
Kratom menjadi tumpuan baru dan besar bagi masyarakat Kalbar. Bukan hanya mengambilnya dari hutan, mereka juga sudah menanam atau membudidayakan.
JawaPos.com - Di salah satu meja, pemuda itu langsung menuangkan minuman dari teko ke dalam gelas kosong. Mungkin setelah melihat Pontianak Post celingak-celinguk mencari tempat di warung kopi di pojokan Terminal Kedamin, Kabuputen Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, itu.
Pada Sabtu malam beberapa bulan lalu itu, kedai tersebut ramai. Dan, seperti di semua tempat serupa di Kapuas Hulu, racikan daun purik atau kratom disajikan bebas dalam bentuk minuman.
Di atas masing-masing meja di kedai tersebut terdapat dua teko ukuran besar dan kecil lengkap dengan alat penyaring. Masih terlihat asap mengepul keluar dari mulut sebagian teko-teko tersebut, menandakan minuman dari racikan daun purik baru saja disajikan.
’’Enak aja, Bang, buat santai kayak gini. Nggak ada efeknya. Di sini banyak yang suka meskipun yang nggak suka juga ada,” kata pemuda yang lainnya lagi kepada Pontianak Post.
Jadi, bagaimana sebenarnya rasa minuman daun purik itu? Ternyata rasanya pahit bercampur lekat di lidah. Hampir bikin muntah.
’’Rasanya memang pahit, tapi lama-lama juga terbiasa,” kata pemuda yang pertama menawari Pontianak Post tadi.
Menurutnya, untuk menghilangkan rasa pahit, racikan purik bisa dicampur dengan bahan-bahan lain. Misalnya, madu, bisa juga minuman suplemen, bahkan obat pereda batuk.
Bagi sebagian warga di Kapuas Hulu, minuman racikan daun purik dianggap sebagai terapi atau obat untuk penyakit tertentu. ’’Sejak minum ini (purik), saya sudah tidak lagi minum arak. Malahan kalau bau arak, saya muntah. Jadi, ini kayak terapi,” timpal pengunjung kedai yang lainnya lagi yang mengenalkan diri sebagai Andika.
Andika mengaku sudah setahun ini mengonsumsi daun purik. Tapi, dia mengingatkan, minum purik tidak boleh sembarangan. Ada aturan tak tertulis yang tidak boleh dilanggar.
Misalnya, saat minum purik, perut tidak boleh dalam kondisi kosong atau lapar. Sebab, bisa mengakibatkan mag. Di samping itu, juga tidak disarankan bagai penderita darah rendah.
’’Karena purik ini justru bagus untuk penderita darah tinggi,” jelasnya.
Selain itu, kata Andika, mengonsumsi purik tidak boleh melebihi dosis. Sebab, bisa menimbulkan banyak efek samping. Seperti mual dan kejang atau bahkan mabuk dengan kondisi badan gemetar.
Minuman racikan purik di kedai pojokan terminal itu dijual dengan berbagai ukuran. Satu teko besar dijual dengan harga Rp 30 ribu. Sedangkan teko sedang seharga Rp 20 ribu.
Cara penyajiannya pun sangat gampang. Seperti menyeduh teh. ’’Kalau teko ukuran besar, biasanya delapan sendok makan (racikan daun purik). Yang kecil tiga sendok,” kata Putri, si penjaga kedai. (arf/tyo/c6/ttg)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
