Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 22 April 2023 | 21.24 WIB

Pakar Sebut Monitoring Covid-19 Harus Jalan saat Transisi Menuju Endemi

Ilustrasi Covid-19. Dok. JawaPos - Image

Ilustrasi Covid-19. Dok. JawaPos

JawaPos.com–Pakar kesehatan dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Syamsul Arifin mengatakan, monitoring dan pengamatan terhadap kondisi penularan Covid-19 harus terus dijalankan di masa transisi menuju endemi.

”Seiring optimisme untuk segera dicabutnya status pandemi menjadi endemi, pemerintah tetap tidak boleh lengah terhadap wabah penyakit global ini,” kata Syamsul Arifin seperti dilansir dari Antara di Banjarbaru, Sabtu (22/4).

Menurut Syamsul, meski status pandemi telah dicabut, sejatinya masyarakat belum sepenuhnya bebas dari risiko kemunculan turunan Covid-19. Adapun risiko yang harus terus diwaspadai munculnya virus varian baru dari Covid-19. Sebab, berdasar pengalaman penyebarannya sangat cepat antar negara sebagai dampak mudahnya transportasi sekarang.

Oleh karena itu, kata dia, sebagai upaya antisipasi dan kewaspadaan seyogianya penerapan protokol kesehatan minimal penggunaan masker harus tetap disosialisasikan. Terutama untuk orang yang berada pada kerumunan dan keramaian aktivitas masyarakat.

Kemudian dalam gedung atau ruangan tertutup dan sempit serta apabila memiliki gejala penyakit pernapasan seperti batuk, pilek, dan bersin.

Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran ULM itu menegaskan, pandemi Covid-19 merupakan masalah global yang harus ditangani secara menyeluruh sebagai penyakit komunal yang penyebarannya sangat mudah seiring mobilitas masyarakat. Oleh karena itu, tidak bisa penanganannya hanya optimal pada daerah tertentu saja, namun harus menyeluruh dan serempak di seluruh wilayah Indonesia bahkan dunia.

”Jika terdapat kesenjangan, maka upaya yang telah dilakukan pada suatu daerah menjadi kurang efektif mengingat mobilitas masyarakat yang cukup tinggi ditambah penyakit ini sering bermutasi,” papar Syamsul Arifin.

Dia menambahkan, pemulihan yang tidak sinkron ditambah perbedaan signifikan dari ketersediaan dan kepatuhan masyarakat untuk vaksinasi menimbulkan ancaman besar bagi pemulihan secara nasional maupun global. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya itu menyatakan, merujuk secara epidemiologis Covid-19 akan berubah menjadi endemi tatkala tingkat penularan terkendali dan telah terbentuk kekebalan kelompok di tengah masyarakat.

”Itu bisa terwujud melalui program vaksinasi,” ujar Syamsul Arifin.

Dia menambahkan, jika terjadi konsistensi penurunan jumlah kasus terkonfirmasi hingga angka kematian sudah jauh mengalami penurunan signifikan. Serta vaksinasi lengkap telah mencapai cakupan untuk membentuk kekebalan komunitas yaitu minimal 70 persen, status pandemi di Indonesia sudah bisa dicabut.

”Namun kedaruratan pandemi secara global yang telah berlaku selama tiga tahun terakhir masih menunggu keputusan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang memiliki kewenangan pula untuk mencabutnya,” ucap Syamsul Arifin.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore