
Ilustrasi Mie instan (Freepik/Kamran Aydinov)
JawaPos.com – Mie instan merupakan pilihan makanan yang populer bagi sebagian besar kalangan. Selain rasanya yang lezat, mie instan sangat digemari oleh banyak individu karena mudah disiapkan, waktu memasak yang cepat, dan memiliki umur simpan yang relatif lama.
Meski mie instan menawarkan kemudahan dalam penyajiannya, mie instan juga mengandung tingkat garam, lemak, dan kalori yang tinggi, serta penggunaan bahan pengawet yang dapat menjadi perhatian bagi kesehatan.
Di Indonesia, mie instan sering dikonsumsi dengan nasi. Kombinasi ini cenderung tak sehat dan berisiko menimbulkan berbagai macam masalah kesehatan. Ini yang akan terjadi pada tubuh anda, jika terlalu sering mengonsumsi mie instan dibarengi dengan nasi.
1. Kelebihan karbohidrat
Mengonsumsi mie instan dengan nasi secara bersamaan akan membuat perut terasa sangat kenyang. Meski begitu, rasa kenyang tak akan bertahan lama, sehingga memicu timbulnya rasa lapar yang sangat cepat.
Hal ini dikarenakan adanya kelebihan karbohidrat dalam tubuh sehingga nutrisi lain tidak terpenuhi, seperti kekurangan protein, lemak baik, vitamin, mineral, hingga serat.
Rasa lapar yang cepat muncul sebagai respons tubuh untuk memperoleh sumber nutrisi yang lebih seimbang. Lebih lanjut, kelebihan karbohidrat juga akan membuat daya tahan tubuh lemah sehingga lebih mudah terserang penyakit.
2. Meningkatkan hormon insulin
Mengonsumsi mie instan dengan nasi secara bersamaan dapat mengakibatkan banyaknya kalori yang masuk ke dalam tubuh. Hal ini sangat disayangkan, apabila kalori yang berlebihan hanya berasal dari nasi dan juga mie instan.
Alangkah lebih baik jika kalori yang masuk ke dalam tubuh berasal dari berbagai elemen makanan seperti nasi, sayur-sayuran, lauk pauk, buah-buahan, dan lain sebagainya. Kalori yang berasal dari tingginya karbohidrat akan dicerna menjadi gula sehingga hormon insulin akan meningkat. Hormon insulin berperan dalam menciptakan energi dalam tubuh kita.
Ketika gula dalam tubuh hanya diperoleh dari sumber karbohidrat semata, hormon dalam tubuh akan terbebani dan kesulitan dalam mencerna kadar gula secara optimal, sehingga dapat menimbulkan diabetes.
3. Memicu kerusakan hati
Apabila asupan karbohidrat tinggi, tubuh akan mengubahnya menjadi zat lain untuk keperluan tertentu. Misalnya, jika kekurangan lemak, karbohidrat akan diubah menjadi lemak. Proses ini terjadi di hati sebagai bagian dari sistem pencernaan.
Jika lemak yang dihasilkan adalah lemak baik, tidak ada masalah. Namun, jika yang dihasilkan adalah lemak jahat, hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada organ hati.
4. Memicu perut buncit

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
