Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 26 Agustus 2025 | 04.12 WIB

Kenali Duck Syndrome dan Cara Mengatasinya agar Kesehatan Mental Mahasiswa Tetap Terjaga

Ilustrasi duck syndrome (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Di lingkungan kampus yang penuh dengan tuntutan prestasi, fenomena duck syndrome semakin banyak dirasakan oleh mahasiswa yang berusaha tampil tenang, padahal sesungguhnya sedang berjuang keras secara mental.

Kondisi ini bukan hanya soal beban akademik, melainkan tekanan untuk selalu produktif, aktif di organisasi, magang, lomba, hingga menjaga citra di media sosial. Akibatnya, kelelahan emosional kerap disembunyikan di balik senyum dan capaian semu.

Memahami Fenomena Duck Syndrome

Sebagaimana dilansir dari laman feb.ugm.ac.id, mahasiswa yang mengalami duck syndrome tampak tenang di permukaan, seperti bebek yang terlihat santai, namun kaki mereka mengayuh panik demi menjaga agar tetap mengapung.

Fenomena ini dijelaskan secara gamblang oleh psikolog FEB UGM, Anisa Yuliandri, yang menyatakan, "Mahasiswa cenderung ingin tampil serba bisa, serba kuat, dan serba produktif. Tapi sayangnya, di balik semua itu, banyak yang merasa lelah dan kewalahan, namun tidak selalu mengetahui cara tepat untuk mengatasinya."

Di sisi lain, Alodokter juga menyoroti bahwa duck syndrome terjadi ketika seseorang berusaha menutupi keterpurukan emosinya agar tetap terlihat baik-baik saja di hadapan orang lain. Dijelaskan bahwa kondisi ini bisa membuat penderitanya stres berat karena takut dianggap lemah jika menampilkan bahwa mereka sedang kewalahan.

Tanda-Tanda dan Dampak Negatif

Mahasiswa yang terkena duck syndrome sering menunjukkan tanda-tanda seperti rendahnya self-esteem dan kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Kondisi ini diperparah karena mereka takut sekali dinilai gagal, sehingga memendam kesulitan yang sebenarnya sangat membutuhkan perhatian dan bantuan.

Selain itu, duck syndrome bisa memicu gejala psikologis yang lebih serius seperti kecemasan berlebihan, burnout, hingga depresi jika dibiarkan. Fenomena ini berbahaya bila terus dipendam sendiri tanpa mencari jalan keluar.

Media sosial turut memperkuat self-esteem yang rentan ini karena mahasiswa sering melihat unggahan teman mereka yang "selalu tampak bahagia dan sukses." Fokus pada pencapaian eksternal membuat mereka merasa tertinggal dan harus terus mengejar standar yang tidak realistis.

Akibatnya, banyak mahasiswa mulai menarik diri secara sosial karena merasa tidak cukup "baik" atau kuat jika harus terbuka tentang perjuangannya. Padahal, yang mereka butuhkan justru bukan kritik, melainkan ruang untuk didengar dan diterima apa adanya.

Cara Mengatasi Duck Syndrome

Untuk mengatasi kondisi ini, salah satu langkah penting adalah jujur pada diri sendiri, bahwa merasa lelah bukanlah kelemahan, melainkan sinyal untuk memberi perhatian lebih pada kesehatan mental. Seperti yang disarankan pada laman FEB UGM, "It's okay to not be okay. Kita tidak harus selalu produktif atau terlihat bahagia."

Selain itu, mahasiswa didorong untuk mengelola ekspektasinya sendiri, daripada terpaku pada apa yang dianggap harus dicapai orang lain. Belajar berkata "tidak" tanpa rasa bersalah adalah bentuk perlawanan sehat terhadap tekanan sosial.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore