mampu mengendalikan pikirannya, meskipun sama-sama memiliki latihan intensif.

3. Risiko Kanker Bisa Meningkat

Berpikir berlebihan yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi sistem imun tubuh. Aktivitas berlebihan pada sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal akibat stres kronis melemahkan respons kekebalan, sehingga memungkinkan perkembangan kanker tertentu terus berlanjut.

4. Mengurangi Rasa Percaya Diri

Dampak buruk overthinking yang sering kali tidak disadari adalah menurunnya kepercayaan diri. Ketika pikiran dipenuhi rasa takut akan penolakan, pandangan negatif orang lain, atau asumsi buruk yang belum tentu benar, rasa percaya diri akan terkikis. Akibatnya, seseorang bisa menjadi ragu untuk menyampaikan ide, takut memberikan respons spontan, bahkan cemas jika dinilai buruk oleh orang lain.

5. Masalah pada Jantung

Overthinking juga berdampak langsung pada kesehatan jantung. Tekanan pikiran berlebihan bisa memicu nyeri dada, jantung berdebar tidak teratur (takikardia), hingga meningkatkan risiko penyakit jantung serius dalam jangka panjang.

6. Menghambat Aktivitas Sehari-Hari

Berpikir berlebihan membuat energi terkuras karena pikiran terus bekerja tanpa henti. Tidak jarang hal ini menimbulkan gangguan tidur atau insomnia akibat anxiety dreams. Kondisi tersebut membuat tubuh kelelahan dan akhirnya menghambat aktivitas sehari-hari yang seharusnya bisa dilakukan dengan baik.

7. Perubahan pada Selera Makan

Overthinking kerap memengaruhi pola makan seseorang. Ada yang jadi makan berlebihan karena mencari distraksi dari stres, sementara sebagian lain justru kehilangan nafsu makan. Menurut penelitian Spiegel, fenomena ini disebut "makan karena cemas" atau stress eating, di mana seseorang cenderung memilih makanan yang lezat, tinggi kalori, tetapi tidak sehat.

8. Mengacaukan Emosi

Alih-alih menemukan solusi, overthinking justru membuat emosi semakin sulit dikendalikan. Seseorang bisa menjadi lebih mudah marah, panik, merasa tidak aman (insecure), atau menunjukkan perilaku yang tidak wajar. Penelitian menyebutkan bahwa tekanan emosi akibat berpikir berlebihan sering mendorong seseorang melampiaskannya dengan cara tidak sehat, seperti mengonsumsi alkohol, makanan cepat saji, atau bahkan menarik diri dari lingkungan sosial. Kondisi ini bisa berujung pada depresi.

9. Gangguan Sistem Pencernaan

Stres akibat overthinking berpengaruh pada sistem pencernaan. Beberapa gangguan yang mungkin muncul antara lain sindrom iritasi usus besar, penyakit radang usus, gangguan motilitas saluran cerna, hingga perubahan mikrobiota usus. Dalam kondisi tertentu, peningkatan sekresi asam lambung juga bisa terjadi sehingga memicu masalah lambung.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore