Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 27 Agustus 2025 | 17.15 WIB

Mengenal Perbedaan Obat Diabetes: Dari Glimepiride, Metformin, Dapagliflozin, Acarbose, Pioglitazone, hingga Empagliflozin

Ilustrasi kadar gula darah tinggi pada penderita diabetes. (Freepik) - Image

Ilustrasi kadar gula darah tinggi pada penderita diabetes. (Freepik)

JawaPos.com – Diabetes melitus adalah salah satu penyakit kronis yang jumlah penderitanya terus meningkat di Indonesia. Pengelolaan diabetes bukan hanya soal pola makan dan gaya hidup sehat, tetapi juga membutuhkan obat-obatan tertentu untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil.

Namun, tahukah Anda? Obat diabetes ternyata punya mekanisme kerja berbeda-beda, waktu minum yang tidak sama, dan tentu saja efek samping yang harus diwaspadai.

Dokter akan menyesuaikan pilihan obat dengan kondisi pasien: usia, berat badan, fungsi ginjal-hati, hingga ada tidaknya penyakit penyerta seperti jantung. Berikut penjelasan mengenai beberapa obat diabetes yang umum diresepkan dokter dirangkum dari berbagai sumber.

1. Glimepiride

Glimepiride termasuk golongan sulfonilurea. Obat ini bekerja dengan cara merangsang pankreas agar mengeluarkan insulin lebih banyak. Karena mekanismenya langsung meningkatkan kadar insulin, obat ini biasanya diminum sebelum makan pagi.

Tujuannya, insulin yang keluar bisa segera membantu tubuh mengolah gula dari makanan. Bila dikonsumsi tanpa makan, risiko hipoglikemia (gula darah turun drastis) bisa meningkat.

2. Metformin

Metformin termasuk golongan biguanid. Berbeda dengan glimepiride, metformin tidak memicu produksi insulin, tetapi mengurangi produksi gula di hati sekaligus meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin.

Obat ini sangat populer, bahkan sering jadi pilihan pertama terapi diabetes tipe 2. Karena dapat menimbulkan efek samping di saluran cerna seperti mual atau diare, metformin dianjurkan diminum sesudah makan.

Ada juga versi XR (extended release) merupakan bentuk pelepasan lambat dari metformin. Efeknya sama, namun lebih ramah untuk lambung dan bisa diminum cukup 1 kali sehari, biasanya sesudah makan malam. Dengan pelepasan bertahap, kadar obat dalam darah lebih stabil dan risiko efek samping pencernaan lebih rendah.

3. Dapagliflozin

Dapagliflozin termasuk golongan SGLT2 inhibitor. Cara kerjanya unik: membuang kelebihan gula melalui urin. Efek tambahannya, pasien bisa mengalami penurunan berat badan dan terlindungi dari risiko gagal jantung maupun gangguan ginjal.

Dapagliflozin tidak tergantung pada waktu makan, sehingga bisa diminum kapan saja. Namun, pasien harus waspada terhadap risiko infeksi saluran kemih atau jamur di area genital karena tingginya kadar gula dalam urin.

4. Acarbose

Acarbose bekerja di saluran cerna dengan menghambat enzim pemecah karbohidrat. Akibatnya, penyerapan gula berlangsung lebih lambat sehingga lonjakan gula darah setelah makan bisa dicegah.

Karena itu, acarbose harus diminum bersamaan dengan suapan pertama makanan. Jika diminum setelah makan, efeknya berkurang karena gula sudah telanjur diserap tubuh.

5. Pioglitazone

Pioglitazone termasuk golongan thiazolidinedione (TZD). Obat ini meningkatkan sensitivitas sel tubuh terhadap insulin, sehingga gula lebih mudah masuk ke dalam sel.

Pioglitazone bisa diminum sebelum atau sesudah makan, fleksibel. Namun, dokter biasanya berhati-hati karena obat ini dapat menyebabkan berat badan naik, bengkak, dan berisiko memperburuk gagal jantung pada pasien tertentu.

6. Empagliflozin

Sama dengan dapagliflozin, empagliflozin juga golongan SGLT2 inhibitor. Fungsinya membuang gula lewat urin, sekaligus memberi manfaat tambahan untuk melindungi jantung dan ginjal.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore