Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 28 Juni 2024 | 22.28 WIB

Si Kecil Sulit Fokus dan Hiperaktif? Simak Tanda Gejala Perilaku ADHD pada Anak Menurut Penjelasan Dokter

Ilustrasi anak yang sulit fokus, Salah satu gejala gangguan ADHD. (Freepik) - Image

Ilustrasi anak yang sulit fokus, Salah satu gejala gangguan ADHD. (Freepik)

JawaPos.com - Apakah anak Anda sering sulit diatur untuk sekadar duduk diam sejenak, mendengarkan dengan saksama, atau menyelesaikan tugas-tugas sederhana? Mungkin Anda bertanya-tanya apakah ini hanya perilaku anak-anak yang umum atau ada sesuatu yang perlu diperhatikan. Ketika anak mengalami kesulitan untuk fokus dan menunjukkan perilaku hiperaktif yang berlebihan, bisa jadi mereka mengalami yang dikenal sebagai Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

ADHD bukan sekadar perilaku aktif biasa, ini adalah gangguan perkembangan saraf yang membutuhkan perhatian khusus. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), sebuah gangguan perkembangan yang dapat mempengaruhi kemampuan anak untuk berkonsentrasi dan mengontrol perilaku.

ADHD tidak sebatas tentang anak yang hiperaktif alias tidak bisa diam atau sulit fokus karena mudah teralihkan perhatiannya. ADHD sering dimulai pada masa kanak-kanak dan dapat bertahan sampai dewasa. Gangguan ini dapat berdampak luas pada kehidupan sehari-hari, mulai dari prestasi akademik hingga hubungan sosial, mulai dari dapat menyebabkan rendah diri, hubungan sosial yang bermasalah, dan kesulitan di sekolah atau dalam pekerjaan.

Dilansir dari kanal YouTUbe Kata Dokter, pada Kamis (27/6), dr. Lahargo Kembaren, SP.KJ menjelaskan bahwa Attention Deficit and Hyperactivity Disorder atau gangguan hiperaktivitas dan pemusatan perhatian merupakan suatu gangguan perkembangan pada anak, biasanya terjadi sebelum umur 12 tahun. Kita bisa melihat gejala-gejala ADHD ini dalam dua situasi: di rumah dan di sekolah atau di tempat kerja, baru kita bisa simpulkan yang bersangkutan memang mengalami ADHD.

Dr. Lahargo juga menjabarkan apa yang jadi pemicu Si Kecil bisa mengalami gangguan ADHD, berikut adalah kemungkinan tiga faktor penyebabnya:

1. Faktor biologi atau genetik.
2. Pengaruh dari selama masa dalam kandungan, jika ibu yang sedang hamil mengalami infeksi, penyakit tertentu, atau asupan nutrisi yang kurang, atau bahkan trauma kepala seperti benturan, jatuh, atau kecelakaan juga bisa mempengaruhi tumbuh kembang Anak saat sudah lahir.
3. Berbagai pengalaman psikologis yang negatif juga dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, seperti misalnya masalah keluarga, orang tua yang sering ribut, atau perceraian.

Gejala ADHD terbagi menjadi dua kelompok: in atensi dan hiperaktivitas serta impulsivitas. Pada inatensi, penderita sulit fokus pada detail, tidak bisa mengerjakan tugas-tugas rumit atau membutuhkan waktu lama untuk berkonsentrasi, sering kehilangan barang, dan seringkali tidak memperhatikan apa yang diterangkan oleh gurunya atau orang tuanya.

Pada hiperaktivitas dan impulsivitas, penderita tidak bisa diam, sering lari-larian, naik kursi atau meja, sering menyela pembicaraan, dan bergerak terus-menerus seperti memiliki banyak energi. Hal tersebut bisa menyebabkan konflik dengan teman, guru, atau keluarga.

Dilansir dari kanal YouTube Dr.Lucky TV, dr. Lucky Yogasatria selaku dokter spesialis anak menjelaskan bahwa terdapat perbedaan yang harus dipahami antara Anak yang memang aktif atau mengidap ADHD karena semua anak pasti pernah mengalami kesulitan untuk fokus, mendengarkan, dan duduk diam. Tetapi, untuk anak dengan ADHD, kesulitan ini lebih sering terjadi dan lebih parah, sehingga mengganggu keseharian mereka. Hal berikut Inilah 6 tanda Anak yang menderita gangguan ADHD, yang membedakan antara ADHD dan anak yang aktif:

1. Anak dengan ADHD sering bertindak tanpa berpikir panjang, seperti menyela pembicaraan, merebut mainan, dan sulit menunggu giliran.
2. Mereka tidak bisa diam dan mudah bosan, sering berlari-larian, melompat, dan gelisah.
3. Sulit fokus, sehingga mereka sering tidak menyelesaikan tugas, melewatkan detail penting, atau terus menerus berbicara.
4. Sering bengong, melamun, dan tidak fokus dengan apa yang terjadi di sekitarnya.
5. Pelupa berat, sering lupa mengerjakan PR, tugas rumah, atau meletakkan barang.
6. Mudah marah, sering tantrum, dan emosinya meledak-ledak.

Dr. Lucky menjabarkan bahwa tanda-tanda ADHD ini bisa berubah seiring dengan usia anak. Pada usia pra-sekolah, mungkin terlihat normal sebagaimana anak aktif yang lainnya. Jika ADHD pada anak tidak ditangani, pada orang dewasa tanda-tanda ADHD bisa menjadi tidak terlalu terlihat tetapi tetap mengganggu, seperti sulit merencanakan, mudah stres, mudah lupa, dan berlaku impulsif.

Dr. Lahargo juga menerangkan bahwa ADHD bisa terjadi pada usia dewasa atau adult ADHD, Gejalanya kurang lebih sama: sulit fokus, sering lupa, dan hiperaktif, sehingga pekerjaan tidak terselesaikan dengan optimal. ADHD pada masa anak dan remaja bisa berlanjut sampai dewasa, sehingga orang dewasa juga bisa mengalami gejala-gejala ADHD.

Lantas, bagaimana cara penanganan yang tepat dalam mengatasi tanda gejala gangguan ADHD ini? Dr. Lucky menyarankan jika Anda melihat tanda-tanda ADHD pada anak Anda, hal pertama yang dapat Anda lakukan adalah jangan panik. Lalu, jangan melakukan diagnosis sendiri. Segera konsultasikan ke profesional, seperti dokter spesialis anak atau psikolog anak, untuk mendapatkan diagnosis dan mendiskusikan pilihan treatment yang tepat. ADHD bukan kutukan atau akhir dunia bagi anak.

Dr. Lahargo juga menjelaskan cara penanganan ADHD yang terbagi menjadi dua kelompok: pemberian obat-obatan atau farmakologi dan terapi non-farmakologi. Obat-obatan yang digunakan misalnya psycho stimulant seperti metilfenidat, yang membantu penderita lebih fokus dan tidak hiperaktif. Obat lain seperti mood stabilizer, antipsikotik, atau antidepresan juga bisa diperlukan.

Terapi non-farmakologi seperti terapi perilaku atau behavior therapy penting untuk melatih perilaku baru yang lebih positif. Terapi lain yang bermanfaat adalah neurofeedback, di mana gelombang otak anak diukur dan diseimbangkan menggunakan alat khusus untuk membantu fokus dan konsentrasi. Dengan penanganan tepat, anak dengan ADHD bisa hidup normal dan berprestasi. Contohnya adalah superstar seperti Justin Timberlake, Adam Levine, Will Smith, Jamie Oliver, Michael Jordan, dan Michael Phelps. Mereka semua memiliki ADHD dan sukses dalam bidangnya masing-masing.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore